Pengukuhan gelar professor Dr. Ir. M. Halim Natsir, S.Pt.,MP.,IPM., ASEAN Eng
POULTRYINDONESIA, Malang – Pelarangan Antibiotic Growth Promoter (AGP) sejak tahun 2018 membuat para pelaku usaha perunggasan berjibaku untuk menemukan alternatif lain agar peternakan mereka tetap bisa tumbuh dan berkembang.
Melihat kondisi tersebut, Dr. Ir. M. Halim Natsir, S.Pt.,MP.,IPM., ASEAN Eng tergugah untuk terus melakukan penelitian hingga kemudian menyimpulkan bahwa AGP bisa diganti dengan Natural Growth Promoter (NGP) dengan sinergi antara tiga bahan sekaligus yakni fitobiotik, acidifier dan probiotik.
Menurut Natsir, ketiganya mampu saling menutupi kekurangan serta dilengkapi dengan teknologi nano enkapsulasi double coating sehingga kualitasnya lebih maksimal.
“Sebenarnya fitobiotik memang kualitasnya bagus sebagai pengganti AGP. Namun kelemahannya adalah memerlukan efek dalam waktu yang lama,” jelasnya saat Orasi Ilmiah dalam Rapat Senat Terbuka Pengukuhan Profesor di Universitas Brawijaya Malang, Rabu (31/3).
Oleh karena itu menurutnya perlu dukungan NGP yang lain seperti acidifier. Demikian juga dengan probiotik, karena saat bicara probiotik dia harus menempel pada vili usus. Namun, pada saat vili usus tidak ada tempat menempel, maka probiotik akan keluar dari organ pencernaan.
Baca Juga: Natupro Probiotik Kompetitif Pendukung Performa dan Kesehatan Ternak
“Disinilah diperlukan teknologi seperti teknologi nano enkapsulasi double coating agar bisa menempel dengan baik,” ucap Natsir saat dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pengolahan Pakan Unggas Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya.
Halim menambahkan, enkapsulasi itu bertujuan agar NGP itu larut tepat di organ yang dituju yakni usus halus. Sinergi ini tentunya akan membuat NGP semakin efektif.
“Probiotik menempel pada vili usus yang didukung oleh acidifier, sementara fitobiotik bisa langsung membersihkan vili-vili usus, dengan demikian diharapkan kesehatan dan produktivitas ayam akan terus meningkat,” tegas pakar ilmu nutrisi dan teknologi pengolahan pakan unggas ini.
Sementara itu, sambutan positif juga disampaikan oleh Ketua Senat Universitas Brawijaya Prof. Dr. Ir. Arifin, MS. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa masyarakat untuk tidak usah takut mengonsumsi daging ayam sebab teknologi pengolahan pakan ayam sudah bagus.
“Pelaku usaha juga sudah mempertimbangkan keamanan pangan sehingga para konsumen tetap aman dalam mengonsumsi daging ayam dan tidak lagi takut dengan residu antibiotik,” tegasnya.