Oleh : Muhammad Zainurrohim*
Kabupaten Jepara sejak dulu dikenal sebagai daerah penghasil kerajinan kayu, rotan, ukir, dan furnitur. Dengan kebiasaan masyarakat Kabupaten Jepara yang menggantungkan hidupnya sebagai pengrajin furnitur, menjadikan Jepara mendapatkan julukan sebagai kota ukir. Akan tetapi, di tengah anomali masyarakat yang terjadi, tentu tidak serta merta 100% populasi penduduk menggantungkan hidupnya sebagai pengrajin furnitur.
Kabupaten Jepara menjadi daerah yang potensial untuk perkembangan industri perunggasan. Berbagai daya dukung yang dimiliki daerah ini, sudah seharusnya dapat dimanfaatkan secara optimal oleh berbagai pemangku kepentingan yang ada.
Dalam perjalanannya, secara perlahan dari tahun ke tahun, menunjukkan bahwa Kabupaten Jepara menjadi daerah sentra industri baru yang membantu masyarakat menemukan pekerjaannya. Hal ini menunjukkan bahwa ruang industri mendapatkan respon positif di masyarakat. Seperti halnya industri yang bergerak di sektor peternakan, terutama unggas. Hal ini merupakan sebuah peluang yang potensial sebagai pengembangan usaha di daerah ini.
Faisal, selaku pelaku usaha kuliner (F&B) di Kabupaten Jepara ketika ditemui Poultry Indonesia, Senin (16/05) mengaku jika Kabupaten Jepara memiliki potensi yang tinggi untuk dijadikan sebagai tempat berdagang khususnya produk unggas, seperti daging dan telur. Menurutnya, masyarakat Kabupaten Jepara memiliki antusiasme dan kebiasaan konsumtif yang tinggi terutama di bidang makanan, sehingga bagi Faisal hal ini menunjukkan potensi yang tinggi apabila akan mendirikan sebuah usaha di bidang kuliner di Kabupaten Jepara.
“Menurut saya Kabupaten Jepara memiliki potensi yang tinggi sebagai daerah untuk mendirikan usaha di sektor kuliner (F&B). Masyarakat Kabupaten Jepara yang memiliki tingkat konsumerisme yang tinggi terutama di sektor kuliner atau makanan,” ungkapnya.
Faisal mengaku tidak memiliki kendala dalam mendapatkan bahan baku, karena untuk mendapatkan daging unggas sudah mudah untuk didapatkan di pasaran. Baginya, kendala harga yang fluktuatif lah yang membuat usahanya menjadi sulit untuk bergerak. Hal itu disebabkan margin yang didapatkan akan lebih sedikit apabila harga ayam sedang melambung tinggi.
“Kendala yang saya alami sebenarnya bukan berasal dari bagaimana cara mendapatkan bahan baku, akan tetapi karena harga ayam di pasar yang sering mengalami fluktuasi. Hal ini mengharuskan saya memutar otak agar mendapatkan keuntungan yang sama atau lebih tinggi dengan sebelumnya,” tegasnya.
Faisal menambahkan, bahwa umumnya masyarakat di Kabupaten Jepara ini cocok untu dijadikan sebagai segmentasi market usaha kuliner. Ia menjelaskan bahwa masyarakat Kabupaten Jepara memiliki karakteristik yang lebih konsumtif dengan makanan dengan harga yang kompetitif, tapi memiliki cita rasa yang lezat. Menurutnya, sebagai pengusaha kuliner, hal ini akan menjadi tantangan tersendiri karena harus menyuguhkan hidangan produk yang dapat diterima oleh masyarakat yang memiliki karakter selektif terhadap harga.
“Masyarakat Kabupaten Jepara memiliki tingkat selektivitas yang tinggi, terutama soal harga yang ditetapkan oleh pengusaha terhadap produknya. Sebaiknya, bagi pengusaha lebih menekankan bagaimana produknya diterima oleh masyarakat Kabupaten Jepara yang memiliki selektivitas terhadap harga,” tambahnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, di Kabupaten Jepara pertumbuhan usaha peternakan khususnya budidaya ayam ras pedaging bisa dikatakan cenderung naik. Terlebih adanya pola kemitraan yang dijalankan oleh beberapa perusahaan, membuat tumbuhnya antusiasme dari masyarakat. Hal ini membuat masyarakat mencoba mengambil peluang untuk melakukan budidaya ayam ras pedaging tersebut.
Seperti halnya yang dilakukan oleh Syaifudin, seorang peternak ayam ras pedaging dari Kabupaten Jepara. Ketika berbincang dengan Poultry Indonesia, Selasa (17/5) dirinya menjalankan usahanya dalam beberapa tahun terakhir karena melihat kesempatan tersebut sebagai peluang bisnis yang menjanjikan. Ia sendiri mengaku bahwa telah berpindah model kandang dari kandang open house ke closed house. Hal ini dikarenakan faktor efisiensi usaha dan keramahan terhadap lingkungan dengan populasi usaha 15000 ekor.
“Saya sudah pindah model kandang dari kandang open house ke closed house, karena dapat lebih mengefisienkan usaha budidaya dan lebih ramah terhadap lingkungan. Kandang closed house memberikan kesempatan pengusaha untuk mengatur lingkungan seperti suhu dan kelembaban yang menjadi acuan utama dalam kesuksesan budidaya ayam ras pedaging, sehingga apabila dua hal tersebut sudah dijalankan dengan baik, maka hasil yang didapatkan akan lebih menguntungkan,” jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa usaha yang dijalankannya adalah usaha berbasis kemitraan dengan perusahaan inti. Sedangkan dirinya bertindak sebagai peternak plasma yang mendapatkan sapronak (sarana produksi ternak) dari perusahaan inti. Menurutnya, adanya model tersebut memberikan angin segar bagi kalangan peternak, karena harga jual ayam akan sesuai dengan kontrak yang dilakukan dengan perusahaan inti.
“Saya menjalankan usaha ayam ras pedaging dengan skema kemitraan sudah sejak lama, sebelum menggunakan kandang closed house. Menurut saya dengan pola kemitraan seperti yang saya jalankan saat ini, dapat memberikan dampak positif bagi kalangan peternak. Hal ini dikarenakan harga jual ayam (livebird) di pasar disesuaikan dengan kontrak bersama dengan perusahaan inti,” ujarnya.
Ia mengaku tidak begitu terkendala dengan menjalankan pola tersebut dari waktu ke waktu. Baginya, kendala yang sering dialami adalah adanya persaingan yang tidak sehat antar usaha di wilayah. Namun hal tersebut tidak dijadikan sebagai hambatan untuk menjalankan budidaya agar hasil panen ayam sesuai dengan target yang diharapkan.
“Tidak begitu ada kendala yang saya hadapi dalam menjalankan usaha ini. Yang jelas, apabila yang saya jalankan ini sesuai dengan kontrak dengan perusahaan inti, maka semua akan berjalan sesuai yang saya targetkan” tambahnya.
Kabupaten Jepara memiliki peluang yang sangat baik apabila dijadikan sebagai tempat bagi kalangan pengusaha terutama pengusaha yang bergerak di sektor perunggasan. Adanya pertumbuhan penduduk yang selalu mengalami peningkatan per tahunnya, peningkatan daerah wisata, dan penambahan kawasan industri, menjadikan Kabupaten Jepara memiliki peluang tersendiri untuk dijadikan sebagai lahan usaha yang bergerak di sektor penghasil bahan baku pangan. Sudah seharusnya pemerintah melihat hal ini sebagai potensi untuk memakmurkan sebagian besar rakyatnya terutama di Kabupaten Jepara. *Koresponden Majalah Poultry Indonesia untuk Wilayah Jawa Tengah
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap rubrik Liputan Daerah dari Majalah Poultry Indonesia edisi Juni 2022. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153
Menyukai ini:
Suka Memuat...