PIF 18 digelar untuk memberikan gambaran pemanfaatan teknologi yang bisa meningkatkan kualitas budi daya ayam
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Sektor perunggasan dilatarbelakangi oleh industri perunggasan yang sangat strategis dan ditopang oleh Industri yang mandiri, namun di sisi lain masih banyak persoalan yang menghantui. Baik ayam ras pedaging maupun ayam ras petelur, dituntut untuk bisa berproduksi seefisien mungkin. Pemanfaatan teknologi merupakan salah satu kunci agar Industri perunggasan bisa berproduksi secara efisien.  
Pemanfaatan teknologi dapat mempermudah manusia dalam melakukan kegiatan budi daya. Setiap hal yang baik dalam pemanfaatan teknologi sudah sepatutnya diadopsi dan diadaptasi, namun sisi lain dari pemanfaatan teknologi, juga harus dipersiapkan agar industri perunggasan menjadi industri yang berkeadilan bagi setiap pelaku yang berkecimpung di dalamnya. Berangkat dari hal ini, Poultry Indonesia menyelenggarakan Poultry Indonesia Forum (PIF) edisi ke 18 yang bertema ‘Disrupsi Teknologi Dunia Perunggasan, Ancaman atau Peluang?’ secara virtual via Zoom, Sabtu (7/8).
Baca Juga : Menyambut Lustrum ke XV FKH UGM Gamavet Gelar Seminar Manajemen dan Penyakit Layer
Dalam pemaparannya Mar’iy Muslih Muttaqin, selaku Senior Manager Product Development PT Sreeya Sewu Indonesia menyampaikan bahwa Internet of Things (IoT) merupakan suatu konsep atau ide dimana sebuah objek atau perangkat keras memiliki kemampuan untuk mengambil data yang kemudian diransmisikan atau dikrimkan melalui jaringan internet hingga bisa berinteraksi langsung atau tak langsung dengan manusia atau komputer.
Penerapan teknologi di kandang dapat mencegah dan meminimalkan kesalahan karena faktor manusia, mempermudah dalam manajemen kandang, memudahkan dalam memantau menejemen oprasional. Digitalisasi kandang sendiri dapat mendokumentasikan secara digital melalui sensor, sehingga relatif lebih aman dan meminimalisasi kemungkinan bocor atau hilangnya data. Pencatatan yang lebih rapi dan akurat juga memudahkan pemilik kandang untuk mengolah data.
“Pada prinsipnya, penerapan IoT ini bukan untuk menggantikan manusia dan pekerjaannya, namun untuk menggantikan budaya kerjanya. Gambaran ke depan tentang industri perunggasan dengan diterapkannya IoT, diharapkan peternakan lebih ramah lingkungan dan kita memiliki standar di industri perunggasan ini sendiri,” papar Mar’iy.
Pemaparan dilanjutkan oleh Agung Suyono, selaku Wakil Direktur Agung Farm yang juga mengamini pendapat Mar’iy bahwa inovasi teknologi pada industri perunggasan dapat meminimalkan risiko kebocoran data. Penerapan teknologi di kandang dapat mengurangi beban kerja dan memaksimalkan produksi, salah satunya dapat memprediksi jumlah kilo pakan yang tepat untuk suatu flock. Prediksi-prediksi ini kan menekan kos produksi, sehingga imbasnya juga dapat menstabilkan harga di pasaran.
”Penerapan IoT bisa kandang layer yang selama ini kami lakukan antara lain, sensor kadar amonia (NH3), sensor suhu, kelembaban, dan kecepatan angin, sensor penghitung berat telur, hingga sensor penghitung jumlah butir telur. Data ini akan disimpan di Cloud dan Sensor Amonia akan mengirimkan notifikasi ketika kadar amonia melampaui batas tertentu,” ungkapnya.
Baca Juga : Peternak Layer diimbau Untuk Bergabung ke Koperasi
Disrupsi teknologi di dunia perunggasan juga disampaikan dari sudut pandang makro lebih lanjut oleh Dr. Ir. Arief Daryanto, Dip.Ag.Ec., M.Ec, selaku Dekan Sekolah Vokasi IPB University. Menurutnya, perubahan terjadi secara konstan dan tidak dapat dihindari. Disrupsi pada peternakan disetir oleh pertumbuhan ekonomi dan daya beli, pertambahan populasi, peningkatan urbanisasi, dan perkembangan teknologi.
Inovasi teknologi pada Peternakan memberikan keuntungan tersendiri antara lain meningkatkan produktivitas dan efisiensi, memperbaiki kondisi lingkungan kerja yang kemudian akan berdampak pada membaiknya kualitas produk, dan meningkatkan ketangkasan para pemilik Peternakan dan anak kandang.
Baca Juga : Panen Raya 44.000 Ekor Ayam di Kandang Modern Percontohan Kolaborasi IPB University dan CPI
”Jika ditanya, apakah disrupsi teknologi ini merupakan peluang atau ancaman, jawaban saya adalah coba miliki kelincahan dan keterampilan dalam menghadapi tantangan. Para peternak, terutama mahasiswa peternakan, diharapkan memiliki kemampuan belajar yang tangkas dalam mengidentifikasi masalah dan menghadapinya. Disrupsi teknologi ini merupakan ancaman jika kita bukan pelaku disrupsi atau jika kita tidak siap akan perubahan,” jelasnya.