POULTRYINDONESIA, Tangerang Selatan – Mempersiapkan strategi untuk menghadapi tantangan dimasa mendatang, Novus mengadakan seminar bertajuk “Advanced Strategies for Broiler Success” pada Kamis, (21/11). Acara yang diadakan di Vivere Hotel, Gading Serpong ini sekaligus menandakan launching produk terbaru mereka yaitu MINTREX dan CIBENZA. Novus mengundang para formulator dan nutritionist untuk berdiskusi dan menyimak pemaparan dari ketiga narasumber.
drh. Rika Riantika selaku Regional Sales Manager Novus Indonesia and Malaysia, dalam sambutannya menyampaikan bahwa industri perunggasan di Indonesia dan Malaysia menjadi industri yang memiliki potensi besar untuk mengalami peningkatan. Terlebih beberapa tahun belakangan peningkatan konsumsi unggas di Indonesia dan Malaysia meningkat secara signifikan, sehingga ia yakin masa depan perunggasan akan semakin maju.
Selanjutnya, Rajeev S Murthy selaku Managing Director APAC Novus International menyampaikan bahwa dengan pertambahan penduduk dunia, maka permintaan produk perunggasan juga semakin bertambah. Kita membutuhkan industri yang lebih maju, lebih efisien dan lebih berkelanjutan. Tentunya hal tersebut bukanlah suatu hal yang mudah karena ada pertambahan tantangan juga dalam pelaksanaannya.
“Kami menyediakan solusi untuk mencapai kesehatan pencernaan unggas dengan memberikan pakan bergizi, meningkatkan kecernaan, serta membantu menghemat biaya lebih banyak. Novus selaku perusahaan penyedia nutrisi ternak bertekad untuk selalu memberikan solusi bagi berbagai permasalahan yang hadir untuk menciptakan industri perunggasan yang lebih maju,” ujar Rajeev.
Saat menyampaikan gambaran dinamika industri perunggasan di Indonesia, Budi Tangendjaja selaku Technical Consultant Nutrition & Feed Technology menyampaikan bahwa industri perunggasan Indonesia berkembang sejak tahun 1970 dan terus melakukan modernisasi. Sudah mulai beralih metode yang awalnya dibudidayakan secara konvensional mulai beralih menjadi skala industri dan sekarang konsumsi produk perunggasan menjadi sumber protein hewani utama di Indonesia.
“Menariknya, ada korelasi antara tingkat pendapatan dengan konsumsi protein hewani di Indonesia. Setiap kenaikan 10% pendapatan maka ada peningkatan sebanyak 1% konsumsi protein hewani. Terlebih ada perubahan pola konsumsi berdasarkan pendapatan dan generasi. Generasi sekarang sudah lebih peduli akan kesehatan dan kesejahteraan hewan, mereka mau membayar lebih, sehingga ini menjadi tantangan bagi kita untuk menyediakan produk pangan yang berkualitas tinggi,” ujar Budi.
Masih dalam kesempatan yang sama, dr. Hugo Romero selaku Exec Manager Global Poultry Technology Lead Novus International memaparkan bahwa harga jual daging ayam sangat dipengaruhi oleh harga pakan maka ia menyusun strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan performa broiler melalui pemanfaatan mineral dan asam amino.
“Banyak negara di dunia, khususnya eropa yang memiliki standar tinggi untuk kandungan tembaga pada unggas. Tembaga merupakan mineral yang penting namun memiliki dual effect pada tubuh unggas. MINTREX hadir menyediakan peluang untuk mengoptimalkan dosis Cu yang berfungsi untuk memaksimalkan fungsi pencernaan pada unggas. Terlebih apabila disatukan dengan penggunaan CIBENZA yaitu feed additive berupa enzim protease yang meningkatkan kecernaan protein yang terkandung dalam pakan yang dikonsumsi.”
Terakhir, Dr. Edgar O. Oviedo Rondon selaku Professor of Poultry Science in North Carolina State University menyampaikan cara memaksimalkan fungsi saluran pencernaan untuk kesehatan unggas dan performanya. Untuk memaksimalkan produktivitas dan profitabilitas, perlu adanya peningkatan efisiensi dengan pemanfaatan teknologi.
“Kita mengenal banyak guidebook untuk budi daya unggas, dan semuanya bicara soal memaksimalkan nutrisi ternak. Dengan perkembangan teknologi yang semakin maju, industri perunggasan pun semakin maju, sekarang banyak tools yang dapat diaplikasikan untuk memudahkan efisiensi. Kita bisa menjalankan konsep budi daya yang lama dengan gaya baru. Mulai dari teknologi NIR yang memudahkan kita mengetahui kandungan dalam pakan, hingga bentuk dan ukuran partikel pakan yang dihasilkan, semuanya adalah produk dari teknologi,” ungkap Edgar.