POULTRYINDONESIA, Jakarta – Perubahan cuaca yang semakin tidak menentu dalam beberapa tahun terakhir mulai dirasakan dampaknya oleh sektor peternakan unggas. Memasuki masa pancaroba, fluktuasi suhu dan kelembapan yang ekstrem terbukti mempengaruhi performa ayam, mulai dari konsumsi pakan hingga kesehatan ternak.
Hal ini disampaikan oleh Dudung Abdul Malik selaku Research and Development Farmsco Feed Indonesia pada Rabu, (11/3/2026). Ia juga menyampaikan kondisi cuaca saat ini jauh lebih sulit diprediksi dibandingkan beberapa tahun lalu.
“Siklus musim hujan dan kemarau sekarang tidak menentu. Ini berdampak langsung ke ayam, terutama pada konsumsi pakan yang cenderung turun saat suhu tinggi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, saat terjadi heat stress, ayam akan mengurangi konsumsi pakan untuk menekan panas metabolisme tubuh. Di sisi lain, konsumsi air justru meningkat sebagai mekanisme pendinginan alami. Ketidakseimbangan ini berpotensi menyebabkan defisiensi nutrisi jika tidak diantisipasi dengan baik.
“Kalau feed intake turun, otomatis suplai energi, protein, vitamin, dan mineral juga ikut turun. Ini yang akhirnya berpengaruh ke performa, bahkan bisa menurunkan pertumbuhan hingga 5–10 persen,” tambahnya.
Selain faktor konsumsi, kondisi lingkungan kandang juga menjadi tantangan tersendiri. Kelembapan tinggi akibat sisa musim hujan membuat litter menjadi lebih basah, yang berpotensi meningkatkan kadar amonia dan memicu gangguan pernapasan.
Hal senada disampaikan oleh Agus Damar selaku Technical Department Manager Romindo pada Selasa, (10/3/2026), ia menilai bahwa perubahan iklim dalam satu dekade terakhir telah meningkatkan risiko stres pada ayam.
“Perubahan cuaca sekarang lebih ekstrem. Kadang panas panjang, lalu tiba-tiba hujan terus. Kondisi ini membuat ayam mudah stres dan imunitasnya turun,” jelasnya.
Menurutnya, stres akibat lingkungan akan memicu berbagai masalah lanjutan, seperti peningkatan kadar amonia di kandang. Hal ini terjadi karena ayam yang stres cenderung lebih banyak minum dan menghasilkan kotoran yang lebih cair.
“Kotoran yang basah akan meningkatkan amonia. Kalau ventilasi tidak optimal, gas ini akan naik dan merusak saluran pernapasan ayam. Ini yang kemudian membuka peluang penyakit seperti CRD,” tambahnya.
Kondisi tersebut diperparah jika manajemen kandang tidak mampu beradaptasi dengan cepat. Sistem kandang terbuka (open house), misalnya, dinilai lebih rentan terhadap perubahan cuaca dibandingkan kandang tertutup yang memiliki kontrol lingkungan lebih baik.
Peternak disarankan untuk menyesuaikan manajemen selama masa pancaroba. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mengatur waktu pemberian pakan pada saat suhu lingkungan lebih rendah, seperti pagi atau malam hari. Selain itu, peternak juga disarankan untuk memperhatikan kualitas ventilasi, menjaga litter tetap kering, serta memastikan ketersediaan air minum yang cukup.
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Poultry Indonesia