Rumput laut coklat kebanyakan tumbuh secara alami dan belum banyak di berdayakan menjadi bahan yang bernilai ekonomi. (Sumber: i3l.ac.id)
Oleh : Prof. Dr. Ir. Maria Endo Mahata*
Indonesia sebagai salah satu negara maritim memiliki keanekaragaman rumput laut   yang mencapai 6,42% dari total biodiversitas rumput laut dan memiliki sekitar 782 jenis rumput laut. Jenis rumput laut coklat (Phaephyceae) banyak ditemukan di perairan laut Indonesia dengan spesies yang beraneka ragam, diantaranya Sargassum sp, Turbinaria sp, dan Padina sp
Selain diolah menjadi garam berkadar natrium rendah, ternyata komoditi ini dapat diandalkan sebagai bahan pakan alternatif unggas, yakni rumput laut coklat.
Rumput laut coklat ini kebanyakan tumbuh secara alami, dan belum banyak di berdayakan menjadi bahan yang bernilai ekonomi. Saat ini pemerintah melalui Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional) meluncurkan program Blue Economy yaitu suatu program untuk mengoptimalkan modalitas sumber daya kelautan untuk transformasi ekonomi Indonesia. 
Program ini menjadi trigger bagi peneliti di bidang nutrisi dan makanan ternak untuk menggali dan meneliti potensi rumput laut coklat di perairan laut Indonesia untuk dijadikan bahan pakan ternak unggas. Hal ini sekaligus upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan pakan impor.
Keunggulan rumput laut coklat sebagai bahan pakan unggas di samping mengandung zat-zat gizi, juga mengandung beberapa jenis zat bioaktif seperti alginat, fukoidan, fukosantin, dan asam lemak tak jenuh (Poly-Unsaturated fatty acid/PUFA) yang dilaporkan memiliki aktivitas hipokolesterolemik, antiviral, antibiotik, anti-inflamatori, anti-trombin, antikoagulasi, antilipemik, dan stimulan. Zat bioaktif tersebut sangat bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan dan kualitas produk yang dihasilkan oleh unggas.
Penulis bersama rekan-rekan peniliti telah meneliti beberapa jenis rumput laut coklat yaitu Sargassum binderi, Sargassum crassifolium, Padina australis, Turbinaria decurens, Turbinaria crassifolium serta pengolahannya untuk bahan pakan broiler dan petelur sejak tahun 2015 sampai sekarang. Pilihan jenis rumput laut coklat yang diteliti tersebut karena ketersediaannya berlimpah di wilayah pantai Sumatera Barat terutama di pantai nagari Sungai Nipah Kabupaten Pesisir Selatan, sehingga rumput laut mudah didapat. 
Hasil analisa laboratorium terhadap zat bioaktif alginat yang terdapat pada masing-masing rumput laut coklat yang tersebut terlihat pada Padina australis mengandung 22.81% alginat, Turbinaria decurens 7,70%, Turbinaria murayana 8,03 %, Sargassum binderi 11,51%, dan Sargassum crassifolium 8,65%.
Penulis bersama rekan-rekan peniliti pun mencoba memberikan rumput laut coklat yang telah diturunkan kadar garamnya pada ransum broiler dan petelur. Rumput laut Turbinaria murayana diberikan dalam ransum broiler dengan level berbeda 0 ; 2,5 ; 5,0 ; 7,5 dan 10%, dan pemberian pada level 10% dapat menggantikan penggunaan dedak sampai 100%, dan mengurangi pemakaian jagung sampai 8% dalam ransum. 
Hasil percobaan pada broiler yang diamati selama empat minggu sangat menggembirakan, rumput laut Turbinaria murayana dapat dimanfaatkan broiler sampai level 10% dalam ransumnya dengan perolehan konsumsi ransum 72g/ekor/hari, pertambahan berat badan 41,96 g/ekor/hari, dan konversi ransum 1,72. Begitu pula dengan bobot hidup yang diperoleh, yaitu 1335,75g/ekor, persentase karkas 72,68%, dan berat organ-organ fisiologis yang dipersentasekan dari bobot hidup diperoleh untuk organ hati 1,96%, pankreas 0,25%, dan usus 2,26% yang setara dengan perlakuan ransum yang tidak diberi rumput laut. *Dosen Fakultas Peternakan, Universitas Andalas
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Mei 2022 dengan judul “Peluang Rumput Laut Coklat Sebagai Bahan Pakan Broiler dan Ayam Petelur. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153