POULTRYINDONESIA, Bogor – Dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya konsumsi protein unggas dalam mendukung kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, Masyarakat Ilmu Perunggasan Indonesia (MIPI) menggelar Seminar Nasional yang berjudul “Bersama MIPI Kita Tingkatkan Kualitas Masyarakat Indonesia dengan Mengonsumsi Protein Asal Unggas” pada Kamis, (16/1) di IPB International Convention Center, Bogor. Dalam acara yang dihadiri oleh berbagai pakar perunggasan ini, juga dilaksanakan Rapat Umum Anggota (RUA) sebagai forum pembacaan laporan pertanggungjawaban pengurus lama, serta pemilihan Ketua atau Presiden MIPI untuk kepengurusan baru.  
Dalam sambutannya, Prof. Arnold P Sinurat selaku President MIPI membuka seminar ini dengan menekankan bahwa MIPI adalah cabang dari WPSA (World Poultry Science Association) di Indonesia yang memiliki visi untuk menjadi organisasi professional yang mampu berperan aktif dalam perunggasan nasional yang sangat relevan untuk diterapkan saat ini.
“Melalui seminar ini, MIPI berupaya untuk meningkatkan kualitas SDM bidang perunggasan, berbagi ilmu pengetahuan agar terjadi peningkatan produktivitas perunggasan yang efisien dan menghasilkan produk yang berkualitas,” ujar Arnold.
Baca juga : Berbagai Upaya Peningkatan Penyerapan Pakan dibahas Oleh MIPI
Dalam materinya, Dr. Nasril Surbakti., PhD selaku VP Feed Technology PT Charoen Pokphand Indonesia menyampaikan bahwa produksi unggas relatif lebih ramah lingkungan jika dibandingkan dengan produksi komoditas ternak lain. Ini karena efisiensi konversi pakan pada unggas lebih tinggi sehingga menghasilkan emisi yang lebih rendah.
“Pada broiler, penurunan kadar protein kasar terbukti mengurangi ekskresi nitrogen yang berpotensi mencemari lingkungan. Selain itu, nitrogen tidak memberikan dampak negative pada produksi dan kualitas telur, justru bisa menekan biaya produksi.”
Selanjutnya, Eng. Allah Nawaz selaku Global Business Development Head Poulta Inc. memaparkan pematerian kedua yang menekankan pentingnya peran teknologi dalam industri perunggasan, teknologi seperti AI, Computer Vision, Big Data Analysis, dan IoT adalah beberapa contoh teknologi yang bisa diterapkan untuk mempermudah budi daya unggas.
“Dengan penggunaan teknologi dalam kandang closed house, pemantauan dapat sangat mudah dilakukan, baik itu pemantauan lingkungan, biosekuriti, kesehatan unggas, dan tingkah laku hewan. Hasil pemantauan juga dapat langsung disimpan dalam big data yang nantinya bisa digunakan untuk membuat keputusan secara cepat dan tepat”.
Baca juga : Inisiasi MIPI dalam Mengatasi Gejolak Industri Perunggasan
Adapun Dr. Maria Ulfah, S.Pt., MSc.Agr selaku Ketua MIPI Komda Jabar, DKI Jakarta dan Banten menyampaikan materi mengenai peran MIPI dalam mengatasi stunting di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa untuk menyelesaikan permasalahan stunting itu tidak bisa dilakukan sendiri, perlu ada sinergi antara masyarakat, pemerintah, media, akademisi dan juga industri untuk sama sama menurunkan angka stunting.
“Beberapa upaya sudah dilakukan MIPI untuk turut menurunkan angka stunting, diantaranya adalah membuat program pelatihan tentang variasi menu MPASI yang mudah dan murah dalam penyediaannya. Lalu metode karakterisasi air minum yang dikonsumsi anak beresiko stunting dan keluarganya, hingga program peningkatan kapasitas orang tua untuk menciptakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan tarap hidup”.
Masih dalam forum yang sama, Gilang Ade selaku Manager Supply Chain di PT So Good (Jafpa Food) menegaskan pentingnya diversifikasi pengolahan produk unggas untuk memenuhi konsumsi protein masyarakat dan bagaimana pentingnya proses pendistribusian agar produk diterima konsumen dalam keadaan segar.
“Dengan diversifikasi, kita memperluas pilihan konsumen, berbagai jenis produk seperti nuget, sosis, baso, abon pada dasarnya adalah olahan makanan yang berbahan dasar unggas. Ini bisa menjadi solusi bagi konsumen yang ingin variasi dalam pola makan mereka. Bagi industri pun diversifikasi juga membantu mengurangi limbah karena semua kita memanfaatkan semua bagian dari unggas untuk membuat produk olahan”.