POULTRYINDONESIA, Jakarta – Sudah menjadi pola umum ketika menjelang momen Hari Besar Keagamaan Nasioanl (HBKN) terkhusus puasa dan lebaran, harga Barang Kebutuhan Pokok Penting (Bapokting) termasuk daging dan telur ayam mengalami kenaikan. Besar harapan kepada pemangku kepentingan sektor perunggasan untuk dapat memenuhi kebutuhan bahan pangan protein hewani masyarakat.
Namun, kerap kali kenaikan harga jual di tingkat konsumen tidak dirasakan oleh peternak. Oleh karena itu, Badan Pengembangan Peternakan Indonesia (BPPI) dan Indonesia Livestock Alliance (ILA) melaksanakan Indonesia Livestock Club (ILC) ke-25 dengan tema “Kesiapan Industri Perunggasan Menyambut Bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri”, yang dilaksanakan secara daring via Zoom, Rabu (22/3).
Acara ini dihadiri oleh Kepala Seksi Ternak Unggas, Direktorat Pembibitan dan Produksi Ternak Kementan, Iqbal Alim, yang membahas mengenai kesiapan pemerintah dalam pengendalian produksi pada momentum puasa dan lebaran. Ia menyampaikan, bahwa secara pasokan telur dan daging ayam, untuk menghadapi momen puasa dan lebaran tahun ini aman. Namun demikian yang harus diperhatikan adalah disparitas harga yang tinggi antara di peternak dan konsumen, terkhusus di pedaging. Dimana ketika harga di konsumen stabil tinggi, rerata harga livebird tingkat peternak di beberapa sentra produksi masih berada di bawah HAP (Harga Acuan Perbadan). Berbeda dengan harga jual telur yang relatif stabil dan  memiliki disparitas harga yang tidak jauh antara produsen dan konsumen.
“Sampai di  minggu ke-2 Maret, rataan harga livebird di tingkat peternak masih di angka Rp18.360/Kg, bahkan di Jawa Tengah masih berada di angka Rp16.975/Kg. Kalau harga telur relatif stabil baik di tingkat produsennya maupun konsumen, yang kami waspadai adalah jangan sampai harga telur ini melonjak tinggi. Untuk data, di tingkat produsen berada di angka kurang lebih Rp26.500/Kg, sedangkan harga di tingkat konsumennya saya cek berada di kasaran Rp29.000 – 30.000/kg,” kata Iqbal.
Dalam upaya stabilisasi harga, ia mengatakan bahwa pemerintah aktif melakukan pengendalian produksi DOC FS melalui surat himbauan penyesuaian produksi Nomor 13068/PK.230/F/12/2022 tanggal 13 Desember 2022. Pengendalian produksi DOC FS per tanggal 17 Desember 2022 – 28 Januari 2023 terealisasi sebesar 100% atau sebanyak 42.666.491 ekor.
Pun, pengendalian cutting HE fertil sebesar 78.26%. Kemudian, pengendalian produksi DOC FS dilakukan kembali melalui surat Dirjen PKH Nomor B-16/PK.230/F/02/2023. Dari target total sebanyak 104.406.921 ekor, realisasinya per 21 Maret 2023 sebanyak 36.804.281 ekor. Sedangkan pengendalian cutting HE fertil per 25 Februari – 21 Maret 2023 sebanyak 27.284.716 ekor (26.13%).
Baca Juga: Harga Melambung Tinggi, Pinsar Petelur Nasional Salurkan Jagung Subsidi
Melanjuti Iqbal, Ketua IV Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), Asrokh Nawawi memberikan analisa gambaran industri perunggasan yang terjadi saat ini. Menurutnya, pemerintah senantiasa memastikan pasokan daging ayam dalam negeri sebagai salah satu Bapokting untuk tetap stabil dan tersedia bagi masyarakat. Terlebih, saat ini momen menyambut bulan puasa dan di tengah harga bahan baku jagung lokal yang sedang menaik menjadi perhatian utama.
“Pada HKBN, terjadi lonjakan permintaan daging ayam dan telur. Kemudian, ketersediaan bahan baku jagung melonjak sudah sekitar 1 minggu terakhir relatif ekstrem kenaikan harganya, yang sebelumnya harga jagung di Rp5.000, sekarang menjadi Rp6.000 bahkan lebih. Kemudian ancaman impor karkas dari luar negeri juga tetap harus diwaspadai oleh pemerintah agar ketahanan pangan nasional bisa tercapai,” tuturnya.
Terkait neraca, Asrokh mengatakan, setiap tahunnya mengalami surplus. Pada tahun 2021,  Indonesia mengalami surplus sebanyak 290 juta ekor ayam, dan tahun 2022 surplus sebanyak 498 juta ekor, serta prognosa tahun 2023 juga mengalami surplus sebanyak 433 juta ekor. Ia menyadari bahwa ini menjadi tantangan langganan industri perunggasan nasional yang dihadapkan dengan anomalinya permintaan.
“Kita lihat di tahun 2018, impor GPS kita sebanyak 744 ribu ekor, kemudian menjadi 761 ribu ekor di tahun 2019. Turun menjadi 694 ribu ekor di tahun 2020 dan turun lagi di tahun 2021 menjadi 642 ribu ekor. Kemudian di tahun 2022 di angka 630 ribu ekor. Di tahun 2023 ini kami impor GPS 660 ribu,” lanjut Iqbal.
Sementara itu, CEO PT Integrasi Teknologi Unggas (BroilerX), Prastyo Ruandhito, S.Pt melanjutkan pembahasan kondisi terkini industri perunggasan nasional. Menurutnya, penurunan konsumsi rumah tangga maupun serapan industri pada momen Covid-19 menyebabkan stok gudang masih terlampau banyak. Ia menyampaikan bahwa kepentingan baik pelaku usaha unggas, pemerintah, dan akademisi harus bersinergi menyelesaikan perunggasan nasional secara profesional untuk menghasilkan produk hasil unggas yang berdaya saing.
“Peternak harus mulai berfikir bagaimana cara mengembangkan produk dengan market spesifik atau keluar dari raw poultry market dengan menambahkan added value,” ujarnya.
Turut hadir pula Prof. Dr. Ir. Muladno, MSA selaku Guru Besar dan Kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University. Ia mengatakan, permasalahan yang terjadi pada industri ayam ras pedaging harus diselesaikan dengan membangun sistem. Sebuah sistem yang diusung olehnya adalah Sinthia Pedaging. Sebuah sistem yang berbasis konsep Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) yang realistis dan futuristik. 
“Sistem integrasi horizontal industri ayam, yang kami beri nama Sinthia Pedaging harus mulai dibangun. Dalam sistem ini, pelaku usaha mulai dari usaha budi daya, RPHU, dan cold storage harus saling bergandengan. Program ini akan berjalan ketika didampingi oleh perguruan tinggi dan pemerintah Kabupaten atau Kota,” papar Muladno.