Suasana acara Bincang Cikole
POULTRYINDONESIA – Jakarta, Dalam rangka meningkatkan wawasan dan pengetahuan kaum milenial di bidang peternakan agar sukses dalam bisnis ternak ayam ras pedaging yang berbasis koperasi dan kerakyatan, Balai Pelatihan Peternakan dan Ketahanan Pangan Cikole Lembang (BPPKP Cikole) mengadakan Bincang Cikole yang bekerja sama dengan Koperasi Peternak Milenial, PT. Mitra Berlian Unggas, dan De Heus, Jumat (10/12).
Baca juga : Laporan Realisasi KUR Peternakan Akhir 2021
Dalam sambutannya, Pantjawadi Djuharnoko selaku Kepala BPPKP Cikole Lembang mengatakan bahwa program ini ditujukan untuk mendukung kebijakan pembangunan nasional di bidang pertanian, terutama pemenuhan kebutuhan protein hewani dan ketahanan pangan bagi masyarakat.
“Bincang Cikole ini diadakan dalam rangka mendukung kebijakan pemerintah provinsi Jawa Barat dalam mencapai visi Jawa Barat Juara Lahir Batin melalui kolaborasi dan inovasi. Acara ini juga dilakukan dalam mewujudkan peningkatan produktivitas dan daya saing ekonomi umat yang sejahtera dan adil melalui pemanfaatan teknologi dan kolaborasi dengan pusat-pusat inovasi pelaku pembangunan,” jelasnya.
Acara ini juga dihadiri oleh Jafar Ismail, selaku Kadis DKPP Jawa Barat. Dalam pemaparannya, Jafar menjelaskan bahwa produksi ayam pedaging di Jawa Barat bisa dibilang potensial.
“Berdasarkan data statistik, kurang lebih produksi Nasional kita ada di angka 800 ribu ton dan kurang lebih 26% produksinya dari Jawa Barat. Jadi, produksi di Jawa Barat bisa dibilang sangat besar,” ungkapnya.
Jafar kemudian mengatakan pada saat pandemi ada 3 sektor yang perkembangnya positif, yaitu sektor Informasi dan Teknologi (IT), sektor kesehatan, dan sektor pertanian.
“Sektor pertanian ini primer. Maka, bisnis di bidang peternakan merupakan suatu bisnis yang tidak terlalu terdampak disrupsi. Baik sedang krisis atau tidak, sedang pandemi atau tidak, bidang peternakan tetap dibutuhkan karena kebutuhan pangan harus dipenuhi. Kita bisa menunda membeli rumah dan mobil, namun kita tidak bisa menunda makan,” imbuhnya.
Lebih lanjut lagi, Jafar mengungkapkan bahwa saat ini, kesadaran manusia dengan makanannya semakin meningkat dan unggas, khususnya ayam, merupakan salah satu sumber protein yang relatif murah jika dibandingkan dengan sumber protein lainnya. Kemudahan ayam untuk didapatkan dan banyaknya produk olahan asal ayam menjadikannya bisnis yang sangat menjanjikan.
Senada dengan Jafar, Teguh Nugraha selaku Direktur PT. Mitra Berlian Unggas juga mengatakan hal yang sama mengenai potensi bisnis ayam ras pedaging di Indonesia. Menurut Teguh, unggas merupakan komoditi yang nilai ekonominya tinggi dan konsumsinya cukup besar di Indonesia. Ketika ditanya mengenai awal mula berbisnis unggas, Teguh mengatakan bahwa dirinya mencoba mulai saat masih di bangku kuliah.
“Yang namanya memulai bisnis, tantangannya pasti banyak. Justru lebih banyak gagalnya dibanding berhasilnya. Makanya saya sendiri sempat ragu, tapi saya pikir saya masih muda dan belum banyak tanggungan, sehingga sayang jika tidak mengambil risiko. Dulu saya belum terlalu banyak kebutuhan, jadi saya manfaatkan keadaan tersebut dengan mengambil risiko dan meskipun jalannya tidak semulus yang dibayangkan, tetapi kita bisa bertahan sampai di kondisi saat ini,” ujarnya.
Mengenai bisnisnya sendiri, Teguh mengatakan bahwa dalam kondisi pandemi, ia belajar bahwa konsumen membutuhkan barang dengan harga yang murah. Menurut Teguh, untuk menciptakan harga yang murah, maka produsen harus melakukan efisiensi produksi, salah satunya dengan menciptakan kandang yang baik. Sehingga, perkembangan bisnis ayam ras pedaging ke arah closed house.
“Kami mulai mencoba memodifikasi pemasaran dan memulai kerja sama dengan start-up. Dengan meningkatnya perekonomian kita, pendidikan makin tinggi, maka perhatian masyarakat terhadap food safety semakin meningkat. Fokus kami adalah peningkatan kualitas produk. Jadi, ke depannya kami mulai menggandeng partner untuk bagaimana caranya kita menghadapi fluktuasi harga dengan baik. Harapannya, kami memiliki pangsa pasar yang akan kami bentuk sesuai dengan kebutuhan,” jelasnya.
Baca juga : Gopan Menggelar Refleksi Perunggasan 2021
Nurul Ikhwan, selaku Ketua Koperasi Peternak Milenial Jawa Barat menjelaskan awal mula didirikannya koperasi peternak. “Kami berpikir bahwa kami harus bisa menantang diri kami sendiri, sehingga kami memutuskan untuk berkelompok. Pandemi Covid-19 ini sangat luar biasa dampaknya, sehingga kami memutuskan untuk berkelompok dan memiliki badan hukum. Mayoritas anggota koperasi kami berasal dari ayam ras pedaging, sekitar 70%. Ada juga yang konsen di sapi perah. Sehingga, koperasi ini seperti reuni,” jelas pria yang akrab disapa Kang Iwang.
Iwang menjelaskan manfaat bergabung dengan koperasi berupa penekanan angka kos produksi dengan efisiensi kandang.
“Teman-teman yang bergabung dalam koperasi dan kandangnya masih open house, terbuka, dan tradisional, HPP-nya tinggi dan tidak bisa hidup. Maka, dari situ bersama dengan DKPP Jawa Barat, kami mencanangkan revitalisasi kandang yang terdampak. Contohnya, di Sumedang, kami coba selamatkan dan sekaligus jadi prototipe, kami ubah kandangnya dari open ke semi closed. Selain itu, populasinya kami tingkatkan,” ungkapnya.
Bagus Pekik selaku Head of Poultry Value Chain De Heus Indonesia mengatakan bahwa arti kata dari milenial sebenarnya bukanlah anak muda, melainkan cara berpikir.
“Milenial ini sebenarnya adalah bagaimana teman-teman bisa memanfaatkan teknologi yang ada untuk mengembangkan bisnisnya,” terangnya.
Menurut Bagus, bisnis ayam merupakan bisnis yang rentan terhadap harga karena cukup fluktuatif, sehingga dibutuhkan manajemen yang baik.
“Bisnis ayam dianggap masih kotor, padahal jika fokus dan manajemennya benar dan efisien, dibandingkan dengan bisnis lain di agro, bisnis ayam ini luar biasa menjanjikan. Bayangkan, 21 hari sudah menjadi uang. Bisnis mana yang putarannya secepat itu?” pungkasnya.