POULTRYINDONESIA, Jakarta – Kendati sering mengalami fluktuasi harga, sektor pangan tetap mengalami perkembangan positif selama pandemi COVID-19. Hal ini dikemukakan oleh  Menteri Koordinator Bidang Perekonomian , Airlangga Hartarto pada sambutannya dalam sebuah webinar daring melalui aplikasi zoom membahas terkait pasokan pangan jelang puasa dan lebaran, yang digelar oleh Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Jumat (18/3).
Baca juga : Unhas Secara Resmi Angkat Menteri Pertanian SYL sebagai Profesor Kehormatan
Menurut Airlangga, khusus untuk menyambut puasa  dan lebaran yang akan datang, pemerintah telah menyiapkan berbagai kebijakan yang berfokus pada tiga isu utama, yakni ketersediaan, keterjangkauan dan harga pangan..
“Hal-hal yang diperhatikan yakni penyediaan sarana dan prasarana produksi, ketersediaan stok hingga bahan-bahan produksi. Selain itu, dilakukan juga penguatan dukungan BUMN transportasi dalam mendistribusikan pangan dari daerah yang surplus pasokan ke daerah yang tinggi permintaannya,” jelasnya.
Selanjutnya menurut Oke Nurwan, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyatakan bahwa berdasarkan data, inflasi bahan pakan justru banyak terjadi di momen pergantian tahun. Sementara itu, di bulan Puasa dan Lebaran angka inflasi relatif terkendali dan tidak perlu ditakuti. Namun terdapat beberapa komoditi yang sering kali terjadi fluktuasi harga yang cukup tinggi ketika puasa dan lebaran, sehingga perlu dipersiapkan. Produk hasil unggas baik daging maupun telur ayam ras, seringkali menjadi komodii yang mewarnai inflasi ketika momen puasa dan lebaran selama 4 tahun ke belakang.
“Menurut hemat saya, untuk daging dan telur ayam ras cukup dan bahkan di proyeksi surplus ketika bulan puasa dan lebaran. Sehingga yang perlu diperhatikan adalah bagaimana tingkat kesejahteraan peternak,” tegasnya.
Lebih lanjut terkait perunggasan, Staf Ahli Menteri Perindustrian Bidang Iklim Usaha dan Investasi, Andi Rizaldi menjelaskan terkait dinamika jagung untuk industi pakan serta daging unggas. Berdasarkan data dari Simpakan Kementan, bahan baku jagung (kadar air 15%) yang disuplai pada industri pakan pada Tahun 2021 sebesar 6.181.373 ton, jumlah ini lebih rendah dibandingkan suplai jagung pada Tahun 2020 sebesar 6.490.382 ton. Hal ini disebabkan oleh harga jagung yang stabil tinggi selama tahun 2021. Harga jagung mulai mengalami penurunan di Januari 2022, dengan harga rata-rata nasional sebesar Rp. 4.470/kg. Menyoal dinamika jagung menurut Andi dibutuhkan Buffer stock jagung nasional dan kebijakan importasi jagung nasional yang disesuaikan.
Selain itu, dirinya juga menyinggung terkait mechanically deboned meat (MDM) dan boneless yang merupakan bahan baku utama industri pengolahan daging nasional. Menurutnya untuk supply boneless sudah dapat dipenuhi dalam negeri, namun untuk MDM masih belum.
”Pemenuhan kekurangan kebutuhan MDM ayam kunci untuk memproduksi olahan daging yang lebih murah dan berdaya saing dibandingkan negara lain yang memenuhi bahan baku industri dari impor MDM, seperti Malaysia dan Filipina. Namun, saat ini permohonan rekomendasi impor tidak diproses oleh Kementan,” ujarnya.