POULTRYINDONESIA, Tangerang — Berangkat dari komitmennya untuk membantu peternak, De Heus menggelar seminar mengenai optimalisasi performa broiler di tengah krisis iklim pada pameran ILDEX Indonesia 2022 yang diselenggarakan di ICE BSD, Rabu (9/11).
Dalam materinya, Jan van den Brink, selaku International Senior Poultry Specialist, mengatakan bahwa untuk membuat ayam nyaman di dalam kandang ada faktor yang harus diperhatikan, yaitu kontrol microclimate pada kandang. “Kontrol microclimate pada kandang broiler meliputi kontrol temperatur, kelembapan, kecepatan angin, dan pembasmian gas berbahaya,” jelasnya.
Jan mengatakan bahwa anggapan iklim di Indonesia yang selalu panas tidak betul. Ia menemukan perbedaan temperatur yang sangat signifikan pada siang dan malam hari. Dirinya mengatakan bahwa pada siang hari, suhu dampat mencapai angka 35°C dan malam 17°C. Jan juga menemukan fakta saat musim hujan, perbedaan temperatur dalam waktu setengah jam saja bisa mencapai 10°C.
“Kami banyak menerima komplain di musim hujan. Biasanya seputar penyakit pernapasan. Banyak peternak yang menganggap hal jni disebabkan oleh kelembapan saja. Jawabannya adalah tidak. Penyakit ini biasanya terjadi karena adanya perbedaan temperatur. Kita tidak bisa mengubah kondisi di luar, akan tetapi kita bisa lakukan adaptasi sistem ventilasi yang baik,” jelasnya.
Baca Juga: ILDEX Indonesia 2022 Resmi Dibuka, Ratusan Peserta dari 25 Negara Turut Ikut Serta
Menurut Jan, cuaca di Indonesia yang tidak bisa ditebak dan kelembapannya yang berbeda-beda setiap tahunnya mengharuskan kita untuk pintar mengatur sistem pemeliharaan. Walaupun suhu di luar berbeda, kita sebagai peternak tentu menginginkan suhu di dalam kandang tetap sama, terutama untuk broiler dengan kebutuhan yang berbeda.
“Jika ayam kedinginan atau kepanasan, maka pasti FCR akan bermasalah. Nah, agar FCR bagus dan pertumbuhannya optimal, usahakan ayam berada pada zona nyaman atau optimum, yakni sekitar 6-8°C.
Namun, menurutnya, suhu di Indonesia paling rendah adalah 10°C, sehingga ayam kurang nyaman. Perbandingan kelembapannya juga berbeda dimana pada siang hari kelembapan ada di angka 63%, sedangkan di malam hari, kelembapan mencapai angka 93%.
“Di Indonesia, kebanyakan masih menggunakan tunnel ventilation. Ventilasi seperti ini agak sulit untuk mendapatkan iklim yang konstan. Side mode ventilation dapat menjadi jawabannya karena memiliki keunggulan seperti keseragaman temperatur dan penyebaran panas yang merata,”
Jan mengatakan bahwa kombinasi antara side mode ventilation dan tunnel ventilation merupakan solusi terbaik untuk broiler di Indonesia. Pada kesimpulannya, ia mengatakan bahwa investasi pada kontrol microclimate merupakan investasi yang baik.