“Dulu di Sulawesi Utara, telur ayam masih banyak dikirim dari Surabaya atau Makassar. Dengan membuat peternakan ayam seperti ini, saya ingin mencontohkan, kalau produksi telur bisa mandiri.”
Riuh suara ayam memenuhi udara. Saling bersahutan, naik–turun, sesekali terdengar lebih kencang ketika pakan melintas di depan mata. Suasana terasa hidup dan hangat. Begitulah gambaran sehari-hari di peternakan ayam petelur Cempaka Farm, Minahasa Utara.
Di tengah suara ayam yang tak pernah benar-benar reda, perbincangan wartawan Poultry Indonesia dengan Olly Dondokambey berlanjut, seorang tokoh nasional yang menjadi inspirasi dan panutan, khususnya bagi masyarakat Provinsi Sulawesi Utara yang sempat ia nahkodai selama dua periode.
“Selain karena memang hobi pelihara binatang, saya memilih ternak ayam petelur karena melihat prospeknya yang sangat baik. Usaha ternak ini sebenarnya sudah lama, dulu saya mulai dari ayam pedaging dan baru berganti ke ayam petelur di tahun lalu. Waktu COVID-19, banyak restoran yang tutup, ayam pedaging jadi tidak kondusif. Makanya saya buat ternak ayam petelur di lokasi ini yang dimulai dengan cara manual,” ucap pemilik Cempaka Farm tersebut.
Kandang tradisional itu mula-mula ia bangun dengan kapasitas kurang lebih 7.500 ekor. Perlahan, produktivitas membaik dan pasar pun menyambut. Maka sebagian kandang mulai dimodernisasi, pakan dialirkan dengan mesin, dan pengelolaan telur makin efisien. Menariknya, Olly sengaja tidak mengubah seluruh kandang menjadi mekanis, dan sebagian tetap tradisional.
“Saya memang mau ada perbandingan. Supaya orang-orang, terutama anak muda, bisa melihat. Kalau manual begini hasilnya, kalau mekanisasi begini,” tuturnya saat ditemui di kandang, Jumat (19/12/25).
Peluang pasar Sulawesi Utara yang masih terbuka lebar, terutama dengan target masyarakat menengah, ditambah dimulainya program MBG memberikan dorongan lebih besar untuk memproduksi telur di pelosok negeri itu.
“Dulu seingat saya, telur ayam disini masih banyak dikirim dari Surabaya atau Makassar. Dengan mendorong masyarakat membuat peternakan seperti ini, saya ingin mencontohkan, kalau produksi telur bisa mandiri dan tidak bergantung oleh daerah luar,” sebutnya.
Di sela perbincangan, Olly menjelaskan rencana berikutnya. Ia menyebutkan bahwa kandang yang sedang dipersiapkan akan berbeda dari yang ada sekarang. Sistem ini tak hanya mengontrol iklim kandang, tetapi juga mengelola kotoran ayam menjadi pupuk organik.
“Istilahnya kandang tertutup atau closed house. Jadi tidak seperti ini (open house), kotoran ayamnya tidak jatuh, tetapi langsung ditampung jadi pupuk. Dengan begitu langsung terintegrasi, kotoran ayam bisa langsung bisa diolah untuk dimanfaatkan,” sambungnya.
Pupuk hasil kotoran ayam ini dia kaitkan dengan kondisi Sulawesi Utara yang kuat di sektor pertanian. Menurutnya, salah satu pertumbuhan ekonomi paling baik disana adalah dari hasil pertanian. Berlandaskan itu, ia gencar mendorong agar pertanian tidak pakai pupuk kimia, melainkan pupuk organik dari hasil kotoran ayam yang telah difermentasi.
Dengan pendekatan ini, siklus menjadi lebih berkelanjutan. Selain hasil telur yang memberi nilai ekonomi, limbahnya kini bisa menjadi sumber nutrisi baru untuk pertanian. Di sisi lain, ia tak menutup bahwa usaha ini memberi banyak manfaat. Baik sebagai pelayanan kepada masyarakat maupun yang ia rasakan langsung secara personal.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Profil pada majalah Poultry Indonesia edisi Januari 2026. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Januari 2026, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group.