Kegunaan putih telur sebagai agen kelasi timbal
Oleh: Dr. drh. Aulia Andi Mustika, M.Si, dkk
Timbal (Pb) merupakan jenis logam berat yang sering ditemui di kehidupan sehari-hari karena kemudahannya untuk ditempa, titik lelehnya yang rendah, tahan korosi, murah, dan banyak ditemukan. Timbal sering digunakan dalam pembuatan pipa air, baterai, peluru, pemberat solder, cat, zat aditif bahan bakar, dan tameng radiasi. Sejak abad ke 19, penggunaan timbal mulai dikurangi setelah ditemukannya sifat racun dalam timbal.
Kontaminasi timbal dapat terjadi pada tubuh hewan maupun manusia. Keracunan ini tanpa disadari umumnya berasal dari akivitas sehari-hari, mulai dari terhirupnya asap kendaran maupun industri yang menjadi sumber polusi udara terbesar akibat timbal, kontak langsung dengan timbal, mengonsumsi makanan maupun minuman yang tercemar timbal, serta tertelan akibat adanya peralatan yang tercemar timbal. Akumulasi akibat paparan timbal tersebut dapat menimbulkan keracunan akut maupun kronis akibat timbal, bahkan dapat menyebabkan kematian.
Efek keracunan timbal secara akut dan sub akut terjadi akibat paparan dosis yang relatif tinggi, waktu paparan yang relatif singkat, baik dalam hitungan hari atau bulan. Gejala yang ditimbulkan oleh keracunan timbal akut yaitu kematian yang tiba-tiba, keram perut parah, anemia, perubahan perilaku, dan kehilangan nafsu makan. Keracunan timbal kronis akibat paparan timbal berangsur-angsur dalam waktu yang lama, yaitu kurun waktu bulan maupun tahun. Menurut Pokras dan Kneeland (2009), keracunan timbal kronis pada manusia menimbulkan penurunan fungsi reproduksi, keguguran, kelahiran prematur, penurunan kemampuan kognitif, hipertensi, gangguan kardiovaskuler, dan gangguan fungsi ginjal.
Baca Juga : Perbandingan Berbagai Jenis Ayam Petelur Cokelat Hasil RST 2018
Keracunan timbal pada hewan sering ditemukan di seluruh dunia. Khan et al. (2008) melaporkan jenis hewan domestik seperti yang dapat mengalami keracunan timbal yaitu kuda, anjing, dan unggas. Ayam ras pedaging (broiler) memiliki kerentanan tinggi terhadap keracunan timbal, yang dapat menurunkan bobot badan secara signifikan. Berdasarkan laporan Erdogan et al. (2005), 200 mg timbal/kg dalam pakan dapat menurunkan bobot badan, performa yang buruk, serta dapat menimbulkan kematian. Laporan lainnya oleh Bakali et al. (1995) menyebutkan bahwa penurunan feed conversion ratio (FCR) secara signifikan terjadi pada 10 mg timbal/kg pakan. Gejala klinis lainnya yang timbul akibat keracunan pada unggas yaitu kelemahan, ataksia (inkoordinasi gerakan otot), anoreksia (tidak mau makan), bentuk feses yang abnormal atau terdapat darah dalam feses, diare berwarna hijau kehitaman, banyak minum (polydipsia), head tilt (posisi kepala yang miring ke salah satu sisi saja), kejang, dan kebutaan (Suganya et al. 2016).
Tindakan medis untuk menanggulangi terjadinya keracunan akibat timbal yaitu dengan melakukan terapi kelasi (chelation). Agen kelasi mampu mengikat ion logam berat dari dalam sel dan luar sel dengan membentuk struktur kompeks dan mudah dieksresikan keluar tubuh. Terdapat berbagai macam agen kelasi yang telah terbukti efektivitasnya yaitu asam kalsium disodium etilendiamin tetraasetik (CaNa2EDTA), kalsium trisodium DTPA, british anti lewisite (BAL), unithiol, etilendiamin tetraaserik (EDTA), penisilamin, dan sukimer. Agen kelasi ini dapat diberikan secara perenteral (injeksi), inhalasi, maupun oral, tergantung dari jenis sediaannya.
Permasalahan yang dihadapi terhadap sediaan agen kelasi yaitu sediaan yang tersedia di rumah sakit berupa sediaan injeksi yang harus memerlukan penanganan ahli dan agen kelasi oral harus diperhatikan dosis pemakaiannya. Tak jarang pengguna juga sulit menjangkaunya akibat terbentur harga yang terbilang mahal, memerlukan resep dokter, serta persediaanya yang tidak selalu ada. Hal ini menyebabkan penanganan keracunan timbal pada hewan maupun manusia tidak dapat ditangani secara cepat, sehingga menimbulkan peningkatan absorpsi maupun akumulasi timbal di dalam tubuh yang dapat menyebabkan terjadinya kematian.
Masalah tersebut menjadikan pencarian alternatif untuk pengobatan keracunan timbal yang efektif, murah, dan mudah didapat terus dilakukan. Telur unggas merupakan salah satu alternatif potensial yang dapat dijadikan sebagai agen kelasi karena adanya kandungan protein yang mampu berikatan dengan logam berat seperti timbal. Menurut (Jalaludeen dan Churchil 2006), putih telur memiliki kandungan protein yang tinggi. Telur unggas juga memiliki sejumlah potensi, seperti mendukung perkembangan otak anak, antikanker, bahan penjaga kesehatan mata, antialergi, dan mencegah pengerasan pembuluh darah (arteriosclerosis).
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi Oktober 2019 dengan judul “Pemanfaatan Putih Telur Unggas untuk Mengatasi Keracunan Timbal”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153