Oleh : drh. Chusnul Khotimah*
Meski tak setenar penyakit ayam pada umumnya, seperti Avian Influenza (AI), Newcastle Disease (ND), maupun Infectious Bursal Disease (IBD), namun penyakit yang disebabkan oleh Mycoplasma synoviae (Ms) patut menjadi perhatian. Pasalnya serangan penyakit ini dapat memberikan dampak serius terhadap kesehatan ayam, performa produksi hingga kerugian ekonomi.
Mycoplasma synoviae dan penularannya
Mycoplasma adalah organisme mikroskopis yang termasuk dalam kelompok bakteri dan tidak memiliki dinding sel. Di mana bakteri ini merupakan mikroorganisme prokariotik yang termasuk dalam kelas Mollicutes yang berukuran sangat kecil. Hal ini juga membuat mycoplasma memiliki bentuk sel yang beragam dan bisa mengubah bentuknya untuk beradaptasi dengan lingkungan. Struktur sel yang sederhana membuat mycoplasma rentan terhadap perubahan lingkungan dan tergantung pada inangnya untuk mendapatkan nutrisi.
Pada unggas, mycoplasma patogen dapat menyebabkan penyakit yang disebut mikoplasmosis. Di mana salah satu spesies mycoplasma patogen yang penting untuk diperhatikan dalam budi daya unggas adalah Mycoplasma synoviae (Ms). Mycoplasma synoviae adalah agen penyebab penyakit pernapasan dan synovitis atau peradangan pada membran sinovial pada unggas, terutama pada ayam dan burung kalkun. Penyakit yang disebabkan oleh Mycoplasma synoviae dapat memiliki dampak ekonomi yang signifikan pada usaha budi daya. Pasalnya infeksi bakteri ini dapat menyebabkan penurunan produksi dan peningkatan angka kematian.
Sebenarnya Mycoplasma synoviae secara alami juga banyak terdapat di lingkungan peternakan dan mudah mati, terutama oleh suhu lingkungan yang tinggi, kadar oksigen (O2) tinggi, kelembapan relatif rendah dan juga beberapa golongan desinfektan. Namun pada kondisi tertentu, seperti ventilasi dan sanitasi kandang yang jelek, Mycoplasma synoviae menjadi lebih lama bertahan hidup di lingkungan dan akhirnya menginfeksi ayam yang kondisinya tidak fit.
Ventilasi dan sanitasi yang buruk adalah predisposisi penyakit ini. Faktor predisposisi lainnya ialah sekam lembap, kadar amonia tinggi, kepadatan ayam dalam kandang terlalu tinggi, stres yang membuat daya tahan tubuh ayam turun, serta cara pemeliharaan ayam dengan berbagai umur dalam satu lokasi peternakan (multiage farming).
Infeksi Mycoplasma synoviae dapat ditularkan baik secara horizontal maupun secara vertikal. Di mana penularan secara horizontal bisa melalui kontak langsung atau pun melalui media perantara. Kontak fisik seperti bersentuhan dengan sekresi hidung, air mata, dan cairan lain yang terinfeksi dapat menimbulkan penularan. 
Kontak dengan perantara udara juga bisa terjadi, partikel mikroorganisme dari unggas yang terinfeksi dapat tersebar melalui udara, terutama dalam lingkungan yang padat. Udara yang terkontaminasi dapat mengandung mikroorganisme dan menjadi sumber penularan bagi unggas sehat. Kemudian, alat-alat peternakan yang terkontaminasi dan manusia yang telah berinteraksi dengan unggas yang terinfeksi juga dapat berperan dalam penyebaran penyakit jika tidak dijaga kebersihan.
Tak hanya itu, Mycoplasma synoviae juga masuk kategori penyakit yang dapat ditularkan oleh telur (egg transmitted disease), sehingga patogen dari induk ayam (parent stock) yang terinfeksi Mycoplasma synoviae, akan terbawa atau mencemari DOC (final stock) di kandang komersial. Penularan Mycoplasma synoviae secara vertikal ini bisa berasal dari induk ayam di breeding farm ataupun kontaminasi di mesin tetas (hatchery).
Salah satu aspek menarik dari Mycoplasma synoviae adalah kemampuannya untuk bertahan dalam bentuk pembawa (carrier). Beberapa unggas yang terinfeksi mungkin tidak menunjukkan gejala penyakit yang jelas, tetapi masih dapat menjadi pembawa mikroorganisme dan menularkan penyakit ke unggas lainnya. Hal ini membuat pengendalian penyakit menjadi lebih rumit, karena unggas pembawa tetap dapat berkontribusi pada penyebaran infeksi.
Gejala dan dampak Mycoplasma synoviae
Unggas yang terinfeksi Mycoplasma synoviae dapat menunjukkan berbagai gejala klinis yang bervariasi tergantung pada tingkat keparahan infeksi, tingkat usia, dan faktor lingkungan. Selain itu penyakit ini dapat dikatakan agak unik karena bisa bersifat subklinis terutama di saluran pernapasan bagian atas yang tidak tampak gejalanya secara klinis. Tapi pada fase berikutnya gejala klinis akan tampak, dan akan lebih nyata ketika ada agen penyakit ikutan lain (secondary infection) seperti E. coli, Haemophilus paragallinarum, Mycoplasma gallisepticum (Mg), IB, SHS, dan ILT.
Saat fase awal infeksi, Mycoplasma synoviae masuk melalui sistem pernapasan ayam dan langsung mendiami selaput lendir saluran pernapasan. Pada tahap awal ini tidak akan muncul gejala klinis, kecuali jika infeksi Mycoplasma synoviae berkomplikasi dengan penyakit ND atau IB, baru akan muncul gejala seperti “ngorok” dan terjadi peradangan (kekeruhan) pada kantong udara.
Selanjutnya, ketika infeksi Mycoplasma synoviae berada pada stadium sistemik/septikemia (yang bersifat akut maupun kronis), Mycoplasma synoviae akan menyebar ke organ lain melalui aliran darah. Setelah itu, Mycoplasma synoviae akan bersarang pada persendian kaki dan tulang dada (bursa sternalis) hingga timbul pembengkakan dan gejala kelumpuhan. Pada kondisi ini biasanya ayam terlihat lesu, nafsu makan menurun, dan muncul kepincangan. Apabila kondisi semakin parah, maka akan terjadi depresi, anemia, pucat pada area muka dan jengger, kekurusan, serta terjadi kematian.
Kemudian kelumpuhan akibat Mycoplasma synoviae ditandai dengan adanya pembengkakan pada persendian lutut (hock joints) dan jari kaki (toe joints). Selain itu terjadi juga sinovitis, pada jaringan yang melapisi dan melindungi sendi. Bila bagian sendi yang bengkak dibuka, akan ditemui eksudat atau cairan kental berwarna putih, abu-abu sampai kekuningan. Biasanya volume eksudat lebih banyak ditemui pada telapak dan jari kaki.
Selain ditemukan pada persendian kaki, eksudat fibrinous (jaringan terkikis) atau caseous (nanah agak padat) juga bisa ditemukan pada persendian sayap, kantong udara, selaput hati, jantung, dan jaringan subkutan (di bawah kulit) kantong perut dekat bursa. Kadang-kadang ditemukan pula pembengkakan pada hati dan limpa disertai bintik-bintik berwarna hijau atau merah, atau pembengkakan ginjal berwarna pucat.
Sementara itu, infeksi Mycoplasma synoviae berdampak nyata baik dalam pemeliharaan ayam pedaging maupun petelur. Pada ayam pedaging, serangan Mycoplasma synoviae dapat menyebabkan tingginya tingkat culling (afkir dini) karena banyaknya kasus kelumpuhan, terutama pada fase awal pemeliharaan.
Kemudian pada fase berikutnya, gejala kelumpuhan juga akan mengakibatkan tidak tercapainya feed intake harian karena ayam susah mencapai tempat pakan ataupun tempat minum. Hal ini akan membuat pertumbuhan berat badan harian rendah dan tidak sesuai standar. Selain itu dengan intake nutrisi yang tidak optimal, maka ayam juga akan rentan terhadap serangan penyakit lain.
Pun pada ayam petelur yang terinfeksi Mycoplasma synoviae akan menghasilkan telur dengan kualitas yang buruk, seperti cangkang tipis, retak, atau bahkan cacat. Selain itu produksi telur pun juga menurun sehingga berdampak pada ekonomi peternak. Infeksi yang disebabkan oleh Mycoplasma synoviae menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan pada industri unggas intensif, karena berkurangnya produksi telur dan penurunan kualitas telur (Feberwee et al., 2009 ).
 Pencegahan dan pengendalian
Dengan berbagai dampak yang disebabkan, pencegahan dan pengendalian infeksi Mycoplasma synoviae sangat penting untuk menjaga kesehatan populasi unggas dan mengurangi dampak ekonomi pada industri peternakan. Hal ini bisa dimulai dengan praktik biosekuriti yang ketat. Konsep biosekuriti harus diterapkan dengan baik, yaitu isolasi, pengaturan lalu lintas serta sanitasi dan desinfeksi. Batasi akses orang asing dan kendaraan ke area peternakan. Lakukan sanitasi dan disinfeksi rutin pada fasilitas peternakan, peralatan, dan kendaraan untuk mengurangi risiko kontaminasi. Langkah menyemprot kandang menggunakan desinfektan juga penting dilakukan untuk membasmi Mycoplasma synoviae. 
Selain itu, upaya menciptakan lingkungan kandang yang nyaman untuk ayam juga perlu dilakukan. Langkah pengendalian sirkulasi udara, menjaga suhu dan kelembapan serta manajemen kepadatan menjadi beberapa contoh yang perlu diperhatikan. Selain itu manajemen litter untuk mencegah kondisi berdebu, basah dan meminimalkan produksi amonia yang berlebihan juga menjadi hal yang penting. Semua hal ini guna mendapatkan lingkungan yang nyaman bagi ayam, sehingga stres dan diminimalkan dan serangan penyakit pun dapat ditekan. Di sisi lain, pencegahan juga dapat dilakukan dengan vaksinasi untuk meningkatkan ketahanan tubuh ayam.
Kemudian apabila terjadi kasus infeksi Mycoplasma synoviae, maka hal pertama yang harus dilakukan sebelum dilakukan pengobatan adalah seleksi ayam sakit terlebih dahulu. Ayam dengan kondisi yang sudah parah sebaiknya langsung diafkir, sedangkan yang belum terlalu parah, bisa diobati dengan pemberian antibiotik. 
Untuk penanganan Mycoplasma synoviae, jangan menggunakan antibiotik yang cara kerjanya merusak dinding sel. Karena Mycoplasma synoviae tidak memiliki dinding sel, sehingga pengobatan menjadi tidak efektif. Untuk itu, pilih antibiotik yang bekerja pada membran dan inti sel, terutama yang aktif menghambat pembentukan asam folat dan protein Mycoplasma synoviae, serta mempunyai konsentrasi tinggi di tempat mikroorganisme tersebut berada, yaitu saluran pernafasan, seperti golongan fluoroquinolon, makrolida, dan tetracycline. *Dokter Hewan Praktisi
Artikel ini merupakan rubrik Kesehatan pada majalah Poultry Indonesia edisi September 2023. Baca selengkapnya pada majalah Poultry Indonesia edisi September 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com