Oleh : Elis Helinna*
Menurut laporan terakhir produk protein hewani dari Rabobank, proyeksi pasar unggas global masih akan terus meningkat. Didorong oleh pertumbuhan konsumsi daging unggas sebesar 1,5% hingga 2% dan juga pertumbuhan supply yang stabil dari negara-negara produsen.
Setelah 4 tahun mengalami kondisi yang sangat tidak menentu, pasar perunggasan global bergerak ke arah yang lebih normal. Perdagangan global diharapkan menjadi semakin kompetitif daripada dua tahun terakhir akibat perubahan arus perdagangan.
Kendati terdapat peningkatan 2% pada harga ayam global, namun ayam masih merupakan pilihan sumber protein yang paling kompetitif, dibandingkan harga daging sapi yang meningkat 5% dan daging babi yang naik 4%. Operasional masih merupakan bagian yang kritis bagi produsen. Harga pakan ternak telah mencapai titik terendah setelah dua tahun terus mengalami penurunan, dan saat ini mulai naik (sebesar 1%) dikarenakan hasil panen biji-bijian Brazil, Amerika Utara dan Eropa yang turun di luar prediksi. Menurut Nan-Dirk Mulder, analis senior protein hewani Rabobank, hasil produksi bahan baku pakan harus lebih dimaksimalkan dan formulasi pakan harus dioptimalkan, terutama karena risiko musim La Nina akan berdampak pada hasil panen biji-bijian.
“Sebagian besar pertumbuhan global ini lebih didorong oleh kondisi pasar lokal daripada perdagangan internasional. Hal ini khususnya terjadi pada pasar-pasar di wilayah Asia Tenggara, Asia Selatan, Afrika, dan Amerika Latin,” ujar Mulder. Harga pakan yang lebih rendah membuat ayam kian terjangkau, mendorong pemulihan demand. Performa Uni Eropa dan Amerika terbilang bagus tahun ini, dengan demand yang relatif kuat, pertumbuhan produksi yang terkontrol, dan harga yang meningkat. Perkecualian dari kondisi pasar yang kuat ini adalah Cina dan Jepang, yang industrinya mengalami angka pertumbuhan yang terlalu ambisius diatas 3% tahun ini, yang berdampak negatif pada profitabilitas lokal. Sementara itu Brazil yang sebelumnya juga menuju oversupply, saat ini mulai mengurangi produksi untuk menyeimbangkan pasar.
Pada kuartal pertama 2024, perdagangan unggas global turun 5% dibanding periode yang sama tahun lalu. Penyebab utamanya adalah saat itu Cina mengurangi 40% impor.”Pasar domestik Cina yang lemah serta overproduksi menjadi penyebab turunnya perdagangan secara signifikan. Negara-negara eksportir utama ke Cina seperti Brazil, Amerika Serikat, dan Rusia semua merasakan penurunan perdagangan negeri Tirai Bambu,” kata Mulder. Diharapkan negara-negara pemasok ini akan menemukan pasar baru, utamanya untuk bagian kaki ayam dan paha ayam untuk menggantikan pasar Cina. Tambahan lagi, kuota impor Uni Eropa yang baru untuk Ukraina juga akan memengaruhi perdagangan ayam global, khususnya untuk bagian dada dan ayam utuh, terutama karena Ukraina akan mencari pasar-pasar alternatif.
Avian influenza juga masih menjadi masalah bagi industri perunggasan global. Oleh karenanya fokus yang kuat pada penerapan biosecurity sangat diperlukan untuk mitigasi risiko. Kemungkinan kasus avian influenza saat ini kembali ke belahan bumi Selatan, dengan adanya wabah di Australia, Afrika Selatan yang masih berlanjut, dan Amerika Latin. Wabah-wabah ini bisa saja mengarah pada perubahan aliran perdagangan global, baik ekspor maupun impor.
Tantangan dalam distribusi juga berpotensi menjadi masalah dalam perdagangan unggas global, terutama dengan adanya ketegangan geopolitik di wilayah Laut Hitam, serangan di Laut Merah, dan kekeringan yang memengaruhi ketinggian air di Terusan Panama. Dengan adanya perubahan rute melalui jalur-jalur selatan, tantangan-tantangan tersebut akan berpengaruh pada perdagangan unggas global, termasuk bahan baku dengan biaya produksi yang meningkat, pasokan yang tertunda, dan ketersediaan kontainer yang terkendala.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Internasional pada majalah Poultry Indonesia edisi September 2024. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi September 2024, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754 atau sirkulasipoultry@gmail.com










