Hidangan ayam kecap bagian sayap
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Panca Krida Kemandirian Pangan Nusantara, seperti yang dicetuskan oleh Guru Besar Fakultas Peternakan UGM Prof Dr. Ali Agus. Kelima panca krida itu yakni: pertama, komitmen politik dan sinergisitas kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan pelaku usaha; kedua, optimalisasi pemanfaatan sumber daya lahan dan air untuk produksi protein hewani; ketiga, pemandirian proses produksi protein hewani; keempat, promosi dan pembudayaan pola konsumsi pangan protein hewani; dan kelima, penguatan kelembagaan dan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Penerapan lima gerak nyata tersebut dapat mengakselerasi kemandirian pangan protein hewani dalam negeri, yang memiliki indikator yakni cukup volume dan keragaman secara kesuluruhan, baik di tingkat nasional maupun wilayah; tersedia merata di setiap pemukiman setiap waktu, harga stabil dan terjangkau. Dalam kemandirian itu pula, opsi impor adalah juga suatu keniscayaan, namun hal itu semata-mata sebagai pelengkap saja.
Upaya memenuhi kebutuhan pangan protein hewani dari produk hasil unggas yang menjadi andalan pasokan sumber protein hewani juga perlu dioptimalkan, terutama dari sisi rantai pasok dan distribusinya. Hal itu dikarenakan walaupun total produksinya sangat mencukupi, namun jika terjadi gangguan dalam distribusi, akan mengakibatkan pula gangguan penyediaan produk hasil unggas. Hal ini perlu ditekankan, apalagi dalam masa pandemi, berbagai kebijakan pencegahan COVID-19 baik di pusat maupun daerah tentu akan membatasi mobilitas, jam operasional pelaku usaha, jam kerja pasar, kafe, toko dan berbagai outlet lain. Kendala distribusi produk hasil unggas tersebut bisa berdampak pada kelebihan suplai di tingkat peternak sehingga harga jatuh. Penurunan harga tentu akan berdampak pada penurunan pendapatan peternak yang berefek lanjutan pada terbatasnya modal usaha pemeliharaan unggas pada periode berikutnya.
Baca Juga: ILC Gelar Webinar Pentingnya Pangan Penghasil Protein Hewani
Untuk mengatasi sistem rantai pasok produk sumber protein hewani tersebut, maka dapat dilakukan berbagai inovasi, antara lain dengan inovasi kebijakan logistik protein hewani untuk mengatasi masalah rantai pasok, dengan melibatkan organisasi peternak, koperasi, swasta nasional, atau badan usaha milik daerah atau milik negara yang khusus bergerak di bidang penyediaan pangan.
Hal ini penting dilakukan agar jika sistem distribusi produk hasil unggas dapat berjalan efisien hingga ke tingkat masyarakat, maka peternak akan dapat menerima tingkat pendapatan yang lebih baik, di atas harga pokok produksi. Demikian juga dengan konsumen, dapat menikmati produk hasil unggas dengan harga terjangkau. Sistem logistik produk protein hewani tersebut perlu dilakukan inovasi berbasis teknologi 4.0, khususnya blockchain, untuk menjamin akurasi data dan koneksi hulu-hilir perunggasan.
Solusi rantai pasok protein hewani asal unggas juga dapat dilakukan dengan cara memperluas akses peternak dan kelompok ternak pada pemasaran daring untuk memperpendek rantai pasok unggas yang dihasilkannya dengan melibatkan koperasi dan badan usaha milik desa. Pemasaran daring saat ini adalah solusi yang efektif, namun perlu dibangun infrastukturnya secara lebih luas hingga ke masyarakat menengah ke bawah yang biasa dengan pasar tradisional.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi November 2020 dengan judul “Mengoptimalkan Kemandirian Pangan Protein Hewani Hasil Unggas”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153