POULTRYINDONESIA, Jakarta – Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru 2026, berbagai asosiasi perunggasan nasional memastikan bahwa pasokan ayam dan telur tetap aman dengan harga yang stabil. Kolaborasi antara peternak, pelaku industri, dan pemerintah dinilai menjadi kunci dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga komoditas unggas nasional.
Wakil Sekretaris Jenderal Garda Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Wayan Suadnyana, menyatakan pihaknya optimistis harga ayam akan tetap stabil hingga akhir tahun. Ia menegaskan bahwa kenaikan harga di pasar belakangan ini tidak berkaitan dengan pasokan ayam yang sejatinya masih mencukupi.
“Dari bulan Juni hingga September, pasokan ayam masih stabil. Jadi, kenaikan harga ayam tidak berhubungan dengan kekurangan suplai,” ujarnya di Jakarta, Sabtu (25/10/2025).
Menurut Wayan, dengan harga ayam hidup di kandang berkisar Rp21.500–22.500 per kilogram dan harga Day Old Chick (DOC) sekitar Rp6.500–7.500, keuntungan yang diterima peternak masih dalam batas wajar. “Keuntungan peternak saat ini masih sangat wajar. Tetapi sering kali ada oknum yang memainkan harga di pasar hingga harga naik,” katanya menegaskan.
Ia menambahkan, dengan harga ayam di kandang tersebut, harga wajar di tingkat konsumen seharusnya berada di kisaran Rp35.000 hingga Rp37.000 per kilogram. Wayan juga menepis anggapan bahwa kenaikan harga ayam dipicu oleh program Makan Bergizi Gratis (MBG). “Program MBG memiliki sistem kontrak harga yang stabil dan volumenya relatif kecil dibandingkan produksi nasional. Jadi tidak mungkin menyebabkan fluktuasi harga,” jelasnya.
GOPAN memastikan keseimbangan antara harga pakan, DOC, dan ayam hidup masih terjaga berkat kerja sama antara peternak, perusahaan pembibit unggas, dan pemerintah. “Kolaborasi ini penting untuk menjaga ekosistem perunggasan nasional tetap sehat,” ujar Wayan.
Sementara itu, Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) juga menyatakan dukungan terhadap langkah pemerintah menstabilkan harga telur ayam ras. Ketua Bidang Pemantauan Harga dan Gerakan Pangan Murah (GPM) Pinsar Indonesia, Samhadi, mengatakan pihaknya terus berkolaborasi dengan pemerintah dalam menjaga harga komoditas unggas agar tetap terjangkau. “Kami selalu hadir dalam setiap kegiatan stabilisasi harga pangan. Diharapkan harga ayam dan telur dapat terus terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat,” ujar Samhadi di Jakarta, Minggu (26/10/2025).
Saat ini, harga telur ayam ras di pasar konsumen berada di kisaran Rp31.500–32.500 per kilogram, sementara di tingkat peternak Rp26.000–28.000 per kilogram. Samhadi menegaskan bahwa harga tersebut masih berada di bawah Harga Acuan Pemerintah (HAP). “Kenaikan harga telur masih di bawah HAP, yaitu sekitar Rp26.000 per kilogram di peternak dan kurang dari Rp30.000 di tingkat konsumen,” jelasnya.
Menurut Samhadi, salah satu tantangan utama dalam menjaga stabilitas harga telur adalah tingginya harga pakan, terutama jagung. Ia berharap pemerintah dapat mempercepat distribusi jagung dari program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) agar harga pakan lebih terkendali. “Sekitar 50 persen bahan pakan ayam petelur berasal dari jagung. Jika pasokan jagung dalam negeri stabil, peternak akan lebih mudah menahan laju kenaikan harga telur,” tuturnya.

Dari sisi industri pemotongan unggas, Wakil Ketua Asosiasi Rumah Potong Unggas Indonesia (ARPHUIN), Sigit Pambudi, memastikan stok daging ayam nasional aman hingga tahun depan. “Konsumen tidak perlu khawatir, industri perunggasan sudah mempersiapkan kebutuhan dalam negeri bahkan berpotensi surplus,” ujarnya di Jakarta, Sabtu (25/10/2025).
Sigit menegaskan, para anggota ARPHUIN siap mendukung pemerintah dalam menjaga keseimbangan pasar dan tidak serta-merta menaikkan harga jual ketika harga ayam hidup naik. “Sebagian besar pelanggan kami menggunakan sistem kontrak, baik mingguan, bulanan, bahkan ada yang tiga bulanan. Jadi kenaikan harga tidak langsung berdampak ke konsumen,” jelasnya.
Senada dengan itu, Ketua Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), Achmad Dawami, menyebut kondisi harga ayam saat ini masih dalam koridor sehat dan sesuai dengan Harga Acuan Penjualan (HAP). “Kondisi harga saat ini merupakan bentuk penyesuaian alami pasar dan masih dalam koridor yang sehat. Harapan kami, stabilitas ini dapat terus terjaga hingga akhir tahun dan berlanjut ke awal 2026,” ujarnya.
Dawami menegaskan bahwa stok ayam nasional dalam kondisi aman dan terkendali berkat koordinasi antara peternak, perusahaan pembibit, dan pemerintah. “Ketersediaan ayam hidup, pakan, dan DOC tetap terjaga. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir menghadapi akhir tahun,” katanya menutup.
Dengan sinergi kuat antara asosiasi peternak, industri, dan pemerintah, pasokan ayam dan telur nasional diyakini akan tetap stabil hingga awal tahun depan. Pemerintah pun diharapkan terus memperkuat koordinasi lintas sektor agar keseimbangan ekosistem perunggasan nasional tetap terjaga di tengah fluktuasi harga pangan global. PI