Performa terbaik ditemukan pada grup B, yaitu kelompok ayam yang diberi pakan dengan substitusi 15% PKM fermentasi. Hasil ini merupakan efek dari peningkatan nilai gizi dan daya cerna PKM akibat proses fermentasi.
Dalam industri perunggasan, pakan merupakan komponen biaya tertinggi yang dapat mencapai 60–70% dari total biaya produksi. Ketergantungan pada bahan pakan konvensional seperti bungkil kedelai (soybean meal/SBM) membuat peternak sangat rentan terhadap fluktuasi harga global. Oleh karena itu, pencarian bahan pakan alternatif yang lebih ekonomis, tersedia secara lokal, dan tetap mendukung performa pertumbuhan ayam broiler menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi sektor ini.
Salah satu bahan alternatif yang berpotensi besar adalah bungkil inti sawit (BIS) atau palm kernel meal (PKM), produk sampingan dari agroindustri kelapa sawit yang jumlahnya berlimpah di negara-negara penghasil sawit seperti Indonesia dan Pakistan. 
Dalam penelitian terbaru yang dilakukan oleh Sindh Agriculture University Tandojam, Pakistan, dievaluasi penggunaan PKM fermentasi sebagai substitusi sebagian bungkil kedelai dalam pakan ayam broiler. Penelitian ini menjadi relevan karena SBM merupakan komponen pakan yang mahal dan sangat tergantung pada impor di banyak negara berkembang. 
Namun patut diingat, bahwa unggas termasuk dalam kelompok hewan monogastrik, dimana sistem pencernaannya lebih sederhana dibanding hewan ruminansia karena hanya memiliki satu lambung. Unggas, termasuk broiler, umumnya mengalami kesulitan dalam mencerna produk sampingan yang berserat tinggi karena kurangnya enzim pengurai serat yang diperlukan untuk memecah karbohidrat kompleks. 
Mengatasi tantangan ini, diperlukan pendekatan inovatif untuk mengolah zat berserat tinggi seperti PKM agar dapat dimanfaatkan secara efektif oleh unggas tanpa mengorbankan performa dan kesehatannya. Salah satu solusi yang menjanjikan adalah fermentasi, yaitu proses biologis menggunakan mikroorganisme tertentu untuk meningkatkan nilai nutrisi bahan pakan dan menurunkan kandungan antinutrisi seperti β-mannan dan serat kasar yang sulit dicerna oleh unggas.
Studi ini tidak hanya mengamati performa pertumbuhan broiler yang diberi pakan PKM fermentasi dan non-fermentasi, tetapi juga menganalisis kualitas karkas, komposisi daging, dan respons organ imun ayam. Temuan ini membuka peluang besar bagi industri peternakan di negara-negara tropis untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan pakan impor dan memanfaatkan limbah pertanian secara ekonomis dan berkelanjutan. 
Eksperimen ini menggunakan sebanyak 180 ekor ayam broiler strain Ross yang dibagi ke dalam tiga kelompok perlakuan. Kelompok A sebagai kontrol diberi pakan basal tanpa PKM, kelompok B diberi pakan dengan substitusi 15% PKM fermentasi, dan kelompok C dengan 15% PKM non-fermentasi.
Buah kelapa sawit (Elaeis guineensis) yang digunakan diperoleh dari perkebunan lokal di Pakistan. Kemudian melalui proses pengolahan tandan buah segar (TBS), inti sawit dipisahkan dari buah kelapa sawit dan diekstrak minyaknya menggunakan alat press. Bagian padat yang tersisa dari proses ini selanjutnya disebut sebagai bungkil inti sawit.
Pada perlakuan fermentasi, bagian dari buah kelapa sawit yang terletak di antara kulit buah (epikarp) dan biji (endokarp) yang disebut serat mesokarp digiling dan diinokulasi dengan bakteri atau jamur, lalu difermentasi selama 15 hari dalam kondisi suhu, pH, dan aerasi terkontrol. Setelah fermentasi selesai, bahan dikeringkan, digiling halus, dan diperoleh bungkil inti sawit terfermentasi.
Formulasi pakan dalam penelitian ini tetap disusun sesuai dengan kebutuhan broiler. Sebelum percobaan, komposisi nutrisi PKM dan SBM (soybean meal) dianalisis terlebih dahulu untuk mengetahui kandungan protein, profil asam amino, dan tingkat energi untuk menentukan penambahan yang bisa dilakukan dalam menyeimbangkan energi pada pakan.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Riset pada majalah Poultry Indonesia edisi Agustus 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Agustus 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com