Broiler yang dipelihara dalam kandang closed house
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Berbicara mengenai media sosial, dewasa kini, akses terhadap informasi sangat dipermudah dengan kehadiran sambungan internet dan ponsel pintar. Berbagai informasi tersebut disajikan pada kanal berita, blog, maupun sosial media ruang untuk masyarakat memberikan dan mendapatkan informasi pun semakin terbuka lebar. Sayangnya, dengan semakin terbuka lebarnya kesempatan masyarakat untuk menjangkau informasi, hal tersebut belum disertai dengan adanya jaminan validasi dari informasi yang ditampilkan di dunia maya tersebut. Sehingga, seringkali masyarakat masih terjebak pada konsep yang keliru.
Produk asal unggas baik daging maupun telur sudah lama mendapatkan stigma yang miring di mata masyarakat tentang pengaruhnya terhadap kesehatan. Masyarakat masih berkutat dengan mitos yang ada seputar produk unggas tersebut sehingga timbul rasa keengganan untuk mengonsumsinya secara cukup. Padahal produk perunggasan merupakan sumber protein yang ketersediaannya tinggi dan tergolong murah dibandingkan sumber protein hewani yang lain.
Ketika diwawancarai oleh Poultry Indonesia melalui sambungan telepon, Rabu (6/5), drh. Dedy Kusumanagandi, MBA selaku anggota dari Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia (ADHPI) mengatakan bahwa walaupun masyarakat sudah mengetahui bahwa produk unggas seperti daging ayam dan telur merupakan produk yang murah, aman, dan bergizi, tapi di sisi lain, masih ada yang percaya mengenai penggunaan hormon pada budi daya ayam.
Menyikapi lebih lanjut setelah beredarnya video hoax mengenai daging ayam, Dr. drh. I Ketut Diarmita, MP selaku Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Kementerian Pertanian, menegaskan bahwa berita mengenai ayam yang disuntik hormon tersebut adalah hoax. Ketut menegaskan kembali bahwa penggunaan hormon bagi hewan konsumsi dilarang berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Pemerintah juga mengatur dan mengawasi tata cara budi daya yang baik dalam sistem budi daya ternak, termasuk broiler.
Ketut menambahkan dalam siaran pers Ditjen PKH bahwa cepatnya pertumbuhan broiler saat ini disebabkan oleh adanya seleksi genetik yang dilakukan dalam waktu yang panjang pada broiler agar tumbuh cepat disertai dengan pemeliharaan yang spesifik, terukur, dan disiplin. Termasuk dalam hal pemberian pakan dan kontrol kesehatan ayam yang diatur ketat dalam sistem pemeliharaanya.
Baca Juga: Kementan Ajak Masyarakat Berperan dalam Keamanan Pangan Asal Hewan
Tak ketinggalan, telur pun ikut terkena hoax. Beberapa waktu lalu juga sempat beredar video mengenai telur palsu dan telur plastik. Musbar Mesdi selaku Presiden Peternak Layer Nasional (PLN) mengatakan bahwa ia kerap kali mendengar tentang pemberitaan yang tidak benar mengenai telur. Musbar mengatakan bahwa dugaan yang dilakukan pihak yang tidak bertanggung jawab tersebut adalah salah besar dan cenderung mengebiri para peternak. Dugaan mengenai adanya plastik dalam telur tersebut sebenarnya akibat dari penyimpanan telur yang terlalu lama, sehingga membran dalam dan luar sel telur terlepas dari kerabangnya (cangkangnya).
Menangkal hoax dengan edukasi
Sebagai upaya mencegah terjadinya penyebaran berita bohong mengenai produk asal unggas tersebut, Kementerian Pertanian (Kementan) bekerja sama dengan Kominfo serta Masyarakat Anti Fitnah dan Hoax (Mafindo) untuk menangkal hoax yang beredar. Berkaitan dengan berita hoax mengenai daging ayam tersebut, pihak Kementan telah melaporkannya pada kementerian maupun lembaga tersebut untuk dimasukan sebagai daftar informasi hoax agar dapat ditindak lebih lanjut.
Langkah untuk menangkal hoax juga dilakukan oleh AQSI dan ADHPI. Upaya yang dilakukan AQSI untuk melawan hoax yaitu dengan melakukan edukasi melalui publikasi poster seputar produk unggas yang ASUH melalui media sosial. Serupa dengan AQSI, ADHPI juga berupaya untuk mengedukasi masyarakat melalui video mengenai tata cara budi daya ayam petelur maupun broiler. Dedy mengatakan bahwa pembuatan video tersebut sudah direncanakan dan disetujui oleh berbagai pihak, namun saat ini terkendala oleh adanya pandemi COVID-19. Ia berharap dengan video tersebut dapat membuka mata masyarakat bahwa produk unggas yang dihasilkan sudah memenuhi kriteria ASUH.
Keamanan produk unggas saat ini
Saat diwawancarai oleh Poultry Indonesia melalui sambungan telepon, Selasa (28/4), drh. Imron Suandy, MVPH selaku Kepala Sub Direktorat Pengawasan Keamanan Produk, Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner (Ditkesmavet), Kementerian Pertanian menyatakan bahwa dari base line yang ditetapkan oleh Ditkesmavet saat ini keamanan produk unggas sudah memenuhi setidaknya 95% syarat dari keamanan pangan.
Kementerian Pertanian melalui Ditkesmavet bersama dengan laboratorium unit pelaksana teknis di daerah dalam hal ini melakukan monitoring secara berkala setiap tahunnya untuk memeriksa residu maupun cemaran mikroba pada produk pangan asal hewan. Imron mengatakan bahwa setidaknya ada 5.000 sampel yang diperiksa dengan delapan kategori unit sampling, di antaranya Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU), gudang pendingin (cold storage), peternak, pengumpul, dan pengecer telur. Pengujian tersebut menggunakan paramter yang sudah ditetapkan oleh Ditkesmavet.
Imron menyebutkan bahwa cemaran Salmonella pada produk unggas selama tiga tahun terakhir ini tidak lebih dari 4%. Cemaran lain yang ditemukan yaitu cemaran kimiawi seperti pemakaian formalin dan adanya residu antibiotik pada karkas unggas. Imron mengaku tidak pernah mendengar akan adanya kasus pemakaian formalin pada produk unggas sejak tiga tahun yang lalu. Hal ini berbeda dengan 5-10 tahun sebelumnya ketika daging ayam yang terdeteksi memakai formalin masih berada pada angka 2%. Cemaran kimia lainnya yaitu residu antibiotik pada produk perunggasan yang disampling di seluruh Indonesia pada tahun 2018 tercatat berada diangka 2%.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Juni 2020 dengan judul ”Keamanan Pangan Produk Unggas di Mata Masyarakat”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153