Kumpulan broiler yang dipelihara pada kandang
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Industri peternakan sempat dihantam oleh ketidakpastian pasar selama 2020 akibat pandemi COVID-19 yang melanda seluruh dunia.
Melihat kondisi tersebut, Indonesia Livestock Club series 15 mengundang para ketua asosiasi yang bergerak di bidang peternakan untuk menyampaikan pandangannya terkait bisnis peternakan 2020 dan prediksi untuk tahun 2021 dengan tema ‘Menjaga Optimisme Industri Peternakan 2021’ secara virtual melalui aplikasi Zoom, Sabtu (12/12).
Acara yang diselenggarakan berkat kerja sama antara Indonesia Livestock Alliance, Badan Pengembangan Peternakan Indonesia dan Majalah Poultry Indonesia tersebut dihadiri kurang lebih 200-an peserta dari seluruh Indonesia.
Menurut Prof. Nahrowi selaku Ketua Asosiasi Ilmu Nutrisi Indonesia (AINI) menyatakan bahwa bisnis di sektor peternakan masih sangat menjanjikan walaupun tantangan yang dihadapi oleh industri peternakan semakin kompleks.
Baca Juga: INDEF: Industri Perunggasan Perlu Ditata Ulang
Nahrowi berujar, walaupun banyak tantangan yang tidak dapat diprediksi dan berubah dengan sangat cepat, juga ditambah dengan pandemi COVID-19 yang tidak tahu kapan berhenti, AINI masih menganggap industri peternakan itu masih sangat menjanjikan.
Sementara itu, menurut Sigit Pambudi, perwakilan dari Asosiasi Rumah Potong Hewan Unggas Indonesia (Arphuin) menyebutkan bahwa setiap adanya tantangan selalu ada peluang.
Sigit berkata semua segmen mengalami kelesuan baik ritel, resto, maupun katering yang sangat memengaruhi bisnis rumah potong.
“Di balik semua tantangan ini, ada peluang yang baik untuk kami misalnya saat ini masyarakat sudah mulai terbiasa dengan daging beku. Kami selalu mengampanyekan bahwa daging frozen itu aman untuk dimakan, akhirnya di masa pandemi ini baru terasa hasil kampanye yang sudah kami lakukan bertahun-tahun untuk daging beku,” kata Sigit.
Tanggapan lain juga disampaikan oleh Ketua Umum GPMT, Desianto B Utomo, yang menyatakan bahwa efisiensi adalah kunci jika ingin bertahan dalam menghadapi tantangan industri pakan dan perunggasan.
Desianto mengingatkan bahwa efisiensi diperlukan untuk menghalau ancaman utama dari sektor perunggasan yaitu disrupsi produk karkas dari Brasil.
“Mengapa Brasil bisa menghasilkan ayam yang murah karena Brasil merupakan penghasil jagung dan kedelai dunia sehingga bisa menekan biaya terbesar yaitu pakan,” ucap Desianto.
Selain itu, jika berdasarkan pandangan dari pelaku usaha agribisnis, Audy Joinaldy, berujar bahwa setiap pandemi yang terjadi di dunia tentu akan menyebabkan tatanan hidup yang baru.
Sepanjang pandemi COVID-19, ternyata mampu meningkatkan produk pertanian sebanyak 40%, maka dari itu insan peternakan harus awas akan perubahan seperti pemasaran, pola produksi, dan distribusi.
“Peluang itu masih ada, karena konsumsi akan protein hewani kita itu masih sangat rendah,” tutup Audy.
Dalam diskusi tersebut, hadir juga asosiasi seperti ASOHI, HPDKI, GKSI, PDHI, ISPI, Gopan, Pinsar Indonesia, MIPI, PPSKI, dan lain-lain.