SHS menjadi tantangan serius bagi peternak ayam ras. Di mana SHS dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan. Pencegahan melalui biosekuriti dan vaksinasi, serta penanganan infeksi sekunder yang tepat adalah kunci dalam mengendalikan penyakit ini.

Penyakit pernapasan masih menjadi momok dalam usaha budi daya ayam ras. Pasalnya penyakit ini menjadi tantangan yang hampir pasti dialami oleh setiap peternak dan seringkali memberi dampak kerugian ekonomi yang cukup besar. Serangan penyakit pernapasan muncul tidak mengenal musim, di mana bergantung pada mikroorganisme penyebabnya, sehingga dapat menyerang ayam di semua umur dan dapat bersifat akut maupun kronik. Beberapa faktor seperti kondisi lingkungan kandang, status antibodi ternak hingga manajemen biosekuriti memiliki andil dalam manifestasi terjangkitnya penyakit ini.

Salah satu penyakit pernapasan yang cukup membuat resah peternak ayam ras adalah Swollen Head Syndrome (SHS) atau sindrom yang menyebabkan kepala membesar. SHS merupakan penyakit viral yang sangat menular pada ayam yang ditandai dengan kebengkakan pada daerah kepala, menimbulkan gejala pernapasan dan turunnya produksi telur. Penyebab utama kasus ini adalah avian pneumovirus (APV). Namun, kejadian ini juga seringkali diawali dan disertai dengan adanya infeksi bakteri E. coli. Oleh karena itu, SHS disebut sebagai penyakit multifaktorial.

SHS pertama kali ditemukan di Afrika Selatan dan menyerang saluran pernapasan bagian atas kalkun. Penyakit ini terdiri dari grup A dan grup B yang keduanya mampu menyerang ayam dan kalkun. Biasanya SHS menyerang layer di masa mencapai puncak produksi sekitar 8 – 12 minggu sehingga penurunan produksi telur dapat mencapai 30% tanpa memperlihatkan perubahan bentuk dan kualitas telur.

Disisi lain, kematian dari ayam petelur yang terserang SHS sangat rendah, berkisar 0,1% – 0,5%, namun kerugian ekonomis yang cukup tinggi disebabkan oleh adanya gangguan produksi telur antara 5–30%. Sedangkan pada broiler infeksi terjadi di umur 3–4 minggu atau menjelang panen. SHS diketahui memiliki kesamaan dengan penyakit IBD yaitu bersifat imunosupresif. Di mana penyakit pernapasan yang bersifat imunosupresif akan memicu timbulnya infeksi pernapasan yang disebabkan oleh mikroorganisme lainnya sehingga tingkat kesakitannya semakin kompleks.

Penularan, gejala dan diagnosis

Penularan SHS dapat terjadi baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung, SHS ditularkan melalui sekresi hidung dan trakea dari unggas sakit ke unggas sehat (hewan peka) dengan status antibodi yang mulai menurun. Secara tidak langsung, SHS ditularkan melalui kelengkapan kandang, petugas atau anak kandang, pakan dan minum yang tercemar oleh virus tersebut. Penularan secara vertikal dan juga melalui udara dimungkinkan terjadi sebagai penyebab munculnya penyakit ini. Namun penularan secara vertikal melalui telur belum pernah dilaporkan, meskipun virus dapat terdeteksi pada sistem reproduksi unggas.

Infeksi virus ini menyebabkan cairan radang untuk mengeluarkan material-material virus yang menginfeksi. Namun cairan radang ini mengakibatkan ketidaknyamanan bagi ayam dan juga merupakan tempat perkembangbiakan bagi bakteri penginfeksi sekunder dan hal ini dapat memperparah gejala penyakit. Serangan SHS dapat terjadi di berbagai kondisi. Namun, penyakit ini hampir selalu diawali dengan adanya imunosupresi yang kemudian memicu infeksi agen penyakit yang menyerang saluran pernapasan. Gejala klinisnya ditandai dengan bersin, batuk, rales (suara nafas abnormal seperti ngorok), dan konjungtivitis. Sekresi air mata berlebih dan peradangan pada konjungtiva ditemukan pada kasus ini.

Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Kesehatan pada majalah Poultry Indonesia edisi September 2024. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi September 2024, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com