Daya tetas telur merupakan salah satu indikator utama keberhasilan dalam industri perunggasan. Daya tetas yang tinggi menunjukkan bahwa banyak embrio berkembang dengan baik selama inkubasi. Embrio yang sehat akan menetas menjadi DOC (Day Old Chicken) yang berkualitas. Optimalisasi daya tetas menjadi faktor krusial yang harus diperhatikan oleh peternak untuk memastikan anak ayam yang menetas sehat, kuat, dan mampu tumbuh secara produktif.
Hal tersebut disampaikan oleh Sugiatno selaku Manager Hatchery di PT Mitra Berlian Unggas saat diwawancarai dengan Tim Poultry Indonesia secara daring pada Kamis, (17/10). Terlebih ia menjelaskan bahwa daya tetas atau Hatchability adalah perbandingan antara telur yang menetas dengan telur yang diinkubasi. Biasanya daya tetas dihitung dengan cara berikut:
Daya Tetas (%) = jumlah telur yang menetas:jumlah telur yang diinkubasi x 100
Daya tetas dapat dikatakan baik apabila melebihi standard yang ada, tergantung dari jenis ayam yang dibudidayakan. Tetapi secara umum, apabila daya tetasnya diatas 80% hingga 95% dapat dikatakan baik. Jika persentase daya tetas lebih rendah dari 80%, hal ini bisa menandakan adanya suatu masalah dengan telur, inkubasi, atau faktor lain yang memengaruhi daya tetas.
Faktor yang memengaruhi daya tetas
Lebih lanjut, Sugiatno menjelaskan ada beberapa faktor yang memengaruhi daya tetas diantaranya adalah kualitas telur, kondisi induk, dan kondisi inkubasi. Daya tetas telur pertama kali dapat dilihat dari kualitas telur, bentuk telur, ukuran telur, kondisi cangkang hingga kebersihan telur. Kondisi cangkang yang retak akan memiliki daya tetas lebih rendah dan juga telur yang kotor dapat menurunkan daya tetas.
“Telur yang baik dihasilkan dari indukan yang baik pula. Induk yang mendapat pakan bergizi baik akan menghasilkan telur yang lebih sehat dengan daya tetas yang lebih tinggi. Kualitas nutrisi, terutama protein, vitamin (seperti vitamin E dan D), serta mineral (seperti kalsium), sangat berpengaruh terhadap kualitas telur. Umur induk juga perlu diperhatikan, karena memengaruhi kualitas telur. Induk ayam yang terlalu tua atau terlalu muda cenderung menghasilkan telur dengan daya tetas yang lebih rendah,” ujar Sugiatno.
Ia pun menambahkan faktor yang tidak kalah penting adalah kondisi inkubasi dimana suhu, kelembapan, ventilasi dan pemutaran telur sangat diperhitungkan demi menghasilkan DOC yang berkualitas. Suhu ideal untuk inkubasi telur ayam adalah antara 37,5°C hingga 37,8°C. Suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan perkembangan embrio yang terlalu cepat dan cacat fisik, sementara suhu yang terlalu rendah dapat memperlambat perkembangan embrio atau menyebabkan kematian.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Tata Laksana pada majalah Poultry Indonesia edisi November 2024. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi November 2024, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754 atau sirkulasipoultry@gmail.com










