Oophoritis pada ayam yang diakibatkan oleh G. anatis (dok: Prof. Dr. drh. Michael Haryadi W)
oleh: drh. Esti Dhamayanti*
Faktor virulensi yang terkandung dalam Gallibacterium anatis dikenal dengan GtxA (Gallibacterium toxin A), toksin yang berada pada biovar haemolytica. Biovar ini menghasilkan zona beta-hemolitik di sekitar koloni yang berkembang pada agar darah. Pada hewan, toksin ini dapat menyebabkan hemolisis pada eritrosit dan leukotoksik pada makrofag cell line HD11 ayam (Kristensen et al. 2010). Tambahan lainnya, enzim Metaloprotease pada bakteri juga dapat mendegradasi IgY pada unggas (Persson dan Bojesen 2015).
Bakteri juga memiliki Fimbria F-17 yang berfungsi untuk melekatnya bakteri pada permukaan sel mukosa inang maupun sarana untuk berkolonisasinya bakteri. Kapsula pada bakteri juga dapat berfungsi sebagai perlekatan (adhesi) dan untuk melindungi bakteri dari sistem imun inang (Persson dan Bojesen 2015).
Gallibacterium anatis dapat memproduksi biofilm yang dapat memperpanjang proses infeksi serta meningkatkan resistensi bakteri. Komponen untuk memproduksi biofilm ini salah satunya adalah Outer Membrane Vesicle (Persson dan Bojesen 2015).
Identifikasi dan penanganan penyakit
Identifikasi lebih lanjut untuk memastikan keberadaan G. anatis yaitu dengan isolasi sampel dari jantung, hati, ovarium, dan paru-paru. Sampel yang dibiakan dalam agar darah untuk melihat morfologinya dan uji biokimia dasar (katalase, oksidase, urea, indol, nitrat, dan tumbuhnya pada Mac Conkey Agar), sedangkan pengujian lebih spesifik lagi dapat dilakukan dengan pemeriksaan Internal Transcribed Spacer Polymerase Chain Reaction (ITS-PCR). “Untuk mengidentifikasi bakteri G. anatis sebenarnya dapat menggunakan uji sederhana saja, jadi tidak terlalu sulit,” ujarnya.
Sebelum terjadinya penyakit, maka tindak pencegahan ini perlu dilakukan untuk meminimalkan kerugian akibat kematian dan penurunan produksi/performa akibat penyakit. Tindakan tersebut dapat dilakukan dengan perbaikan manajerial yang termasuk di dalamnya biosekuriti, sanitasi, desinfeksi, meminimalkan faktor imunosupresi seperti stres dan mikotoksin, dan mengendalikan vektor penyakit.
Mengingat bahwa G. anatis merupakan bakteri, maka penanganan penyakit dari bakteri ini dapat menggunakan antibiotik, namun resistensi terhadap antibiotik juga sudah ditemukan pada bakteri ini. Michael menyebutkan bahwa dari sampel yang ia teliti, yaitu sampel pertama yang hanya ditemukan bakteri G. anatis dan sampel kedua berupa G. anatis + E. coli, keduanya memiliki pola resistensi yang berbeda. Antibiotik yang dipakai untuk uji sensitivitas tersebut di antaranya Gentamicin, Erythromycin, Ampicillin, Tetrasiklin, Streptomycin, Enrofloxacin, dan Doxycyclin.
Baca Juga: Waspada Bahaya Mikotoksin di Musim Penghujan
“Isolat pertama cenderung lebih sensitif pada hampir semua antibiotik sementara isolat kedua, hampir semuanya resisten. Ini akan berpengaruh pada manajemen pengobatan dalam peternakan,” ujarnya. Beberapa penelitian lainnya turut menyebutkan bahwa isolat Gallibacterium yang didapatkan dari ayam resisten terhadap novobiocin, tylosin, clindamycin, spectinomycin, tetracycline, dan penisilin.
Michael menegaskan bahwa untuk mengurangi atau mencegah resistensi bakteri, maka diperlukan pemahaman mengenai penggunaan antibiotik. Seperti kepatuhan dalam pemakaian antibiotik, melihat drug of choice, dosis, dan ekskresi dari obat. “Jika obat ekskresinya cepat, misalnya diberikan di pagi hari, maka di pertengahan hari Minimum Inhibition Concentration (MIC)nya sudah turun. Itu bisa jadi yang menjadi salah satu pemicu resistensi antibiotik,” ucap Micahel. *Wartawan Poultry Indonesia
Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel Majalah Poultry Indonesia edisi April 2021 dengan judul “Tingkatkan Kewaspadaan Hadapi Infeksi Gallibacterium anatis”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153