Mikotoksin, ancaman tersembunyi dalam pakan ayam, diam-diam menurunkan performa ternak dan memicu penyakit sekunder. Langkah pencegahan ketat, deteksi akurat, dan kesadaran peternak menjadi kunci melindungi ayam sekaligus keamanan pangan.
Bagi sebagian peternak, kata mikotoksin mungkin terdengar seperti istilah asing yang jauh dari keseharian. Namun, sesungguhnya ini adalah “hantu” yang sering menghantui kandang ayam di Indonesia. Mikotoksin merupakan racun metabolit sekunder yang dihasilkan oleh jamur seperti Aspergillus, Penicillium, dan Fusarium. Jamur-jamur ini tumbuh dengan mudah pada bahan baku pakan, terutama jagung, yang menjadi sumber energi utama dalam ransum ayam.
Untuk memahami lebih lanjut mengenai Mikotoksin, Poultry Indonesia mewawancarai Talitha Rifda Nur Nabila selaku Forelady Quality Control di PT Charoen Pokphand Indonesia secara tertulis pada Senin, (1/9). Menurutnya, efek yang ditimbulkan dari infeksi mikotoksin bukan main-main. Mikotoksin dapat menyerang hati (hepatotoksik), ginjal (nefrotoksik), menekan sistem kekebalan tubuh (imunosupresi), bahkan menurunkan performa ayam secara signifikan. 
“Masalahnya, dampak ini sering kali tidak terlihat secara langsung. Banyak peternak baru sadar adanya mikotoksin setelah performa ayam tidak sesuai target. FCR naik, bobot tidak tercapai, dan vaksinasi tidak efektif padahal penyebabnya bisa jadi mikotoksin yang bersembunyi di dalam pakan”.
Indonesia, Surga Jamur Penyebab Mikotoksin
Banyak peternak sering bertanya mengapa mikotoksin begitu sulit dikendalikan di Indonesia? Menurut Talitha, jawabannya sangat sederhana yaitu karena iklim. Negara tropis dengan suhu hangat dan kelembapan tinggi adalah kondisi ideal bagi pertumbuhan jamur. 
“Indonesia dengan iklim tropis ini ibaratnya sedang menyediakan rumah yang nyaman bagi jamur untuk berkembang biak, makannya cukup sulit untuk mengendalikan mikotoksin,” ujar Talitha.
Selain faktor alam, ada pula masalah teknis di lapangan. Proses pengeringan jagung yang tidak optimal membuat kadar air sering kali di atas 14%, padahal ambang batas aman hanya 13–14%. Gudang penyimpanan yang minim ventilasi, rantai pasok yang panjang, serta distribusi yang tidak merata di silo juga memperburuk keadaan. 
“Belum lagi keberadaan masked mycotoxin, yaitu bentuk mikotoksin tersembunyi yang tidak mudah terdeteksi. Ini bikin pusing, kita merasa sudah aman tapi ternyata ayam tetap menunjukan gejala infeksi, jadi keberadaannya tidak mudah dideteksi tapi tetap berbahaya,” tambahnya.
Fakta di Lapangan, Mikotoksin Hampir Selalu Ada
Masih dalam kesempatan yang sama, Talitha berbagi ilmunya mengenai penelitian yang menunjukkan bahwa mikotoksin bukan sekadar potensi masalah, tapi sudah nyata ada di hampir setiap lapisan industri. Sebuah survei di feedmill Bogor menemukan aflatoksin hampir selalu hadir dalam sampel jagung dan pakan. Penelitian lain di peternakan layer di Jawa mengungkapkan bahwa 96% sampel mengandung lebih dari satu jenis mikotoksin.
“Bayangkan, hampir semua sampel positif. Jadi kalau peternak merasa aman-aman saja, kemungkinan besar bukan karena mikotoksin tidak ada dalam peternakan mereka tetapi karena mereka belum melakukan uji yang tepat,” kata Talitha.
Jenis mikotoksin yang paling sering dilaporkan di Indonesia adalah aflatoksin, diikuti fumonisin dan deoxynivalenol. Ada pula zearalenone and ochratoxin A, meskipun jumlahnya lebih fluktuatif. Setiap jenis punya karakteristik sendiri, namun dampaknya sama-sama merugikan.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Kesehatan pada majalah Poultry Indonesia edisi September 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi September 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com