Brooding pada ayam (sumber gambar: https://agritech.tnau.ac.in/)
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Musim hujan menjadi sebuah tantangan sendiri bagi peternak dalam hal kesehatan ternaknya. Pada musim ini, peternak akan dihadapkan pada kondisi lingkungan yang basah, temperatur yang rendah, kadar oksigen yang rendah, dan kelembapan yang tinggi.
Beberapa kondisi tersebut menjadikan ayam stres sehingga lebih rentan terhadap serangan penyakit, sehingga strategi yang tepat dibutuhkan sebagai langkah antisipasi terhadap hal tersebut.
Tony Unandar selaku Private Poultry Consultant dalam presentasinya memaparkan bahwa terdapat tiga konsep dasar yang Tony sebut dengan ‘Tiga Serangkai’ untuk kemunculan penyakit yaitu unggas, patogen, dan lingkungan.
“Kita perlu sadari bahwa jika terjadinya penyakit, maka ada ketidakseimbangan dari tiga komponen ini dan musim hujan merupakan contoh ketidakseimbangan lingkungan,” tuturnya dalam webinar Poultry Indonesia Forum#8 melalui Zoom, Sabtu (6/2).
Perubahan lingkungan yang ekstrem pada saat musim hujan akan berpengaruh pada keadaan di dalam kandang, baik pada kandang bersistem open maupun closed house. Oleh karena itu langkah manajerial diperlukan untuk mencegah terjadinya penyakit serta mendukung pengobatan dari penyakit itu sendiri.
“Jika kita hanya mengandalkan obat saja, misalnya dalam kondisi koksidiosis diberikan obat tetapi tidak memperbaiki kondisi lingkungan dalam kandang, maka begitu berhenti program pengobatannya, kasusnya akan kambuh lagi,” jelasnya.
Tony menekankan bahwa untuk menangani patogen, program biosekuriti merupakan hal pertama yang perlu diperhatikan dan dilakukan. Terdapat tiga barier dari biosekuriti yaitu fisik, kimia, dan logikal.
Baca Juga: Penerapan Konsep Dasar Biosekuriti
“Pada barier fisik misalnya, kita usahakan lingkungan pemeliharan ayam patogennya rendah. Misal pada saat kosong kandang, kita perlu perhatikan patogen apa saja yang sering muncul dalam kandang, sehingga menjadi mengerti apa saja strategi yang harus dilakukan. Contohnya harus berapa lama kosong kandangnya kemudian jenis desinfektan yang harus digunakan,” paparnya.
Sementara itu, Prof. Dr. drh. Michael Haryadi Wibowo, MS selaku Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada turut menjelaskan bahwa pada musim penghujan ini perlu diwaspadai kondisi stres akan memberikan respons yang bervariasi pada ayam dari segi metabolik, fisiologis, dan hormonal.
“Jika stres berlanjut, maka hormon yang digunakan untuk pertumbuhan dan produksi akan berkurang, sehingga dapat mengganggu homeostasis. Lebih jauh akan menimbulkan kematian,” jelasnya.
Senada dengan Tony, Michael menambahkan bahwa biosekuriti diperlukan untuk mencegah penyakit, tetapi yang perlu diperhatikan yaitu adanya pembersihan sebelum desinfeksi dan kontak dari desinfektan itu sendiri. Tidak ketinggalan, monitoring kesehatan unggas yang menjadi data penting dalam peternakan harus dicatat secara teratur seperti data titer antibodi dan data sensitivitas antibiotik.
“Dari data-data yang didapatkan dari laboratorium, banyak kasus dari sampel E. coli dan Gallibacterium anatis yang memiliki resistensi yang cukup tinggi terhadap berbagai obat,” ungkapnya.