POULTRYINDONESIA, Jakarta – Berkomitmen untuk secara berkelanjutan membangun dunia perunggasan melalui diskusi keilmuan, Poultry Indonesia kembali menggelar Poultry Indonesia Forum (PIF) seri ketiga dengan tema ‘Hilirisasi Sektor Perunggasan’ melalui aplikasi Zoom, Sabtu (24/10).
drh. Tjahjani Widiastuti selaku Kasubdit Pengolahan, Direktorat PPHNak, Ditjen PKH mengatakan bahwa pada saat pandemi terjadi penurunan permintaan terhadap daging ayam sekitar 43,2% akan tetapi suplai dalam kondisi surplus produksi. Oleh karena itu, diperlukan penataan hilirisasi untuk menstabilikan harga ayam di pasaran.
Menurutnya, hilirisasi sendiri telah menjadi program yang dikembangkan dan menjadi fokus oleh pemerintah.
“Hilirisasi ini juga didukung oleh terjadinya COVID-19 di mana pola konsumsi masyarakat menjadi berubah, lebih ke makanan jadi atau yang sudah diolah dan memudahkan pada saat PSBB ini,” tuturnya.
Baca Juga: Munas Nampa Industri Olahan Daging Harus Siap Hadapi Era Disrupsi
Senada dengan Tjahjani, drh. Sigit Pambudi selaku Public Relation Asosiasi Rumah Potong Hewan Unggas Indonesia (ARPHUIN) mengatakan bahwa pergeseran preferensi masyarakat saat COVID-19, yaitu masyarakat menginginkan bahan pangan yang lebih higienis, memilih tempat penjualan yang nyaman untuk dijadikan lokasi belanja, harga produk yang terjangkau, dan jika memungkinkan dapat diantar ke rumah.
Hal tersebut menjadi sebuah peluang bagi industri perunggasan untuk merambah ke sektor hilir seperti membuka meat shop di komplek perumahan dan menjual produk tersebut secara online.
“Jadi mendekatkan produk kepada konsumen, masyarakat tidak perlu susah-susah ke pasar atau keluar rumah,” ucapnya.
Sementara itu, pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Galih Tantyo Yuwono, S.Pt selaku petermak broiler dan pemilik dari Juicy Chicken yang mengatakan bahwa di samping dari adanya peluang, terdapat beberapa tantangan yang pasti ditemukan dari lini usaha baru, atau dengan kata lain merambah ke usaha hilir. Hal tersebut mulai dari permodalan dan analisa risiko kerugian.
“Kelemahannya dari usaha online misalnya, apakah konsumen akan puas jika hanya melihat gambar saja? Jadi setiap lini usaha memang ada tantangan dan risikonya. Itu yang perlu dipikirkan dan dicari solusinya,” jelas Galih.