Webinar dalam rangkaian acara USSEC Southeast Asia Animal Protein Technical Broadcast 2022
POULTRYINDONESIA, JAKARTA – U.S. Soy Export Council (USSEC) untuk kawasan ASEAN kembali menggelar webinar dalam rangkaian acara USSEC Southeast Asia Animal Protein Technical Broadcast 2022. Webinar ini merupakan acara kedua dari serentetan acara tersebut. Pada webinar seri ke-2 yang digelar pada Selasa, (15/2) ini, USSEC mengusung tema Understanding U.S. Soy Processing and Quality Control Application.
Baca juga : USSEC Gelar Webinar Bahas Pasokan, Kualitas, dan Transportasi Kedelai AS
Pemaparan pertama disampaikan oleh Gordon Denny sebagai General Manager, Gordon Denny, LLC. Pada kesempatannya, Gordon menyampaikan, kedelai merupakan suatu komoditi penting di sektor peternakan. Hal itu dikarenakan padatnya kandungan nutrisi yang terkandung pada kedelai, seperti kandungan protein, asam amino esensial dan energi. Dalam hal ini, Amerika Serikat sebagai produsen kedelai terbesar di dunia dengan produksi 120 juta metrik ton, memiliki andil yang besar untuk terus meningkatkan kualitas komoditi tersebut.
“98% dari 120 juta metrik ton kedelai kedelai yang diproduksi oleh Amerika Serikat digunakan sebagai bahan pakan ternak. Itu disebabkan bungkil kedelai merupakan bahan pakan sumber protein. Sehingga peningkatan kadar protein kedelai di Amerika Serikat mendapatkan respon positif dari para pelaku usaha pengolah dan nutrisionis. Pengolah rela membayar lebih untuk sebuah kedelai yang berkualitas tinggi karena protein tambahan lebih berharga bagi mereka, dan itu merupakan tujuan Amerika Serikat,” papar Gordon.
Masih dalam acara yang sama, Dr. Chad Paulk selaku Assistant Professor of Feed Science and Management dari Kansas State University, menjelaskan bahwa kualitas bungkil kedelai tiap negara memiliki kualitas yang berbeda-beda. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh beberapa faktor, yakni adanya pengaruh cuaca, penanganan, dan fasilitas penyimpanan serta teknik pengolahan. Amerika Serikat sebagai negara produsen bungkil kedelai terbesar di dunia, memiliki fasilitas penghancuran yang canggih, sistem pasca panen dan transportasi yang efisien, serta fasilitas penyimpanan yang modern.
“Kedelai harus diolah dengan memisahkan antara minyak kedelai dan bungkil kedelai untuk meningkatkan kualitas dan nilai ekonomi dari kedelai tersebut. Pengolahan pada kedelai bertujuan untuk mereduksi anti-nutitional factors (ANF), dan memudahkan protein untuk dicerna, juga untuk menigkatkan daya terima hewan terhadap kedelai tersebut. Pengolahan tersebut bisa dilakukan dengan expeller atau memisahkan minyak dengan cara pressing kedelai, dan bisa juga dengan dry extruder atau memanaskan kedelai yang kemudian terjadi pemecahan dinding sel untuk ekstraksi minyak,” tutur Chad.
Lebih lanjut, Chad mengingatkan bahwa kualitas bahan pakan harus dipertahankan di seluruh siklus rantai produksi. Mulai dari pengolahan pasca panen, transportasi ke pabrik pakan yang harus higienis, manajemen penataan gudang pakan, hingga sampai kepada tingkat konsumen akhir.