Oleh: Tito Ari Santoso*
Gejolak pasokan dan harga soybean meal (SBM) yang mewarnai awal 2026 kembali menjadi pengingat sekaligus alarm bagi industri perunggasan nasional. Ketergantungan yang tinggi terhadap bahan baku impor membuat sektor ini sangat rentan terhadap perubahan kebijakan maupun gangguan pasokan global.
Dalam beberapa waktu terakhir, pelaku usaha perunggasan dihadapkan pada keterbatasan pasokan SBM yang diikuti lonjakan harga di tingkat peternak. Kondisi ini merupakan dampak dari perubahan kebijakan impor Bahan Baku Asal Tumbuhan (BPAT), termasuk bungkil kedelai, yang dialihkan dari skema swasta ke BUMN PT Berdikari. Wacana impor satu pintu tersebut membuat pasokan SBM sempat terasa “menghilang” dari pasar. Kalaupun tersedia, harganya melonjak hingga Rp7.800 per kilogram di tingkat peternak melalui trader, jauh di atas kisaran normal Rp7.000–7.200 per kg. Sementara itu, pembeli dengan kontrak jangka panjang relatif masih mendapatkan harga di level Rp6.000-an.
Situasi ini terjadi karena importir dan trader cenderung menahan distribusi sambil menunggu kejelasan petunjuk teknis kebijakan baru. Pemerintah kemudian merespons dengan menetapkan masa transisi selama tiga bulan (Januari–Maret 2026). Setelah kebijakan tersebut berjalan, pasokan mulai kembali mengalir, meski hingga kini kondisi harga dan ketersediaan SBM belum sepenuhnya pulih seperti sedia kala.
Bagi industri pakan, khususnya sektor layer, gangguan pada SBM menjadi persoalan serius. Dengan porsi penggunaan sekitar 18–23 persen dalam formulasi, SBM menempati posisi strategis kedua setelah jagung sebagai sumber nutrisi, terutama protein. Tingginya ketergantungan ini membuat setiap gejolak pasokan SBM langsung berdampak pada struktur biaya pakan dan berujung pada tertekannya margin usaha peternak.
Secara kebijakan, kewenangan impor bungkil kedelai melalui PT Berdikari mulai diberlakukan per 1 Januari 2026, dengan target sekitar ±5 juta ton untuk memenuhi kebutuhan pabrik pakan dan peternak mandiri. Skema ini mengharuskan pelaku usaha berkoordinasi langsung dengan PT Berdikari untuk memperoleh pasokan. Namun sejak awal, kebijakan tersebut memunculkan beragam pandangan, terutama kekhawatiran bahwa harga SBM justru akan meningkat.
Di sisi lain, masa transisi tiga bulan memberi ruang bernapas bagi feedmill serta peternak kecil dan menengah yang melakukan self-mix untuk menyesuaikan kembali formulasi pakan. Bahkan sebelum masa transisi ditetapkan, sebagian peternak yang kesulitan memperoleh SBM sudah mulai mencari bahan baku alternatif.
Penulis sendiri telah memulai uji coba sejak tahun lalu, saat harga SBM masih berada di level tinggi sebelum turun pada pertengahan tahun. Berbagai sampel bahan baku alternatif potensial mulai dievaluasi dengan tujuan menekan biaya formulasi pakan tanpa mengorbankan kualitas nutrisi.
Dalam uji coba tersebut, beberapa bahan yang dievaluasi antara lain corn gluten meal (CGM), corn gluten feed (CGF), palm kernel meal (PKM), bungkil kopra, distillers dried grains with solubles (DDGS), hingga Indigofera. Dari berbagai opsi tersebut, CGM dan PKM menjadi bahan alternatif lokal yang paling banyak dimanfaatkan belakangan ini.
Namun, meningkatnya minat terhadap sumber protein alternatif ikut mendorong kenaikan harga. CGM yang tahun lalu masih berada di bawah Rp10.000 per kg kini naik ke kisaran Rp10.500–10.800, bahkan mulai menyentuh Rp11.000 per kg, meski masih tergolong wajar. CGF justru mengalami kenaikan paling cepat dan saat ini berada di kisaran Rp4.000–4.300 per kg.











