Para pembicara di acara Menakar Solusi Industri Perunggasan
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengadakan pertemuan terbatas untuk menyerahkan kajian tentang industri perunggasan di Hotel Mercure, Jakarta, Kamis (22/4). 
Kajian yang dipaparkan dalam acara dengan tema ‘Menakar Solusi Industri Perunggasan’ ini sebenarnya sudah dibuat menjadi sebuah buku, baik softcopy maupun hardcopy. 
Enny Sri Hartati selaku Ekonom Senior INDEF mengatakan bahwa kajian mengenai perunggasan ini dilatarbelakangi dari industri perunggasan yang sangat strategis, namun di sisi lain masih banyak persoalan yang menghantuinya. 
“Memang harus ada petunjuknya karena jika tidak, maka akan menghasilkan keputusan  yang menyebabkan masalah di sisi lainnya,” ujarnya. 
Enny mengungkapkan bahwa sektor perunggasan masih menghadapi masalah yang kompleks. Terdapat beberapa isu straregis yang masih dihadapi oleh perunggasan, di antaranya ketidakseimbangan supply-demand, instabilitas pakan, daya saing produk unggas, dan ketersediaan data dan informasi. 
Mengenai data misalnya, asumsi produksi dan konsumsi cenderung masih tidak sesuai antara satu data dengan data lainnya. INDEF menyarankan bahwa penyediaan data dan informasi secara transparan, tepat waktu, dan dapat diakses oleh semua orang. 
“Jadi tidak perlu menunggu seminggu untuk mendapat datanya. Diharapkan nanti ada data yang tersedia secara realtime, semua orang bisa mengakses, dan diberikan oleh lembaga yang terpercaya,” katanya.
Baca Juga: Rektor IPB Ajak Berbagai Pihak untuk Mencari Solusi Masalah Pakan Ternak
Nasrullah selaku Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan (Dirjen PKH) mengapresiasi kepedulian INDEF terhadap industri perunggasan untuk melakukan kajian secara mendalam. 
Nasrullah mengakui bahwa memang industri perunggasan masih bergantung pada impor, mulai dari bibit sampai pakan. “Kita memang swasembada tetapi masih ada ketergantungan tertentu pada impor,” ucapnya. 
Usaha untuk sedikit demi sedikit lepas dari impor harus didukung riset yang perlu diperkuat, seperti untuk bibit dan pakan. Menurutnya riset dari ayam lokal Indonesia masih mencapai 20 tahun, tertinggal 80 tahun dari ayam ras sehingga masih ada kemungkinan untuk perkembangannya. 
Nasrullah juga menyetujui bahwa hilir ini butuh diperbaiki, salah satunya untuk memperbaiki supply demand dari produk ayam ras. 
Masih mengenai sisi hilir, Syailendra selaku Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan mendukung bahwa memang juga perlu ada kampanye mengenai daging ayam dengan sistem rantai dingin. Selama ini memang ayam beku masih mendapatkan stigma negatif dari masyarakat. 
“Memang kita perlu mensosialisasikan bahwa mengonsumsi ayam beku lebih aman dan higienis,” kata Syailendra.
Menanggapi masalah ayam lokal Indonesia, Deputi II Bidang Pangan dan Pertanian, Kemenko Perekonomian Musdhalifah Machmud, mendukung perkembangan dari komoditas ekslusif. Hal tersebut karena masih ada peminat tetap dari ayam lokal ini. 
“Kedepannya mungkin kita bisa mengembanglan ayam lokal kita ini secara efisien. Ayam lokal ini walaupun harganya mahal, jarang yang protes,” jelasnya.