POULTRYINDONESIA, Jakarta – Persoalan stunting telah menjadi hal serius yang menjadi prioritas penanganan pemerintah. Tak tanggung-tanggung, isu ini mendapatkan perhatian khusus dari Presiden, dimana pada 2024 mendatang ditargetkan pravalensi angka stunting nasional sebesar 14%. Hal ini cukup beralasan, karena angka stunting nasional masih tergolong tinggi. Pada tahun 2021, angka prevalensi stunting Indonesia sebesar 24,4 %, sedangkan standar WHO adalah 20 %, sehingga angka stunting di Indonesia masih tinggi.
Melihat hal tersebut, Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), bersama Kongres Wanita Indonesia (Kowani) dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyelenggarakan Seminar dengan tema  “Meningkatkan Awarness Orang Tua untuk Mengonsumsi Daging Ayam dan Telur pada Anak”, yang dilaksanakan di Hall Auditorium BKKBN, Selasa (8/11).
Ketua Umum Asohi, Irawati Fari menyampaikan bahwa pada usianya yang ke 43 tahun, Asohi ingin turut serta mengambil bagian dalam upaya pengentasan stunting dengan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengkonsumsi protein hewani. Acara ini juga merupakan rangkaian dari peringatan dari ulang tahun Asohi ke – 43. Dirinya melanjutkan, bahwa asosiasi juga telah melakukan edukasi konsumsi protein hewani dan membagikan 4300 kotak berisi ayam dan telur kepada anak-anak di Sekolah Dasar (SD) diberbagai daerah cabang Asohi.
“Ayam dan telur kami pilih sebagai pangan protein hewani yang bergizi dan terjangkau baik dari sisi harga maupun ketersediaan. Selain itu sebagai mitra pemerintah, Asohi juga senantiasa berkomitmen untuk bisa bekerjasama, yang dalam hal ini dengan BKKBN untuk terus melakukan edukasi dan menggaungkan peningkatan konsumsi protein hewani, terutama ayam dan telur. Kami sepenuhnya menyadari bahwa perlu kerjasama dari berbagai lintas sektor untuk dapat mewujudkan penurunan angka stunting nasional,” jelas Ira dalam sambutan pembukanya.
Hal senada disampaikan oleh, Giwo Rubianto Wiyogo, selaku Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Melalui video sambutan dirinya juga menyerukan ajakan kolaborasi untuk dapat menurunkan angka pravalensi stunting, sesuai dengan apa yang ditargetkan oleh Bapak Presiden.
“Saya berharap dengan edukasi yang terus dilakukan, dapat menyadarkan para orang tua untuk bisa menyediakan protein hewani, baik dari ayam dan telur dalam menu makanan sehari-hari,” imbuhnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Pelatihan, penelitian dan pengembangan (Lalitbang) BKKBN Prof. drh. M.Rizal M Damanik, MRep.Sc, PhD menyampaikan bahwa dalam rangka menciptakan SDM yang cerdas dan berkualitas demi mencapai pembangunan yang berkelanjutan, maka penurunan angka stunting harus diupayakan.
“Diharapkan dengan adanya kolaborasi lintas sektor ini dapat memberikan dampak besar dan luas bagi masyarakat. Khususnya pada percepatan penurunan stunting yang bertujuan menurunkan prevalensi stunting, meningkatkan kualitas penyiapan kehidupan berkeluarga, menjamin pemenuhan asupan gizi, memperbaiki pola asuh, meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan, hingga meningkatkan akses air minum dan sanitasi,” tegasnya.
Dalam seminar tersebut turut dihadiri oleh Tenaga Ahli Set Wapres Dr Susianah Affandy MSi, yang membawakan materi terkait Program Pemerintah untuk Percepatan Penurunan Kasus Stunting pada Anak. Kemudian pada pembahasan kedua terkait Program BKKBN untuk Penurunan Kasus Stunting pada Anak disampaikan oleh Deputi Kepala Bidang Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan BKKBN Prof Damanik. Serta pembicara ketiga dari Praktisi Kesehatan Anak, dr Triza Arif Santosa SpA membawakan materi terkait Pentingnya Konsumsi Gizi Protein Hewani (Daging Ayam dan Telur) untuk Menunjang Kesehatan Anak dan Mencegah Stunting.