Itik yang terserang ND menunjukkan gejala klinis, seperti depresi, meringkuk, dan kelumpuhan (1A dan 1B); oedema pada mata dan adanya cairan pada hidung (1C); serta opisthotonus atau kaku otot (1D) (Sumber Hao Chen).
Salah satu faktor predisposisi yang menarik adalah inang pembawa atau reservoir yang mana termasuk didalamnya unggas air, burung liar, dan burung merpati. Virulensi strain virus ND bervariasi berdasarkan inangnya. Di antara seluruh anggota kelompok unggas, ayam ada di urutan teratas unggas yang paling rentan terhadap infeksi ND, sedangkan unggas air, seperti itik dan angsa, termasuk dalam golongan yang tidak rentan. Meski begitu, itik berperan sebagai pembawa virus ND.

Keterbatasan informasi mengenai karakteristik virus ND yang berasal dari itik di Indonesia dapat menghambat pengendalian.

Keterbatasan informasi mengenai karakteristik virus ND yang berasal dari itik di Indonesia dapat menghambat pengendalian, sehingga Naimah Putri dkk. melakukan penelitian untuk mengkarakterisasi secara genotip dan filogenetik isolat virus ND yang dikoleksi dari itik asal Indonesia yang tidak divaksinasi. Studi dilakukan sejak September 2019 hingga Februari 2020 di Laboratorium Virologi dan Imunologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga, Surabaya.
Pada penelitian ini, enam strain yang telah diisolasi di Indonesia pada tahun 2019 dikarakterisasi secara genotip dan patotip. Dua isolat diantaranya, yakni (NDV/Duck/B104/19 dan NDV/Duck/B125/19, memiliki susunan asam amino yang termasuk ke dalam kelompok patotipe velogenik. Sedangkan empat isolat lainnya, yaitu NDV/Duck/A74/19, NDV/Duck/M147/19, NDV/Duck/BK43/19, dan NDV/Duck/TD19/19 diklasifikasikan sebagai lentogenik.
Sebagian besar penelitian mengenai virus ND di Indonesia berfokus pada ayam karena perannya sebagai penyokong protein hewani nasional, sedangkan analisis filogenetik dari keenam isolat ini mengungkapkan bahwa itik di Indonesia membawa berbagai genotipe dan patotipe virus ND. Hal ini menunjukkan bahwa virus ND masih beredar bebas di lingkungan dan menjadi penting untuk diketahui guna penentuan strategi kontrol dan diagnostik yang tepat.
Beberapa penelitian mengenai virus ND pada itik dan merpati menunjukkan kerentanan variabel terhadap strain virus ND yang berbeda, sehingga meski kasus ND pada itik dan angsa bersifat asimptomatik, strain virus ND yang berasal dari itik tetap menjadi ancaman bagi industri perunggasan secara keseluruhan, terutama jika itik tak tervaksinasi. Oleh karena itu, karakterisasi molekuler virus ND secara filogenetik dan genotip perlu dilakukan untuk mengendalikan penyakit ND.
Oleh karena itu, pengendalian ND dengan menyusun program kesehatan yang ketat, khususnya terkait vaksinasi ND, pada berbagai jenis unggas sangatlah penting. Penerapan biosekuriti yang ketat harus dilakukan untuk menekan penularan ND antar spesies. Selain itu, praktik manajemen optimal dengan mengoreksi faktor pendukung, pengendalian penyakit imunosupresif, pengendalian temperatur dan kelembaban, serta ventilasi di dalam lingkungan kandang juga tak boleh ditinggalkan. Dilengkapi dengan pemantauan berkala kasus ND pada bebek, angsa, dan unggas air lainnya, maka kasus ND di lapangan dapat ditekan.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Kesehatan pada majalah Poultry Indonesia edisi April 2023. Baca selengkapnya pada majalah Poultry Indonesia edisi April 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com