Nutricell Pacific sebagai kiblat industri nutrisi dan kesehatan hewan, menawarkan program formulasi pakan terkini. Formulasi pakan yang dasarnya merupakan program matematika linear, bukan sekedar memberikan kombinasi komposisi bahan pakan dengan biaya terendah, melainkan sistem formulasi pakan untuk menghasilkan biaya produksi per ayam yang terendah.
Selain kandungan nutrisi pada bahan pakan, biaya produksi merupakan unsur yang erat kaitannya dengan formulasi pakan. Suatu formulasi pakan dikatakan sempurna apabila mampu menghasilkan biaya produksi terendah untuk setiap unit produksi ternak, namun tetap memiliki kandungan nutrisi yang seimbang. Mengacu hal tersebut, PT Nutricell Pacific menyelenggarakan seminar hybrid yang dilaksanakan secara daring melalui aplikasi Zoom dan luring di Sheraton Grand Hotel Gandaria City, Jakarta Selatan, Kamis (31/3).
Seminar ini menghadirkan Matthew Clark selaku Consultant and Feed Formulation Expert dari FeedGuys dan Prof. Dr. Ir. Budi Tangendjaja, M.Sc. M.Appl selaku Feed Formulation Consultant dari USSEC. Selain itu, terdapat sesi demo memperkenalkan Feed Formulation 4.0, oleh Ilham Akbar selaku Technical Specialist PT Nutricell Pacific.
Pembukaan disampaikan oleh Po Indarto Gondo selaku Presiden Direktur PT FKS Multi Agro., Tbk yang mengatakan bahwa langkah yang harus dilakukan di tengah isu kenaikan harga bahan pakan adalah dengan melakukan formulasi pakan secara tepat. Mulai dari dampak invasi Rusia ke Ukraina, sampai ke isu kelangkaan kontainer menjadi faktor kenaikan harga bahan baku pakan ternak.
“Kenaikan harga bahan pakan baik impor dan ekspor cukup pesat. Kenaikan ini tentu akan menyebabkan dilema dan permasalahan bagi peternak di Indonesia.Kenaikan ini saya rasa harus disiasati dengan pemilihan bahan baku pakan yang bagus dan formulasi yang lebih akurat sehingga bisa menurunkan biaya dari pakan yang kita gunakan,” kata Indarto.
Turut memberikan sambutan, Ir. Suaedi Sunanto, S.Pt., MBA., IPU. selaku CEO PT Nutricell Pacific memperkenalkan program Feed Formulation 4.0. Melalui program tersebut, harapannya nutritionist dan peternak dapat dengan mudah untuk melakukan formulasi pakan hingga menjadi lebih efektif.
“Feed formulation 4.0 ini adalah formulasi pakan yang memadukan database dari Laboratory Information Management System, Nutrition Optimalization dan Least Cost Formulation. Sehingga diharapkan Feed Formulation 4.0 tidak hanya memberikan alternatif formulasi pakan untuk mendapatkan harga pakan terendah, namun sistem formulasi untuk mendapatkan alternatif biaya pakan terendah untuk setiap kilogram produk ternak,” terang Suaedi.
Nilai formulasi pakan
Matthew Clark dalam gelaran ini membawakan materi “Economic Importance of Undestanding Ingredients Nutrient Values”. Ia mengatakan perbedaan terkecil pada kandungan nutrisi bahan baku dapat menimbulkan perbedaan biaya pakan yang besar.
“Tren menuju formulasi pakan yang presisi harus disertai dengan data bahan baku pakan yang terbarui, mulai dari kadar nutrisi dan harga per bahan bakunya. Sehingga, data bahan baku pakan tersebut dapat menjadi acuan untuk melihat keuntungan dari segi ekonomi,” ujar Matthew.
Matthew melanjutkan, bahkan pada satu bahan pakan saja bisa berbeda kandungan nutrisinya jika berasal dari tempat yang berbeda. Oleh karena itu, dapat dilakukan formulasi pakan yang berdasarkan harga dan kandungan nutrisi terkini sangat penting dilakukan agar tidak terjadi ketidakstabilan pada proses analisa pakan.
“Kalau berbicara mengenai harga sudah pasti tiap bahan pakan berbeda-beda mengikuti kondisi di lapangan. Hal yang juga harus diperhatikan adalah kandungan nutrisi pada suatu bahan pakan. Ambil contoh adalah Soy Bean Meal (SBM), yang mana di dunia ini memiliki 3 negara eksportir utama SBM terbesar dengan kandungan nutrisi yang berbeda-beda,” ucap Matthew.
Senada dengan Matthew, Prof. Dr. Ir. Budi Tangendjaja, M.Sc. M.Appl dengan materinya yang berjudul “In-Time Feed Formulation” menjelaskan, formulasi ter-gantung dari beberapa faktor, seperti genetik dan bahan baku pakan. Maka dari itu, formulasi pakan harus disesuaikan dengan zaman untuk menghasilkan pakan yang ekonomis namun tetap pada standar kebutuhan ternak.
“Prinsip dalam formulasi pakan harus seimbang atau presisi, sehingga ternak tidak mengalami defisit nutrisi atau over nutrisi. Keadaan tersebut dapat menyebabkan kerugian bagi ternak, mulai dari produksinya yang berimplikasi terhadap kesehatan ternak. Sehingga, dinamika kenaikan harga bahan baku pakan ternak menuntut nutritionist untuk melakukan formulasi pakan secara in-time agar tetap relevan dengan perkembangan terkini,” jelas Budi.
Melihat permasalahan yang ada, Budi menyebutkan terdapat 4 solusi untuk menjawab tantangan tersebut. Pertama, nutritionist harus melakukan analisa per bahan pakan. Yang kedua, gunakan hasil analisa data tersebut yang kemudian untuk formulasi pakan. Ketiga, lakukan formulasi pakan menyesuaikan dengan kondisi bahan pakan terkini. Kemudian, lakukan metode yang andal untuk pengukuran nutrisi yang presisi dengan menggunakan software.
Selanjutnya, Dr. Ir. Rachmat Pambudy selaku Komisaris PT Nutricell Pacific turut hadir memberikan sambutan penutup. Ia mengatakan bahwa formulasi pakan yang presisi dibutuhkan agar unggas tidak kegemukan dan defisit nutrisi yang kemudian sama-sama berdampak pada kesehatan unggas.
Seminar Feed Formulation 4.0 ini turut dihadiri oleh para pelanggan PT Nutricell Pacific dan PT FKS Multi Agro., Tbk dari berbagai daerah. Seminar ini tidak hanya menampilkan para narasumber saja. Namun ada pula sesi demo penggunaan sistem terintegrasi milik Nutricell Pacific yang dapat memudahkan pelanggannya dalam memformulasikan pakan.
Kembangkan software
Pada kesempatan ini, Ilham Akbar selaku Technical Specialist PT Nutricell Pacific memberikan penjelasan dan pengaplikasian Feed Formulation 4.0 secara langsung. Ia mengatakan bahwa Integrasi dari ketiga sistem, yaitu Laboratory Decision Making (LDM), Opti Feed Mix (OFM) dan BroilerOpt mampu menghadirkan formulasi pakan untuk menghasilkan biaya produksi ayam broiler terendah, dan spesifikasi pakan dapat dilakukan secara dinamis. Dirinya menegaskan kemudahan yang diperoleh dari software tersebut adalah bisa diakses di lokasi manapun.
“Kita sedang mengembangkan perangkat yang bisa mendukung untuk terciptanya sebuah precicion nutrition, diantaranya LDM (Laboratory Decision Making), OFM (Opti Feed Mix) dan Broiler Opt (Broiler Optimalization). Ketiga software atau tools ini bisa digabungkan pada sistem yang berbasis “cloud” yang bisa diakses dari manapun dan kapanpun,” kata Ilham.
Pada demo software pertama yakni Laboratory Decision Making, Ilham menjelaskan, software ini merupakan mesin penghubung hasil analisa bahan baku dengan perangkat lunak formulasi pakan untuk mendapat data nutrisi yang sesuai dan real-time berdasarkan kondisi yang nyata.
“LDM itu seperti software untuk mengelola data, jadi data manajemen supaya bisa lebih tertata dan teratur dan pengklasifikasiannya bisa lebih merepresentasikan bahan baku ataupun bahan mana yang akan digunakan dan dibuat. Di LDM ini sudah ada interface yang bisa terkoneksi dengan least cost formulation, jadinya kita juga bisa mengklasifikasikan bahan baku mana yang akan kita pakai agar presisinya lebih baik,” jelas Ilham.
Selanjutnya, Opti Feed Mix dapat memformulasi bahan baku pakan yang menyesuaikan dengan least cost formulation. “Opti Feed Mix terdapat parametrik atau batasan-batasan yang dapat memprediksi jika terjadi perubahan harga bahan baku,” papar Ilham.
Selain itu, Ilham menambahkan, Opti Feed Mix juga dapat melakukan advance optimization atau pembatasan pada bahan baku pakan tertentu apabila suatu bahan pakan tersebut mengelami keterbatasan ketersediaan. Sehingga software akan mereformulasi bahan baku pakan yang dapat segera dipakai.
“Jika ada kondisi keterbatasan bahan baku pakan tertentu. Opti Feed Mix dapat mereformulasi kondisi tersebut dengan membatasi penggunaan bahan pakan yang terbatas dan Opti Feed Mix akan menggunakan bahan pakan lain untuk mendapatkan nilai formula yang maksimum,” tambah Ilham.
Di akhir demo, Ilham memperkenalkan software terakhirnya, yakni BroilerOpt. Software BroilerOpt adalah software yang memberikan prediksi kebutuhan nutrisi dan pengaruhnya terhadap performa broiler. Terdapat 4 faktor utama yang mempengaruhi software BroilerOpt, yaitu harga, energi, protein dan nilai lysin.
“Selanjutnya program software BroilerOpt atau animal growth model ini berfokus pada performa broiler. Jadi BroilerOpt dapat memprediksi performa atau manajemen terbaik pada suatu farm broiler. Program ini dapat memberikan simulasi feeding program yang dapat digunakan, dengan melihat kondisi DOC dan nilai nutrisi bahan pakan tertentu,” tutup Ilham. Adv