Umumnya, itik dikenal lebih kebal terhadap penyakit dibandingkan dengan ayam. Gejala yang ditimbulkan juga tidak terlalu parah. Namun, sifat itik yang lebih tahan banting dibandingkan ayam membuat banyak peternak itik mengabaikan vaksinasi untuk penyakit ND atau Tetelo pada itik. Celakanya, virus ND dari itik yang tidak tervaksin dapat membawa berbagai genotipe dan patotipe. Hal inilah yang membuat virus ND masih tersebar di lingkungan dan menimbulkan risiko wabah penyakit.

Newcastle disease (ND) atau Tetelo dengan sifatnya yang menular dan fatal pada unggas masih menjadikan penyakit ini sebagai salah satu momok di dunia peternakan unggas, tak terkecuali pada peternakan unggas air, seperti bebek atau itik.

Sekilas mengenai virus ND
Newcastle Disease atau penyakit Tetelo disebabkan oleh avian paramyxovirus serotipe 1 (AMPV-1). Virus ND pertama kali ditemukan di pulau Jawa pada tahun 1926 dan di Newcastle-upon-Tyne, Inggris, pada tahun 1927, hingga kemudian menyebar ke seluruh dunia. Terkenal menyerang lebih dari 240 spesies unggas, virus yang tersebar di seluruh dunia ini memiliki tingkat morbiditas dan mortalitas yang dapat mencapai 100%. Bahayanya, penyakit ini termasuk penyakit endemis di Indonesia dengan mutasi virus yang terus-menerus terjadi.
Penyakit viral ini bersifat akut, sangat menular, serta fatal dan menyerang banyak spesies unggas, khususnya ayam, yang ditandai dengan kerusakan organ saluran pernafasan, saluran pencernaan, dan sistem saraf pusat. Gejala yang khas dari penyakit ini adalah tortikolis yang ditandai dengan sayap terkulai serta leher yang terpuntir ke belakang.Masa inkubasi virus ND bervariasi berdasarkan virulensi strain, umumnya sekitar 2 hingga 15.
Strain velogenik memiliki masa inkubasi sekitar 2 hingga 6 hari, sedangkan masa inkubasi beberapa strain virus ND yang avirulen adalah 25 hari. Patogenesis dari virus ini dimulai dengan virus yang bereplikasi pada mukosa saluran respirasi atas dan saluran intestinal yang mana kemudian virus menghambat sekresi IFN (interferon) yang merupakan pertahanan pertama akan virus.
Terhambatnya sekresi IFN menyebabkan fungsi antiviralnya terhambat, sehingga virus dengan mudah menyebar via darah, yang disebut dengan viremia, ke limpa dan sumsum tulang menyebabkan dan infeksi pada berbagai organ lain, seperti paru, usus, hingga sistem saraf pusat. Beberapa perubahan patologi anatomi yang dapat ditemukan pada kasus ND adalah perdarahan pada proventriculus, perdarahan dan nekrosis sekal tonsil, nekrosis duodenum, serta perdarahan otak.
Virulensi virus ND
Virus ND memiliki beberapa protein, yakni protein F, HN, M, N, P, dan L. Akan tetapi, ada dua protein yang penting, yakni HN dan F. Protein HN memiliki fungsi mengikat reseptor, mengaglutinasi eritrosit, memiliki aktivitas neuraminidase, menentukan virulensi atau keganasan virus, hingga mampu membentuk antibodi netralisasi. Sedangkan protein F berperan dalam fusi sel, menentukan virulensi virus, cleavage site, juga membentuk antibodi netralisasi.
Strain virus ND dibagi menjadi tiga berdasarkan patogenisitas pada ayam yang diukur dengan indeks patogenisitas intraserebral dan waktu kematian rata-rata, yakni sangat virulen (velogenik), cukup virulen (mesogenik), dan avirulen (lentogenik). Strain velogenik memiliki mortalitas mencapai 100%. Sedangkan strain mesogenik menyebabkan infeksi saluran pernapasan dengan mortalitas kurang dari 10%. Strain lentogenik menyebabkan infeksi subklinik serta gejala pada sistem pernapasan dan pencernaan yang ringan.
Strain velogenik dibagi lagi menjadi dua jenis, yakni viscerotropic dan neurotropic. Virus ND strain velogenik viscerotropic menyebabkan lesi hemoragi lethal organ visceral, sedangkan strain velogenik neurotropic menyebabkan gangguan neurologik dan respirasi. Dengan berbagai gangguan yang diakibatkannya, tak heran jika virus ND terkenal membawa dampak yang buruk dan dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang besar bagi industri perunggasan.
Selain virulensi, virus ND juga terbagi atas dua kelas berdasarkan analisis filogenetiknya, yakni kelas I dan II. Kelas I terbagi menjadi sembilan genotipe yang sebagian besar terdiri dari virus ND yang avirulen. Sedangkan kelas II terdiri dari 21 genotip dan biasa menyerang unggas komersial, burung, dan kalkun, serta bersifat virulen dan avirulen.
Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya wabah ND atau tetelo adalah kepekaan hospes, patotipe virus, reservoir atau pembawa, biosekuriti yang buruk, faktor lingkungan, adanya infeksi lain, dan juga faktor musim. Kepekaan hos terdiri dari spesies, umur, serta status imun dan vaksinasi, sedangkan patotipe virus terdiri dari virulensi virus dan dosisnya.
Faktor lingkungan, seperti stres, kepadatan kandang, kadar amoniak, suhu, dan kelembapan juga berperan dalam terjadinya suatu penyakit. Ditambah dengan penerapan biosekuriti kandang yang buruk, adanya infeksi lain yang bersifat imunosupresif, dan musim, seperti penghujan dan pancaroba, tak heran jika wabah tetelo masih terjadi.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Kesehatan pada majalah Poultry Indonesia edisi April 2023. Baca selengkapnya pada majalah Poultry Indonesia edisi April 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com