Para pekerja di tempat pengolahan ayam
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Penyebaran COVID-19 yang cepat dan masif sangat berdampak bagi sektor perunggasan AS. Sebagaimana diketahui, berdasarkan data Food and Agriculture Organization (FAO), AS merupakan negara penghasil daging unggas terbesar di dunia dengan porsi 18% dari produksi global. Sementara itu, terlampir pada halaman statista.com, produksi daging unggas AS pada tahun 2019 mencapai lebih dari 19 juta ton. Produksi sebesar itu tentu melibatkan banyak sekali pekerja dari hulu sampai ke hilir. Munculnya COVID-19 pun membayangi para pekerja itu dan menghambat proses penyediaan komoditas unggas bagi konsumen.

Dunia dikejutkan dengan kemunculan Virus Corona jenis baru yang menjadi cikal-bakal penyakit menular Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Penyakit ini telah menjadi pandemi yang menjangkit jutaan manusia, tak terkecuali para pekerja industri perunggasan di Amerika Serikat (AS).

Tara Williams, wanita berusia 47 tahun, adalah satu dari ribuan pekerja yang merasa cemas atas penyebaran COVID-19. Ia telah menyaksikan sendiri bagaimana rekan kerjanya, Elose Willis, menderita karena penyakit tersebut hingga akhirnya meninggal dunia. Williams yang bekerja untuk Tyson Foods di Camilla, Georgia, menganggap bahwa perusahaan terkesan lambat dalam menangani kasus ini.
Menanggapi kasus meninggalnya salah satu pekerja di Camilla, Tyson Foods mengatakan bahwa kejadian itu tidak ditutupi. Bahkan, terdapat momen berkabung bagi Willis yang dilakukan oleh para manajer di Camilla. Perusahaan juga menyatakan telah menerapkan kebijakan tinggal di rumah bagi para pekerja ketika merasa sakit dengan upah yang tetap dibayar. Namun, hingga berita kematian Willis merebak di media, pihak perusahaan belum juga bersedia membuka data berapa banyak pekerjanya yang positif terjangkit COVID-19.
Baca Juga: COVID-19 Membuat Sektor Perunggasan Tiongkok Terganggu
Kondisi para pekerja yang berada dalam ancaman COVID-19 itu justru bertolak belakang dengan keinginan Presiden Trump. Dilansir oleh The Atalanta Journal-Constitution (AJC), Presiden menginginkan agar sektor pengolahan daging AS terus berlanjut secara maksimal tanpa gangguan. Hal itu dimaksudkan agar ketersediaan pangan AS dapat tetap stabil dan kebutuhan warga terhadap protein hewani tetap terpenuhi. Para pekerja di sektor pangan pun harus menjadi garda terdepan untuk mewujudkan hal tersebut.
Sebuah laporan pada Daily Mail mengatakan, terdapat ketakutan andai AS kehabisan stok daging karena industri pengolahan yang tutup akibat penyebaran COVID-19; suatu kondisi yang memutuskan rantai suplai dari peternak hingga ke retail. Sejak pandemi pecah bulan lalu, pemotongan hewan telah menyusut karena sebagian industri pemrosesan daging telah tutup. Oleh karenanya para pekerja yang sehat diharapkan tetap datang ke pabrik pemrosesan daging untuk bekerja. Roda industri harus terus berjalan.
Ketidakhadiran para pekerja di sektor pemrosesan daging telah terasa dampaknya oleh pihak peternak. Michele Minton, Director of Live Operations for Allen Harim Foods, mengatakan, para pembudi daya unggas terpaksa memotong jumlah populasi ternaknya. Langkah yang diambil sejak pertengahan April lalu itu adalah bentuk efisiensi agar bisnis tetap bertahan.PI
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Juni 2020 dengan judul ”Pekerja Industri Perunggasan AS dalam Bayang COVID-19”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153