Meskipun dampaknya tidak sejelas penyakit akibat virus dan bakteri, namun bahaya laten dari penyakit parasit tetap menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan. Oleh karena itu, diperlukan strategi pencegahan dan penanganan yang tepat di lapangan.
Apabila melihat dampak yang ditimbulkan, memang penyakit parasit pada ayam tak senyata dampak yang diakibatkan, seperti penyakit yang disebabkan oleh virus maupun bakteri. Selain itu, bisa dikatakan parasit juga bukan penyebab utama kematian pada ayam di kandang. Namun demikian, potensi kerugian ekonomi yang ditimbulkannya tak bisa diremehkan. Pasalnya bahaya laten yang mengintai jauh lebih merugikan secara ekonomi, karena keberadaan parasit dapat menggerus performa produksi dan membuyarkan imunitas ayam, sehingga akan lebih rentan terserang berbagai penyakit.
Secara sederhana, parasit merupakan organisme yang hidupnya “menumpang” di dalam atau di luar organisme lain (host/induk) dan bersifat merugikan organisme induknya. Ketika menumpang pada organisme induknya, parasit dapat ikut makan dan menjadi pesaing dalam perebutan makanan dengan induk serta menimbulkan kerusakan pada tubuh unggas sebagai hasil dari proses pencarian makanan atau siklus perkembangbiakannya. Selain itu parasit juga dapat menimbulkan gangguan yang menghasilkan stres, serta dapat berperan sebagai pembawa penyakit tertentu yang membahayakan organisme induknya.
Endoparasit dan ektoparasit
Gangguan kesehatan akibat parasit dapat disebabkan oleh endoparasit dan ektoparasit. Endoparasit merupakan parasit yang hidup dalam organ tubuh inangnya. Di mana Eimeria penyebab penyakit Koksidiosis, menjadi salah satu jenis endoparasit yang acapkali menjadi momok bagi peternak. Selain itu endoparasit lainnya yang juga seringkali kasusnya ditemukan di lapangan adalah protozoa Leucocytozoon caulleryi penyebab leucocytozoonosis atau malaria–like pada unggas dan Plasmodium sp. penyebab plasmodiosis yang juga disebut malaria pada unggas.
Berbeda dengan endoparasit yang menempel pada induknya, ektoparasit merupakan parasit yang hidup di luar atau permukaan tubuh induk/host, di kulit, dan tidak memasuki bagian dalam tubuh induk. Parasit jenis ini bisa sebagai pengganggu dengan cara menurunkan produksi dan sebagai vektor penyakit pada unggas. Dalam hal ini, ektoparasit yang merupakan vektor suatu penyakit adalah yang paling berbahaya. Sebagai contoh, nyamuk Anopheles sp. merupakan vektor biologis dari Plasmodium penyebab malaria pada unggas, sedangkan nyamuk Culicoides merupakan vektor Leucocytozoon. Selain itu, kumbang atau kutu frengki juga merupakan vektor biologis dari bakteri Salmonella, sehingga ayam yang tidak sengaja memakan kumbang ini akan terserang Salmonellosis.
Ragam kasus penyakit di lapangan
Berdasarkan data yang telah dirangkum oleh tim Technical Education and Consultation Medion, penyakit parasit baik endoparasit dan ektoparasit masih ditemukan setiap tahunnya. Di mana tren penyakit parasit unggas dari tahun-tahun sebelumnya pada ayam pedaging atau ayam petelur didominasi oleh endoparasit.
Masih dari sumber yang sama, menyebutkan bahwa serangan parasit pada ayam dapat ditemukan kasusnya sepanjang tahun, dengan akumulasi kasus lebih dominan terjadi di musim penghujan dan pancaroba (pergantian cuaca) (lihat Grafik 1). Pada ayam pedaging kasus parasit yang sering terjadi adalah Koksidiosis akibat protozoa Eimeria sp. Sedangkan, kasus ektoparasit di ayam pedaging tidak terlalu banyak terjadi (Grafik 2). Kondisi berbeda terlihat pada ayam petelur, di mana kasus cacingan masih mendominasi tinggi yang paling sering terjadi. Kemudian, terjadi peningkatan kasus ektoparasit (investasi kutu) di ayam petelur dari tahun-tahun sebelumnya










