POULTRYINDONESIA, Tangerang – Peternakan itik sudah berkembang sejak lama di Indonesia. Sebab, telur dan daging itik memiliki cita rasa yang sangat khas. Dari sisi statistik, populasi itik memang tidak ada lonjakan yang berarti. Tetapi, ada sinyal yang mencerahkan ketika melihat perkembangan kuliner yang berbasis produk itik di Indonesia.
Beranjak dari hal tersebut, Masyarakat Ilmu Perunggasan Indonesia (MIPI) menggelar seminar yang membahas mengenai bisnis itik di Indonesia. Seminar ini dihelat pada pameran ILDEX Indonesia 2022 di Indonesia Convention Exhibition (ICE BSD), Tangerang, Jumat (11/11).
Dalam sambutannya, Chutaemil Marom selaku Wakil Ketua MIPI mengatakan, pelaksanaan seminar ini digelar dalam rangka pencapaian tujuan yang digariskan dalam visi MIPI. Untuk mencapai visinya, ia menghimbau setiap anggota MIPI untuk selalu berusaha meningkatkan ilmu pengetahuan, keterampilan, serta pengertian tentang kondisi perunggasan nasional, khususnya ialah itik.
“Seminar hari ini dibuat dengan tema ‘Cuan Menjanjikan di Bisnis Unggas Air’. Hal ini berangkat dari kondisi perunggasan di dalam negeri saat ini. Seminar hari ini merupakan rangkaian kegiatan sebagai persiapan untuk menjalankan konferensi unggas air dunia, World Water Conference, yang diselenggarakan di ICE BSD pada tanggal 20-22 September 2023,” kata Emil.
Pemateri perdana, Peter Shearer selaku Founder Wahyoo mengatakan, terdapat beberapa tantangan yang dirasakan oleh pelaku usaha kuliner. Diantaranya adalah perolehan bahan baku dan terkait pemasaran produk kuliner. Menurutnya, kehadiran platform online yang berbasis digital mampu menjawab tantangan tersebut.
“UMKM kuliner ini tantangannya berada di penyediaan supply, karena terlalu ribet ketika pelaku usaha kuliner harus berbelanja bahan bakunya dini hari. Kemudian terkait masalah pemasaran, dimana masih banyak pelaku usaha kuliner yang kesulitan untuk mengembangkan pasarnya. Oleh sebab itu Wahyoo hadir sebagai enabler industri makanan dan minuman berbasis teknologi yang menyediakan jaringan distribusi dan jaringan penjualan,” ucap Peter.
Kemudian, Kepala Seksi Ternak Unggas Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak Kementerian Pertanian, Iqbal Alim dalam kesempatannya mengatakan bahwa itik merupakan salah satu jenis unggas air yang unik. Tekstur dan cita rasa dagingnya mempunyai daya tarik tersendiri yang pastinya berbeda dengan daging unggas lainnya. Akan tetapi, ia mengungkapkan bahwa produksi itik nasional masih minim dan sangat berpotensi jika ingin ditingkatkan lagi.
Baca Juga: Dies Natalis ke-53 Fapet UGM: Menjadi 10 Terbaik Perguruan Tinggi Bidang Peternakan di Negara Tropis Tahun 2035
“Berdasarkan data Statistik Peternakan Tahun 2021 populasi itik di Indonesia sebanyak 50,3 juta ekor dengan produksi daging sebanyak 38.790-ton atau 0,81% dari produksi daging nasional, sedangkan produksi telur itik sebanyak 329,6 ribu ton atau 5,56% dari produksi telur nasional,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Iqbal menyampaikan bahwa Indonesia kaya akan sumber daya genetik termasuk berbagai jenis itik lokal asli maupun itik pendatang yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Setidaknya terdapat 17 galur itik yang telah ditetapkan oleh Menteri Pertanian. Selain itu, dalam proses pengembangan galur itik, Kementerian Pertanian melalui Direktorat Peternakan dan Kesehatan Hewan telah menyediakan bibit itik unggul yang menjadi produksi terbanyak.
“Dalam rangka memenuhi penyediaan bibit itik yang berkualitas, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan melalui BPTU-HPT Pelaihari telah menyediakan bibit itik unggul dengan jumlah produksi DOD sebanyak 730.922 per tahun dengan rumpun itik yang dikembangkan yaitu Itik Alabio, Itik Mojosari dan Itik PMp,” tutur Iqbal.
Managing Director of Phalosari Unggul Jaya, Octadella Bilytha Permatasari, dalam presentasinya yang membahas mengenai potensi RPHU itik mengatakan, industri unggas air masih seksi. Ada beberapa faktor yang memengaruhi seperti perkembangan itik hibrida yang memiliki harga terjangkau dan terdapat larangan impor karkas itik sejak 2017.
“Peran krusial RPHU modern skala industri adalah sebagai penyeimbang supply dan demand, serta menjadi buffer ketika kondisi pasar sedang tidak stabil. Ditambah lagi, peluang ekspor karkas itik ke wilayah Timur Tengah masih terbuka lebar,” terang wanita yang akrab disapa Della tersebut.
Masih dalam acara yang sama, Renaldy Anggada dari PT Putra Perkasa Genetika mengatakan untuk menghasilkan kualitas, kapasitas dan performa yang maksimal, ia di bawah bendera PPG berkomitmen dalam mengedepankan fasilitas yang didukung oleh tenaga ahli.
“Saat ini penetasan PPG mampu mencapai 203 juta butir telur per tahun dengan tingkat keberhasilan sebanyak 92 persen setiap produksinya,” ucap Renaldy.