Indonesia telah melarang penggunaan AGP sejak tahun 2018
POULTRYINDONESIA–Jakarta, Kunci keberlanjutan industri perunggasan bukan semata bergantung pada tingkat produktivitasnya, namun juga jaminan keamanan produk yang dihasilkan. Banyak hal yang harus diperhatikan untuk mewujudkan keamanan pangan produk asal unggas, tak terkecuali pemberian pakan saat proses budi daya.
Melihat hal tersebut, Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (PINSAR) Indonesia bekerja sama dengan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Nusa Tenggara Timur menggelar pelatihan formulasi pakan unggas tanpa antibiotic growth promoter (AGP) secara daring melalui Zoom, Rabu (8/9).
Baca juga : Prebiotika sebagai Alternatif AGP
Sebagai keynote speaker, hadir Agus Sunanto, Direktur Pakan, Dirjen PKH yang menyampaikan terkait arah kebijakan pakan nasional yang mengacu kepada 2 hal, yakni feed security (Menjamin ketersediaan pakan) dan feed safety (jaminan mutu dan keamanan pakan). Dalam kesempatan ini, dirinya juga menyinggung terkait pelarangan penggunaan AGP di Indonesia yang mulai diberlakukan sejak 1 Januari 2018. Menurutnya, pemerintah telah melakukan berbagai sosialisasi masif sejak tahun 2017 hingga saat ini dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan terkait.
“Kebijakan tanpa implementasi tidak ada manfaatnya, dan kami menyadari tidak mungkin bisa berjalan sendiri. Untuk itu, mari semua pemangku kepentingan bisa bekerja sama untuk membangun pakan kita agar aman AGP dan tersedia sepanjang waktu,” tegasnya.
Agus menambahkan bahwa pemerintah juga telah menyiapkan langkah strategis antisipasi pelarangan AGP, seperti penggunaan feed additive lain ( probiotik, prebiotik, enzim dll), penerapan biosekuriti 3 zona, peningkatan kualitas pakan serta pemilihan DOC yang berkualitas dan bersertifikat.
Pada kesempatan yang sama, Wira Wisnu, Director of Nutricell Pacific dalam materinya menyampaikan bahwa sebenarnya pemakaian medicated feed itu diperbolehkan, namun ada tata cara pembuatan, pemberian dan aturan yang harus dipahami.
Lebih lanjut, Wira menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan untuk mewujudkan pakan bebas AGP, seperti kualitas lingkungan dan air, kepadatan kandang hingga ukuran partikel dan struktur serat pakan.
“Selain itu juga harus diperhatikan manajemen fungsi liver dan usus dimana sebagai pusat detoksifikasi dan penyerapan nutrisi pada unggas,” terangnya.
Wira melanjutkan bahwa kadar pH dalam Gastrointestinal Track (GIT) juga harus diperhatikan untuk menjaga keseimbangan mikroba. Dirinya mempersilakan penambahan probiotik, prebiotik ataupun sinbiotik apabila memang diperlukan.