Transisi dari sistem peternakan tradisional menuju budi daya ayam ras yang lebih modern kini tengah berlangsung secara bertahap. Namun, adopsi yang belum merata menuntut strategi dan ekosistem yang tepat.

Dalam beberapa tahun terakhir, peternakan ayam ras di Indonesia terus menunjukkan perkembangan signifikan di tengah berbagai tekanan, seperti efisiensi produksi, lingkungan tak menentu, hingga fluktuasi harga livebird. Teknologi sistem kandang dan peralatan otomatis yang lebih modern pun telah diterapkan dalam membantu peternak meningkatkan efisiensi serta mempermudah manajemen kandang.

Transisi dari sistem peternakan tradisional menuju budi daya ayam ras yang lebih modern kini tengah berlangsung secara bertahap. Di sektor broiler, banyak peternak telah beralih ke sistem tertutup (closed house) dan beragam peralatan otomatis. Sementara itu, di sektor layer, mayoritas peternak masih menggunakan sistem konvensional dan belum banyak yang telah menggunakan closed house.

Arus transformasi ini diperkirakan akan semakin cepat berkembang. Salah satunya terlihat dari pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pertanian, yang secara aktif mendorong percepatan modernisasi budi daya ayam ras, khususnya pada peternakan ayam petelur. Upaya ini bertujuan untuk memastikan pasokan telur yang cukup, higienis, dan berkualitas, sehingga menjadi salah satu pilar peningkatan daya saing industri peternakan nasional. 

Di sisi lain, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diusung pasangan Prabowo-Gibran juga menjadi salah satu dorongan mengapa modernisasi budi daya perlu dipacu. Mulai tahun 2026, pemerintah menargetkan 82,9 juta anak di Indonesia sebagai penerima program ini. Variasi sumber protein, terutama protein dari hewan, wajib masuk dalam menu MBG untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak Indonesia. Arah kebijakan ini kemudian akan mendorong permintaan kebutuhan protein hewani seperti daging ayam dan telur.

Di samping itu, konsumsi daging ayam dan telur orang Indonesia juga masih sangat jauh tertinggal jika dibandingkan dengan negara tetangga, seperti Malaysia. Baik para peternak, perusahaan pakan, penyedia saprotak, hingga stakeholders perunggasan lain sama-sama melihat bahwa konsumsi dalam negeri masih punya ruang untuk berkembang. Dan untuk mengoptimalkan pertumbuhan produksi tersebut, dibutuhkan peran teknologi modern.

Adopsi teknologi dalam peternakan ayam ras di Indonesia terlihat paling cepat terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Efisiensi usaha, dinamika lingkungan, serta perkembangan genetik ayam modern utamanya yang memicu penggunaan alat otomatis jadi marak. 

Meski begitu, adopsi ini belum merata, terutama pada peternak kecil-menengah yang menghadapi tantangan investasi, keterampilan teknis, dan keterbatasan akses. Teknologi terkini seperti sistem pemantauan berbasis IoT (Internet of Things), peralatan dengan sensor, dan platform digital untuk manajemen kandang juga masih belum banyak digunakan di kandang karena berbagai alasan. 

Modernisasi perlu dipahami bukan hanya sebagai adopsi alat, tetapi juga sebagai proses transformasi menyeluruh yang bertahap, terukur, dan didukung oleh ekosistem yang tepat. Sinergi antara pemerintah, akademisi, pelaku industri, dan lembaga pendukung menjadi sangat penting untuk membangun ekosistem yang kondusif bagi modernisasi budi daya

Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Laporan Utama pada majalah Poultry Indonesia edisi November 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi November 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com