Oleh: drh. Istianah Maryam Jamilah MVS
Tidak ada lagi kandang baterai di Selandia Baru tahun ini. Tahun 2023 penggunaan kandang baterai pada industri ayam layer adalah ilegal setelah peraturan tentang pelarangan kandang baterai telah dibuat selama 10 tahun sejak tahun 2012 resmi diberlakukan. Kandang baterai di Selandia Baru kini telah digantikan oleh kandang koloni, kandang litter (umbaran), ataupun bebas sangkar yang memenuhi persyaratan kesejahteraan hewan untuk peternakan ayam petelur.
Mulai 1 Januari lalu, di Selandia Baru sudah tidak ada lagi ayam petelur yang dipelihara di kandang baterai. Pada dua bulan pertama pelarangannya, terjadi kegaduhan di masyarakat, pegiat kesejahteraan hewan dan di level peternak.
Perjalanan usaha pelarangan kandang baterai di Selandia Baru
Tahun 2022 adalah tahun terakhir masa transisi dari kandang baterai ke kandang koloni. Kode Kesejahteraan Ayam Petelur atau The Animal Welfare (Layer Hens) Code of Welfare 2012) adalah peraturan yang mengatur pemeliharaan ayam petelur yang sesuai dengan kesejahteraan hewan. Yang mana dalam dokumen ini penggunaan kandang baterai di Selandia Baru tidak dibenarkan.
Pemerintah Selandia Baru memberlakukan masa transisi selama 10 tahun yang berakhir pada tahun 2022. Menurut Federasi Peternak Ayam Petelur Selandia Baru (Egg Producers Federation New Zealand), tahun 2012 sekitar 86% ayam petelur dipelihara di kandang baterai. Tahun 2016, proporsi ayam Selandia Baru yang dipelihara di kandang baterai ini turun menjadi 67%. Sedangkan pada Desember 2022 hanya 10% ayam petelur yang dipelihara di kandang baterai, 33% di kandang koloni, 24% di kandang litter dan 33% dipelihara dengan sistem bebas sangkar atau umbaran (free-range).
Kini izin penggunaan kandang baterai resmi dihapus pada tanggal 31 Desember 2022. Hal ini membuat per 1 Januari lalu, di Selandia Baru sudah tidak ada lagi ayam petelur yang dipelihara di kandang baterai. Namun, di setiap penetapan kebijakan, pastinya ada pro dan kontra. Di dua bulan pertama pelarangan kandang baterai di Selandia Baru, terjadi kegaduhan di masyarakat, pegiat kesejahteraan hewan dan di level peternak. Ternyata pelarangan ini, berimbas pada kurangnya suplai telur dan kelangkaan telur, harga yang meroket, belum puasnya pegiat kesejahteraan hewan serta perilaku konsumen yang memutuskan untuk beternak ayam sendiri.
Kandang koloni belum sepenuhnya bebas sangkar
Pelarangan kandang baterai tidak serta merta menjadikan ayam petelur hidup bebas sangkar di Selandia Baru. Peternak masih bisa memelihara ayamnya di kandang koloni, kandang umbaran ataupun free-range (bebas sangkar). Masih diperbolehkannya kandang koloni, berarti ayam tetap berada dalam kandang dan tidak ada akses ke luar kandang. Lingkungan kandang koloni berusaha mempertahankan manfaat dari sistem kandang baterai, namun dimodifikasi agar tercipta kesejahteraan hewan yang lebih baik dari kandang baterai.
Setiap kandang koloni, berisi 20-60 ayam, termasuk area sarang, tempat bertengger, dan alas gores. Fasilitas ini memungkinkan ayam petelur dapat mengekspresikan perilaku alami utamanya yaitu bersarang, bertengger dan mencakar. Kandang koloni memiliki 1) area bersarang yang tertutup, tempat ayam bertelur, 2) area bertengger juga tersedia untuk semua ayam, 3) Bantalan untuk menggaruk dan mematuk 4) makanan dan air selalu tersedia, 5) Adanya sabuk bergerak yang terus menerus menangkap dan membuang kotoran untuk menjaga kebersihan dan kesejahteraan ayam di kandang. Kandang koloni juga bisa dibangun bertingkat seperti kandang baterai, sehingga bisa cukup menghemat ruangan dan mengizinkan efisiensi ekonomi.
Komite Penasihat Kesejahteraan Hewan Nasional Selandia Baru (NAWAC), yang menyusun Kode Kesejahteraan Ayam Petelur 2012, menganggap kandang koloni sebagai lingkungan yang lebih baik untuk ayam dibanding kandang baterai. NAWAC adalah panel independen yang terdiri dari pakar kesejahteraan hewan yang ditunjuk oleh pemerintah Selandia Baru.
Meskipun penggunaan kandang baterai telah dilarang tahun 2023 ini, dan penggunaan kandang koloni telah disetujui oleh NAWAC, para pemerhati kesejahteraan hewan seperti SAFE dan SPCA belum berbahagia dan masih menentang kebijakan pemerintah yang mengizinkan kandang koloni. Para pemerhati kesejahteraan hewan ini berargumen bahwa dengan masih diperbolehkannya pemeliharaan dalam kandang koloni, sejumlah besar ayam petelur masih disimpan di dalam kandang. Kandang koloni menurut mereka adalah kandang baterai dengan versi lebih besar yang mampu menampung lebih banyak ayam.
Meskipun langkah besar Selandia Baru untuk melarang penggunaan kandang baterai pada peternakan ayam belum membuat semua pihak bahagia, langkah Selandia Baru tetap perlu diapresiasi, karena peraturan ini hanyalah awal yang baik untuk kesejahteraan ayam petelur. Dimasa depan, diharapkan peraturan ini masih bisa berkembang dan berubah ke arah yang lebih baik, dimana ayam bisa melihat sinar matahari, menghirup udara segar, menapakkan kaki di lantai dan diumbar bebas di padang agar bisa mengekspresikan perilaku alamiahnya.
Kelangkaan telur di akhir 2022 hingga awal 2023
Sama seperti halnya negara di berbagai belahan di dunia, peternak Selandia Baru juga terkena beragam masalah seperti, perang di Ukraina-Rusia yang telah menaikkan harga pakan, inflasi yang menyebabkan kenaikan biaya produksi dan pemeliharaan, serta penyakit menular yang masih terus mengganggu jumlah populasi ayam. Masalah-masalah tadi ditambah dengan transisi dari kandang baterai ke kandang koloni yang ternyata menjadikan peternak perlu memikirkan ulang strategi bisnisnya agar tidak merugi. Imbasnya, jumlah ayam petelur di Selandia Baru telah menurun drastis dari 4.2 juta menjadi 3.4 juta dalam waktu 18 bulan.
Menurut data Stats NZ, terjadi penurunan produksi telur terbesar dalam hampir 10 tahun terakhir. Melansir infometrics.co.nz produksi telur Selandia Baru turun sebanyak 9,1% pada tahun 2022 produksi telur mencapai lebih dari 92 juta lusin sedangkan tahun 2021 mencapai 101,2 juta lusin. Penurunan ini cukup signifikan dan merupakan tingkat produksi telur terendah sejak tahun 2016.Tahun 2022 tercatat terjadi kenaikan harga telur yang signifikan hingga 16-26% dari tahun sebelumnya, yaitu sekitar NZD 5 (Sekitar Rp. 47.000) per lusin tahun 2021, Tahun 2022 akhir sempat mencapai lebih dari NZD 6 (Sekitar Rp. 56.900) per lusin (gambar 3).
Suplai yang berkurang tapi permintaan yang justru meningkat, inflasi juga menyebabkan orang memilih sumber protein hewani yang murah seperti telur. Selandia Baru tidak dapat menutup suplai yang berkurang dengan impor telur karena alasan biosecuriti dan penyebaran virus avian influenza. Hal ini menyebabkan harga telur meroket dan terjadi kelangkaan telur di pasaran. Bahkan beberapa supermarket membatasi pembelian telur agar menjaga stok telur di pasar. Kekurangan telur di toko-toko telah memicu kegilaan warga Selandia Baru membeli ayam petelur untuk dipelihara sendiri. Pada bulan Januari 2023, pencarian ayam petelur hidup di situs daring terbesar di Selandia Baru telah meningkat dua kali lipat, dan harganya semakin meningkat yang tadinya sekitar NZD 18 (sekitar Rp.170.000) per ekor, kini menjadi NZD$80 (sekitar Rp.758.000) per ekor.
Kekurangan suplai telur, membuat warga Selandia Baru mencoba beralih memelihara ayam sendiri dan diperkirakan bahkan bisa menjadi surplus dalam beberapa bulan kedepan. Gareth Van Heyden, CEO Better Eggs, mengatakan kepada kantor berita Stuff NZ (18/2) bahwa Better Eggs, salah satu perusahaan yang menyuplai 23% telur di pasar ritel menargetkan akan adanya peningkatan produksi sebesar 20% di tahun 2023 Menurutnya, rak supermarket yang hampir kosong akan penuh telur dalam hitungan bulan. Gareth juga berargumen bahwa kenaikan harga telur di awal tahun memang diperlukan agar petani menghasilkan uang untuk diinvestasikan kembali di tengah naiknya harga produksi dan perubahan sistem peternakan yang melarang kandang baterai. *Koresponden Poultry Indonesia di Selandia Baru, Mahasiswa PhD Animal Production and Welfare di Massey University, New Zealand
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Internasional pada majalah Poultry Indonesia edisi Maret 2023. Baca selengkapnya pada majalah Poultry Indonesia edisi Maret 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com
Menyukai ini:
Suka Memuat...