Harga livebird di tingkat peternak, sering mengalami fluktuasi
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Penyakit Avian Influenza memang merupakan penyakit klasik namun masih sering mengganggu kenyamanan ternak sampai saat ini.
Oleh karena itu, dalam rangka meningkatkan kesadaran akan penyakit AI sekaligus meningkatkan jiwa korsa dari alumni, IKA Komisariat FKH Unair menggelar seminar daring dengan tema “Update Avian Influenza di Indonesia 2003-2021” melalui aplikasi zoom dan disiarkan langsung di kanal YouTube Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, Sabtu (20/03).
Menurut drh. Desianto B Utomo, Ph.D selaku Ketua Ikatan Alumni Komisariat FKH Unair, dalam sambutannya mengatakan bahwa saat ini merupakan waktu yang tepat bagi segenap alumni untuk mengembalikan kepercayaan rakyat dengan melakukan berbagai pengabdian kepada masyarakat.
“Segenap civitas akademika Unair yang berstatus negeri harus ingat bahwa kegiatan di kampus itu dibiayai dari uang rakyat. Maka inilah saatnya para alumni mengembalikan subsidi tersebut lewat pengabdian pada masyarakat,” jelas Desianto.
Sementara itu, dalam paparannya, drh. NLP Indi Dharmayanti selaku peneliti dari BBLitVet Bogor mengatakan bahwa AI ditemukan di China dan pravelensi di itik itu sekitar 6,7-100%, di Indonesia sendiri muncul pada tahun 1985.
“Sebetulnya penyakit virus ini bukan virus baru untuk strain H4N6 dan H4N2. Dua puluh tahun kemudian baru terdeteksi untuk H5N1,” jelasnya.
Selanjutnya ia menjelaskan bahwa pada waktu awal virus itu ditemukan, sangat mudah sekali diidentifikasi dengan kondisi haemorragi dan petechie yang terjadi di mana-mana.
Baca Juga: FAO dan ADHPI Gelar Workshop Kurikulum Kesehatan Unggas
“Setelah dilakukan berbagai penelitian secara molekuler, immunohistokimia dan histopatologis, terbukti bahwa identifikasi dari riset tersebut menunjukkan bahwa yang menimbulkan wabah pada tahun 2003 adalah Avian Influenza subtipe H5N1,” papar Indi.
Pemaparan dilanjutkan oleh drh. Agus Mardianto selaku GM Animal Health and Technical Service PT CPJF. Ia menjelaskan bahwa kerugian yang diakibatkan oleh penyakit viral bisa menyebabkan kerugian ekonomi secara langsung seperti hilangnya potensi genetik DOC, meningkatnya penggunaan pakan, penyusutan, biaya penanganan kasus, dan lain-lain.
Agus menggambarkan bahwa Jika ternak terserang penyakit viral mengakibatkan konsumsi pakan akan melambung tinggi.
“Belum lagi kalau satu kandang misalkan PS populasi 10.000 ekor terkena wabah seperti AI dan harus stamping out dengan satu ekornya seharga Rp300.000, maka bisa dibayangkan berapa kerugian yang harus ditanggung oleh peternak,” jelasnya.
Pemaparan terakhir disampaikan oleh Prof. drh. Suwarno selaku dosen pengampu Mikrobiologi Veteriner FKH Unair. Ia menjelaskan bahwa AI H5N1 di Indonesia itu saat ini ada dua macam clade yaitu 2.1.3.2 dan 2.3.2.1.c baik yang sifatnya HPAI maupun LPAI.
“Problem H5N1 itu saat ternak terinfeksi tidak bisa terlihat secara kasat mata (silent), lalu untuk galur G1 dan y280 berpotensi menginfeksi manusia,” jelas Suwarno.
Suwarno juga menjelaskan bahwa untuk H9N2 umumnya menyerang ayam petelur pada akhir tahun 2016 sampai hari ini. Menurutnya, jika kedua galur tersebut menginfeksi ternak yang sama pada waktu yang sama akan menimbulkan masalah yang baru.
“Bila H5N1 dan H9N2 menfinfeksi secara bersamaan dan dalam satu sel yang sama dapat menimbulkan reassortant atau terjadinya percampuran genetik,” jelas Suwarno.