Oleh : Ahmad Safik, A.Md*
Di tengah pertumbuhan permintaan produk unggas yang kuat, pasar perunggasan Jepang masih berupaya menyeimbangkan antara pasokan dan permintaan.
Industri perunggasan menjadi salah satu sektor agribisnis yang maju dan berkontribusi signifikan terhadap kebutuhan pangan negara Jepang. Dengan tingkat konsumsi daging ayam dan telur yang tinggi, Jepang mengembangkan sistem produksi yang terintegrasi dan berorientasi pada kualitas untuk memenuhi permintaan pasar domestik yang besar. Selain itu, Jepang juga dikenal dengan tradisi kuliner yang begitu kuat dan diikuti dengan standar kualitas dan keamanan pangan yang ketat, sehingga proses produksi unggas menjadi perhatian khusus di negara ini. Kendati demikian, tentu beberapa tantangan juga masih dihadapi oleh perunggasan di Negeri Sakura ini. Dimana ketergantungan pada barang impor hingga ancaman penyakit menjadi persoalan yang masih harus dipecahkan.
Pertumbuhan demand produk perunggasan
Di mata dunia, Jepang telah lama dikenal dengan tradisi kuliner dan standar kualitas makanan yang tinggi. Dan seiring berjalannya waktu hal tersebut turut mendorong perubahan yang cukup signifikan dalam dinamika pasar perunggasan di Jepang. Pasalnya, meskipun permintaan ayam tinggi, keseimbangan pasar melemah karena pasokan yang turut ikut meningkat.
Produk perunggasan telah lama menjadi makanan pokok dalam menu pangan di Jepang, disukai karena keserbagunaannya dan manfaatnya bagi kesehatan. Hidangan seperti yakitori (sate ayam panggang), karaage (ayam goreng), dan oyakodon (semangkuk nasi berisi ayam dan telur) sangat popular di tengah masyarakat Jepang. Bahkan kemashuran menu makanan tersebut telah merambah ke masyarakat dunia.
Sementara itu di ranah global, permintaan ayam pun terus meningkat seiring tren pola makan sehat, di mana banyak konsumen memilih ayam dibandingkan daging merah karena kandungan lemaknya yang lebih rendah. Menurut laporan Rabobank Global Poultry Quarterly Q4 2024, menyebutkan bahwa prospek pasar unggas global tahun ini optimis. Mengingat pertumbuhan konsumsi yang meningkat di Eropa, Tiongkok, Timur Tengah, Asia Selatan, dan Asia Tenggara, pertumbuhan konsumsi global untuk tahun 2024 diperkirakan sebesar 2,5% hingga 3% dibandingkan dengan 1,1% pada tahun 2023 dan 0,6% pada tahun 2022. Hal ini menandai kembalinya ke level historis setelah beberapa tahun pertumbuhan yang lambat.
Dalam laporan tersebut juga dijelaskan bahwa pertumbuhan permintaan produk unggas ini telah menguntungkan bagi industri di sebagian besar wilayah. Namun untuk Asia Timur Laut merupakan pengecualian, dengan kelebihan pasokan yang berkelanjutan di Tiongkok dan Jepang. Pasalnya industri unggas di kedua negara tersebut tumbuh di atas tingkat pertumbuhan rata-rata jangka panjang, yang mengarah pada harga yang relatif rendah, peningkatan stok, dan tekanan pada impor.
Kemudian, apabila melasir laman https://www.wattagnet.com/ menyebutkan bahwa terjadi peningkatan konsumsi sebesar 1,6%, yang tidak termasuk daging ayam olahan di Jepang. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya frekuensi konsumen makan di luar rumah. Laporan tersebut juga menyatakan bahwa karena upah yang menurun, lebih banyak konsumen memilih daging ayam karena harganya lebih terjangkau daripada daging sapi atau babi. Tren berhemat ini diperkirakan akan terus berlanjut sepanjang tahun 2024.
Masih dari sumber yang sama, mencatat bahwa harga grosir daging paha naik secara musiman sepanjang akhir 2023. Namun, stok beku yang tidak terjual selama musim panas menahan kenaikan harga tersebut. Sementara itu, harga daging dada tetap lebih terjangkau. Diperkirakan harga daging paha akan turun pada awal 2024.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Internasional pada majalah Poultry Indonesia edisi Januari 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Januari 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754 atau sirkulasipoultry@gmail.com










