Masa starter pada ayam, baik broiler maupun layer, harus dioptimalkan karena merupakan fase pertumbuhan yang menjadi kunci perkembangan organ kekebalan tubuh pada ayam. Jika pembentukan organ limfoid terkendala, maka proses pembentukan imunitas pada ayam tidak akan optimal. Oleh karena itu, kenyaman pada kandang dan kebutuhan nutrisi ayam haruslah terpenuhi. Selain itu, penting bagi para peternak untuk menekan, mengurangi, atau menghilangkan faktor-faktor yang penyebab imunosupresi.

Sistem imun unggas yang optimal dapat tercapai dengan penerapan manajemen pemeliharaan yang tepat. Penerapan manajemen pakan dan program vaksinasi yang sesuai pun tak boleh terlewatkan.

Peternak juga dapat memberikan imunomodulator guna menunjang kekebalan tubuh ayam. Jika semua sudah terpenuhi, maka langkah selanjutnya untuk mencapai imunitas yang baik pada ayam yang tak boleh ditinggalkan adalah aplikasi vaksin dan pemilihan teknologi vaksinasi. Perbaikan manajemen pemeliharaan, manajemen kesehatan, penerapan biosekuriti, vaksinasi, dan penggunaan imunomodulator saling berhubungan satu sama lain guna mencapai optimalnya sistem imun unggas.
Perbaikan manajemen untuk perbaikan imunitas unggas
Implementasi dan perbaikan manajemen yang dapat dilakukan dengan mudah adalah memposisikan ayam dalam kondisi nyaman. Manajemen pemeliharaan sangat menentukan kekebalan tubuh ayam, terutama manajemen pemeliharaan di fase awal hidup ayam. Pada masa awal pemeliharaan, memastikan bahwa brooder memberikan panas yang cukup merupakan hal penting.
Dalam satu minggu pertama, pastikan brooder tidak kurang dari 30°C karena ayam yang hidup dalam temperatur yang nyaman dan tercapai akan mencapai kondisi yang optimal. Ayam yang hidup dalam kondisi nyaman tentu saja asupan pakannya (feed intake) optimal. Ditambah dengan pakan yang memiliki kecernaan yang tinggi, maka penyerapannya akan maksimal dan dapat diutilisasi atau digunakan untuk membentuk sistem imun seluler dan humoral pada ayam.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM), Prof. Dr. drh. Michael Haryadi Wibowo, MP mengatakan bahwa yang harus peternak terapkan dalam perbaikan manajemen imunitas unggas adalah mengendalikan faktor imunosupresi (menekan kekebalan tubuh), baik penyakit infeksi, parasit dan mikotoksin. Selain itu mengendalikan stres juga perlu dilakukan, terutama yang diakibatkan oleh manajemen tatalaksana yang tidak baik.
“Memperhatikan manajemen tatalaksana ayam modern, misalnya terkait pemberian pakan seawal mungkin yang akan berperan dalam menstimulasi perkembangan struktural dan imunitas saluran cerna. Selain itu, memperhatikan sirkulasi udara dan menghindari kadar amonia yang tinggi pada kandang juga penting,” terangnya pada Poultry Indonesia secara tertulis, Minggu (12/6).
Menurutnya, konsep pemberian pakan awal (early feeding) pada ayam modern, haruslah dipatuhi. Pemberian pakan awal ini dapat mempengaruhi perkembangan struktural sistem pencernaan ayam, sehingga penyerapan nutrisi menjadi optimal, organ-organ berkembang dengan baik, dan perkembangan imunitas lokal di saluran pencernaan juga turut berkembang. “Pada prinsipnya, kesehatan unggas harus tetap diupayakan optimal, salah satunya dengan menjaga kesehatan saluran cerna, seperti menjaga mukosa usus dari luka akibat iritasi mikotoksin, parasiter, atau toksin bakteri seperti Clostridium perfringen, sehingga penyerapan nutrisi yang dibutuhkan dalam sintesa protein (imunoglobulin) tercukupi,” terangnya.
Vaksinasi sebagai penunjang sistem imun
Vaksinasi dilakukan untuk mencegah penyakit dan mengurangi gejala klinis yang muncul dengan menggertak sistem kekebalan tubuh untuk menghasilkan antibodi. Dalam prosesnya, vaksinasi harus dilakukan dengan tepat dan sesuai dengan kasus penyakit yang menyerang, terutama penyakit-penyakit yang menyebabkan kasus imunosupresi.
Ada beberapa jenis vaksin yang biasanya digunakan, yakni vaksin aktif (live-attenuated vaccine) dan vaksin inaktif (killed vaccine). Vaksin aktif atau vaksin hidup (live-attenuated vaccine) mengandung virus hidup yang sudah dilemahkan keganasannya, sedangkan vaksin inaktif atau killed vaccine mengandung virus yang sudah dimatikan. Namun, seiring perkembangan zaman, vaksin pun ikut mengalami perkembangan.
Menurut drh. Jamaluddin Assidiqi, selaku Veterinary Services Executive PT Ceva Animal Health Indonesia, mengatakan bahwa inovasi terbaru dari perusahaan-perusahaan vaksin sudah banyak diperkenalkan di industri perunggasan. Menurutnya, teknologi vaksin telah berkembang sangat pesat, mulai dari vaksin konvensional, seperti vaksin live (aktif) dan killed (inaktif), hingga sekarang berkembang dengan teknologi immune-complex (teknologi vaksin campuran) dan vectored vaccines (teknologi vaksin yang disisipkan gen protein dari antigen).
“Kedua teknologi terbaru ini menjadi pilihan utama para peternak karena mampu memberikan benefit lebih, salah satunya terkait efikasi. Efikasi vaksin sendiri terdiri dari kecepatan efek kekebalan vaksin, durasi bertahannya kekebalan, serta perlindungan yang luas dan lengkap dari agen infeksius di lapangan. Kedua teknologi terbaru ini memungkinkan peternak untuk mengurangi vaksinasi di farm dengan melakukan vaksinasi di hatchery,” jelasnya pada Poultry Indonesia melalui wawancara tertulis, Jumat (17/6).
Teknologi vaksinasi yang dilakukan pada tempat penetasan atau hatchery vaccine dapat dilakukan dalam dua bentuk, yakni vaksinasi yang dilakukan pada telur berembrio (in-ovo vaccination) dan vaksinasi yang dilakukan pada Day Old Chick (DOC) segera setelah menetas atau pasca hatching.
Sementara itu, Tony Unandar, seorang Private Poultry Consultant mengatakan bahwa vaksinasi in-ovo dilakukan pada umur 18-19 hari masa inkubasi dengan menginjeksikan sediaan vaksin secara intra-amniotik atau ke dalam kantung amnion. Cara ini juga dapat dilakukan pada umur 12-13 hari masa inkubasi secara intra-air sac atau ke dalam kantung udara.
Sedangkan untuk vaksinasi pasca hatching dilakukan segera setelah ayam menetas dan sebelum dikirim ke kandang. Vaksinasi ini dilakukan dengan cara injeksi sediaan vaksin secara subkutan (disuntikkan ke lapisan lemak tepat di bawah kulit) atau melalui metode semprot (coarse aerosol spray).
“DOC yang diberikan hatchery vaccine pasca hatching kondisinya akan lebih prima karena belum mengalami tantangan lapangan, seperti transportasi, penanganan ketika tiba di farm, serta tantangan penyakit di lapangan. Ditambah dengan kekebalan bawaan (innate immunity) DOC yang sudah berkembang dan berfungsi dengan baik, maka pemberian vaksin di hatchery akan memberikan respon optimal karena kuatnya gertakan di awal,” jelasnya pada Poultry Indonesia saat diwawancarai secara daring melalui aplikasi Zoom Meeting, Senin (20/6).
Pakan herbal sebagai imunomodulator
Secara alami, ayam sudah dibekali dengan sistem kekebalan tubuh. Namun, dengan kondisi lingkungan yang ada dan faktor X yang luar biasa tak terprediksi, kondisi kekebalan ayam bisa saja tidak optimal, sehingga dilakukan berbagai cara untuk mengintervensi hal tersebut, salah satunya adalah pemberian imunomodulator yang akan menggertak respon kekebalan pada unggas.
Memasuki tahun ke-4 pelarangan penggunaan Antibiotic Growth Promoter (AGP) pada pakan ternak, para pelaku industri perunggasan terus memutar otak agar ayam tetap terjaga kondisinya dan produksinya stabil. Salah satu jawabannya adalah penggunaan imunomodulator yang bersifat imunostimulan yang dapat meningkatkan fungsi sistem kekebalan yang saat ini berkembang dengan pesat.
Berbagai produk imunostimulan dibuat dan diproduksi dengan tujuan memelihara dan meningkatkan kekebalan tubuh serta memperbaiki sistem kekebalan tubuh yang menurun pada ayam. Dengan demikian, melalui pemberian imunostimulan, kekebalan atau daya tahan tubuh ayam selalu optimal. Salah satu imunostimulan yang saat ini sedang gencar digunakan, baik dalam bentuk produk jadi maupun ramuan self-mix peternak, adalah imunostimulan berbahan dasar herbal.
Melihat hal tersebut, drh. Nurul Hidayah, selaku Technical Solution Area Central PT Ganeeta Formula Nusantara, menyatakan bahwa pakan berbahan dasar herbal diibaratkan seperti lagu lama kaset baru. Menurutnya, penggunaan tanaman yang memiliki fungsi pengobatan untuk menjaga kesehatan merupakan sesuatu yang sudah ada sejak zaman dahulu. Namun, pakan herbal bisa menjadi alternatif dalam dunia perunggasan.
“Sumber alam hayati Indonesia yang melimpah, seperti jahe, sambiloto, temulawak, kunyit, temu ireng, dan lain sebagainya dapat dimanfaatkan sebagai imbuhan dalam pakan ayam yang mampu menunjang kesehatan ayam. Penggunaan herbal pada pakan sebagai feed additive memiliki fungsi untuk meningkatkan pertumbuhan ayam dengan mempengaruhi proses metabolisme tubuh menjadi lebih baik,” terangnya pada Poultry Indonesia melalui wawancara tertulis, Jumat (17/6).
Nurul mengatakan bahwa karena kandungannya yang kaya akan flavonoid, folatil, asam amino, asam lemak, tanin, saponin, vitamin, dan karotenoid, maka berfungsi sebagai imunomodulator, pakan berbasis herbal juga memiliki sifat antioksidan, antibakteri, antiparasit, antifungi, dan antivirus yang ramah lingkungan tanpa efek samping.
“Sebagai contoh, temulawak, jahe, dan jintan dapat merangsang sekresi air liur serta meningkatkan sintesis asam empedu di hati dan ekskresinya dalam empedu, sehingga proses pencernaan dan absorbsi lipid meningkat. Lalu, kandungan Cinnamomum burmanii pada kayu manis dapat meningkatkan jumlah sel limfosit T (CD4 dan CD8) yang memberikan keuntungan dalam melawan agen penyakit yang masuk serta mempercepat proses recovery pada ayam yang terjangkit penyakit,” terangnya.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari rubrik Laporan Utama yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia edisi Juli 2022. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153