Tumpukan jagung yang sudah dipanen
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Jagung merupakan salah satu bahan pakan yang penting bagi ternak unggas. Dominasi dari jagung pakan ini menjadikan kualitasnya perlu diperhatikan, salah satunya cemaran mikotoksin.
Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih, M.Ec selaku pengamat agribisnis mengatakan bahwa pengendalian mikotoksin memang cukup sulit, tetapi jika tidak dikendalikan akan menimbulkan kerugian pada hewan dan manusia.
Bungaran yakin jika mikotoksin dapat dikendalikan di Indonesia maka produk dari pertanian, dalam hal ini jagung maupun peternakan di Indonesia seperti susu, telur, dan daging akan lebih diminati oleh mancanegara, sehingga dapat memperluas jangkauan ekspor Indonesia.
Sementara itu, Caleb Wurth selaku Assistant Regional Director US Grains Council Malaysia dalam presentasinya mengatakan bahwa pada setiap tahapan dari produksi jagung hingga diolah memiliki tingkatan cemaran yang berbeda.
“Di Indonesia dan Malaysia ketika musim hujan tiba, maka kelembapan akan ikut tinggi. Kondisi tersebut menjadikan jamur dapat berkembang sangat baik,” jelasnya pada webinar “Pentingnya Pengendalian Mikotoksin pada Jagung Pakan”, melalui Zoom, Rabu (31/3).
Masih menurut Caleb, kualitas jagung ini perlu diperhatikan karena kualitas jagung yang baik dapat menghasilkan produk yang baik juga untuk menunjang performa produksi dari hewan.
Oleh sebab itu, infrastruktur penanganan jagung, program keamanan pakan, dan peraturan harus diperhatikan dan diterapkan dengan baik untuk menjamin keamanan dari awal sampai pengguna akhir.
Dari segi nutrisi, Prof. Dr. Ir. Budi Tangendjaja selaku ahli nutrisi ternak mengatakan bahwa jagung memiliki peranan penting, utamanya pada monogastrik salah satunya unggas.
Baca Juga: New Mobile Corn Dryer Ramaikan Panen Raya Jagung di Tuban
“Ransum monogastrik seperti ayam dan babi utamanya biji-bijian yaitu sekitar 40-60%. Di Asia, biji-bijian yang dipakai yaitu jagung,” paparnya.
Budi menjelaskan bahwa rusaknya jagung akan memengaruhi kualitas pakan, hal ini disebabkan karena ketika jagung tersebut ditumbuhi jamur, maka nutrisi dalam jagung akan diserap oleh jamur untuk perkembangannya.
“Nutrisi yang akan hilang pada jagung seperti vitamin, asam amino, dan energi. Jamur yang tumbuh tersebut juga akan menimbulkan resiko yang lebih tinggi untuk menghasilkan mikotoksin,” ujarnya.
Dari 300 jenis mikotoksin yang teliti, terdapat 6 jenis mikotoksin yang menjadi fokus penelitiannya pada ternak, terutama dampak kesehatannya. Di Indonesia, aflatoxin dan ochratoxin jumlahnya lebih dominan, namun jika bahan pakan diimpor dari negara subtropis, maka cemaran fusarium juga perlu diwaspadai.
“Aflatoksin menjadikan kerja hati semakin keras, sehingga hatinya menjadi rusak. Jenis mikotoksin ini juga dapat menimbulkan imunosupresi,” kata Budi Tangendjaja.
Penanganan dari mikotoksin ini salah satunya dimulai dari pemilihan bibit. Berdasarkan pengalaman dirinya, kadar air jagung di beberapa negara bagian Amerika saat dipanen sudah mencapai 13-15%.
Kadar air jagung tersebut rata-rata 15,7%. Oleh sebab itu menurutnya harus diatur dari bibit dan sistem penanaman supaya menghasilkan jagung yang dipanen memiliki kadar air yang rendah.
Budi Tangendjaja berpesan bahwa dalam pengendalian mikotoksin membutuhkan pendekatan secara komprehensif dari pra panen sampai pasca panen.