POULTRYINDONESIA, Bogor – Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) menggelar Musyawarah Nasional (Munas) di IPB International Convention Center Bogor, pada Kamis (23/10). MUNAS yang ke-IX ini mengusung tema “Bersama ASOHI Sinergi Kuat Industri Meningkat”, dan resmi dibuka secara langsung oleh Dirjen PKH, Agung Suganda dengan gerakan simbolis memukul gong sebanyak 5 kali sebagai cerminan nasionalisme pancasila.
Ketua Umum ASOHI 2021-2025, Irawati Fari, menegaskan bahwa momen ini adalah waktu untuk membuka lembaran baru dan memastikan kelangsungan kepemimpinan ASOHI berjalan dengan baik. Di akhir masa jabatannya, ia berharap ASOHI tetap menjadi wadah yang inklusif, adaptif, dan proaktif dalam menghadapi tantangan dan dinamika di industri obat hewan ke depan.
“Mari kita terus melangkah bersama, industri kita bisa lebih kuat, lebih berdaya saing, dan memberi kontribusi nyata bagi kesehatan hewan, ketahanan pangan, dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Pada pembukaan MUNAS ini, Ira juga menyampaikan permohonan maaf atas segala kekurangan yang mungkin terjadi selama masa kepemimpinannya. Selain itu, ia juga mengucapkan terima kasih kepada panitia, sponsor, dan semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan MUNAS ke-IX ASOHI.
Sementara itu, dalam sambutan Menteri Pertanian yang diwakilkan oleh Dirjen PKH Agung Suganda, Kementan menyampaikan apresiasi kepada ASOHI atas perannya mendukung kemajuan subsektor peternakan dan kesehatan hewan nasional. Dalam satu tahun terakhir, subsektor ini mencatat pertumbuhan signifikan dengan kontribusi 15,68% terhadap PDB pertanian, serta peningkatan ekspor produk peternakan sebesar 30% secara volume dan 7,37% secara nilai, mencapai Rp15,46 triliun.
“Industri obat hewan kita saat ini sudah menembus lebih dari 95 negara, dengan nilai ekspor mencapai sekitar Rp5,5 triliun. Ini menunjukkan bahwa produk obat hewan nasional mampu bersaing di pasar global,” ujarnya.
Agung menekankan pentingnya harga obat hewan yang terjangkau bagi peternak. Ia mencontohkan, tingginya harga obat cacing Indonesia yang bisa mencapai 10 kali lipat harga obat cacing di Brazil, meskipun dengan bahan obat yang sama. Selain itu, harga di Malaysia dan Singapura juga sama-sama lebih murah, padahal populasi mereka lebih kecil dibanding Indonesia.
“Ini yang harus dipikirkan juga oleh kepengurusan yang baru. Kami juga sangat ingin harga obat hewan di Indonesia bisa terjangkau, baik yang diproduksi dalam negeri maupun yang diimpor. Dan tentu untuk mencapai ini, kewajiban-kewajiban dari mulai deportasi, pengujian, dan sebagainya, harus bisa disederhanakan agar harganya jauh lebih murah. Karena tentu saja, kalau biaya produksi (HPP) bisa ditekan, maka harga jualnya juga pasti akan lebih rendah dan kompetitif,” ucapnya.
Dalam penutupnya, Agung Suganda berharap ASOHI terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam menyediakan obat hewan berkualitas, menjadi penghubung antara industri dan regulator, serta mendorong inovasi menghadapi tantangan baru seperti digitalisasi dan isu resistensi antimikroba. Ia mengajak semua pihak untuk menjaga sinergi dan kolaborasi yang kuat demi kemajuan bersama, sekaligus mendorong transformasi industri obat hewan agar semakin kompetitif dan berdaya saing.

Di sela acara, dilaksanakan pula peluncuran buku Roadmap Pengembangan Obat Hewan Indonesia 2025-2035 yang merupakan sumbang saran dari ASOHI kepada pemerintah, sebagai panduan pengembangan industri obat hewan selama sepuluh tahun ke depan. Roadmap ini diharapkan menjadi salah satu referensi bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan untuk mendorong kemajuan sektor obat hewan menuju Indonesia maju tahun 2035.
Masih dalam forum yang sama, Sondang Anggraini selaku Tenaga Ahli Utama Dewan Ekonomi Nasional dalam materinya menyoroti kebijakan tarif yang diberlakukan oleh pemerintahan Trump dan dampaknya bagi perusahaan, terutama dalam hal kenaikan biaya produksi dan gangguan pada rantai pasok.
Ia menekankan bahwa dalam menghadapi situasi ini, perusahaan harus segera menyesuaikan strategi bisnisnya agar tetap kompetitif di pasar global yang berubah cepat. Ia juga mengajak perusahaan untuk selalu siap dengan skenario alternatif dan bersikap fleksibel menghadapi perubahan kebijakan global yang bisa terjadi kapan saja.
“Saya percaya kunci untuk bertahan di tengah kenaikan tarif ini adalah dengan diversifikasi sumber bahan baku dan pasar. Jangan bergantung hanya pada satu wilayah saja, karena risiko akan semakin besar jika kita terlalu terpaku pada satu rantai pasok. Selain itu, inovasi dalam proses produksi sangat penting agar kita bisa menekan biaya tanpa mengorbankan kualitas,” ujarnya tegas.
Menurut Sondang, meski tarif Trump memberikan tekanan tambahan, hal ini sekaligus menjadi peluang bagi perusahaan untuk memperkuat daya saingnya.
Setelah sesi pembukaan MUNAS berakhir, dilanjutkan dengan agenda utama yang terdiri dari pengesahan LPJ pengurus ASOHI 2021–2025, penyempurnaan AD/ART dan kode etik organisasi, penyusunan program kerja 2025–2029, pemilihan ketua umum ASOHI Periode 2025–2029, seta pembahasan rekomendasi dan arah kebijakan strategis organisasi. Sebagai forum tertinggi organisasi, MUNAS IX dihadiri oleh pengurus pusat, pengurus daerah dari 16 provinsi, serta perwakilan anggota dan mitra strategis.