POULTRYINDONESIA, Bogor – Peningkatan kebutuhan protein hewani di tengah industrialisasi sektor perunggasan menuntut sistem jaminan keamanan pangan yang semakin kuat dan terintegrasi. Untuk itu, keamanan produk unggas harus dibangun melalui pendekatan menyeluruh dari hulu hingga hilir, sejalan dengan konsep safe from farm to fork.
Hal ini seperti yang diutarakan oleh Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner (Dirkesmavet), dalam acara Talkshow yang mengangkat tema “Optimalisasi Penerapan Kesejahteraan Hewan dan Nomor Kontrol Veteriner dalam Penjaminan Keamanan dan Mutu Produk Unggas untuk Konsumen Masyarakat Indonesia”, di Bogor, Rabu (11/2).
Menurutnya keamanan pangan, sebagaimana diatur dalam berbagai regulasi nasional mulai dari UU Peternakan dan Kesehatan Hewan hingga peraturan turunan lainnya, bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi hak dasar konsumen. Sistem ini harus berbasis penilaian risiko yang terintegrasi sejak tahap budi daya, transportasi, pemotongan, pengolahan, distribusi, hingga sampai ke meja makan. Pendekatan konsultatif dan terpadu ini menjadi kunci agar standar nasional dapat diakui secara internasional.
“Selain itu, tren global saat ini menuntut agar peningkatan produksi diimbangi dengan sistem budidaya yang tidak hanya efisien, tetapi juga menjunjung tinggi prinsip etika dan keberlanjutan. Menurutnya, penerapan kesejahteraan hewan (kesrawan) memiliki keterkaitan erat dengan produktivitas ternak, jaminan keamanan pangan, serta penguatan kepercayaan konsumen,” tambahnya.
Dalam konteks perunggasan, dirinya melihat bahwa penerapan kesrawan menjadi fondasi penting. Prinsip 5 Freedoms menegaskan bahwa unggas harus terbebas dari rasa lapar dan haus, ketidaknyamanan, rasa sakit, ketakutan, serta memiliki kebebasan mengekspresikan perilaku alaminya. Penyediaan ruang yang memadai, ventilasi dan pencahayaan yang baik, nutrisi sesuai kebutuhan fisiologis, manajemen kesehatan yang tepat, hingga sistem dokumentasi yang telusur merupakan bagian dari implementasi sesuai Permentan 32/2025 yang baru saja disahkan.
”Secara ilmiah, kesrawan berkorelasi langsung dengan produktivitas dan mutu produk. Unggas yang dikelola dengan standar kesrawan menunjukkan performa pertumbuhan dan efisiensi pakan yang lebih baik, tingkat stres lebih rendah, serta penurunan angka mortalitas dan morbiditas. Dampak lanjutannya adalah peningkatan kualitas daging dan telur, sekaligus kontribusi dalam pengurangan penggunaan antibiotik pemacu pertumbuhan yang berisiko terhadap resistensi antimikroba (AMR),” tambahnya.
Sementara itu, Dosen SKHB IPB University, Denny Widya Lukman menyatakan bahwa daging dan telur ayam merupakan pangan bergizi tinggi, relatif terjangkau, dan mudah diolah. Namun, keduanya juga berisiko membawa cemaran biologis seperti Salmonella spp, serta mudah mengalami kerusakan apabila tidak ditangani dengan benar. Untuk itu, pengelolaan keamanan pangan harus dimulai dari manajemen peternakan, kesehatan dan nutrisi ternak, higiene sanitasi, proses pemotongan, hingga transportasi dan distribusi.
“Standar NKV ditempatkan sebagai prerequisite program atau persyaratan dasar dalam sistem manajemen keamanan pangan asal hewan. Bersama Good Hygiene Practices (GHP) dan Cara Produksi yang Baik (CPMB).Dalam halini. NKV menjadi fondasi sebelum penerapan sistem yang lebih kompleks seperti HACCP atau ISO 22000. Tanpa fondasi ini, sulit memastikan pangan yang aman dan layak dikonsumsi,” ujarnya.
Dirinya menambahkan bahwa tujuan utama penerapan NKV adalah menjamin keamanan dan kualitas produk, memenuhi regulasi dan standar etika, meningkatkan kepercayaan konsumen, serta memperkuat daya saing. Untuk itu, dalam audit NKV, aspek yang dinilai tidak hanya administratif, tetapi juga mencakup praktik veteriner yang baik, biosekuriti, kesejahteraan hewan, kelayakan bangunan dan peralatan, higiene personal, higiene sanitasi, hingga pengujian oleh pihak eksternal terakreditasi.
”Di sisi lain, kesrawan terbukti berpengaruh langsung terhadap mutu produk. Stres pada ayam, baik akibat heat stress, stres oksidatif, maupun perlakuan kasar sebelum penyembelihan (preslaughter handling stress), dapat mengganggu keseimbangan fisiologis dan metabolisme. Dampaknya tidak hanya pada performa produksi, tetapi juga kualitas daging dan telur. Artinya, kesrawan bukan sekadar isu etika, tetapi faktor teknis yang menentukan kualitas akhir produk,” tambahnya.
Menurutnya, integrasi penerapan NKV dan kesrawan menjadi strategi komprehensif dalam menjamin produk ayam, baik daging maupun telur yang aman, sehat, utuh, dan halal. Lebih dari itu, standar ini menjadi modal penting dalam membangun kepercayaan konsumen serta meningkatkan daya saing industri perunggasan nasional di tengah tuntutan pasar yang semakin ketat.
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Poultry Indonesia