POULTRYINDONESIA, Blitar – Selama ini, beredar di masyarkat sejumlah mitos yang menyerang daging dan telur ayam ras. Namun, pada kenyataannya mitos itu telah dibantah dengan rentetan fakta yang ada pada produk unggas itu sendiri. Hal ini seperti disampaikan oleh Dr. Dady Hidayat Maskar, selaku USSEC Human Protein Consultant ketika mengisi rangkaian seminar peringatan Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) dan World Egg Day (WED) 2023 yang bertema “Chicken and Egg for Better Life” yang digagas oleh PINSAR INDONESIA dan didukung oleh PKK kota Blitar dan USSEC yang berlangsung secara Hybrid di Gedung TP PKK Kota Blitar (10/10).
Menurutnya beberapa mitos yang beredar, seperti penggunaan hormon steroid dan antimikroba. Namun, pada kenyataannya sudah ada peraturan yang telah ditegakkan untuk memastikan keamanan konsumen, dimana penyuntikan hormon steroid dilarang di seluruh dunia dan residu maksimum antimikroba juga sudah ditentukan.
Mitos lain adalah ada persepsi lain bahwa ayam yang dipelihara secara umbaran dan organik mempunyai kualitas yang unggul. Namun faktanya adalah perbedaan gizi antara ayam yang dipelihara secara organik maupun anorganik ataupun umbaran dengan non umbara ternyata minim sekali.
Dan tak kalah pentingnya adalah mitos kolesterol yang ada pada telur. Dan faktanya adalah kolesterol dari konsumsi telur menunjukkan dapat meningkatkan pembentukan LDL dalam jumlah besar yang tidak berbahaya dan HDL yang dapat melawan LDL, serta partikel padat dan kecil yang berbahaya.
“Bahkan menurut studi klinis dan epidemiologis secara besar, menunjukkan bahwa untuk populasi secara umum, kolesterol dari makanan khususnya dari telur ternyata tidak menunjukkan resiko penyakit kardiovaskuler ataupun atherosklerotis,” pungkasnya.