Oleh : Dananjaya Soeherman*
Biaya pakan merupakan komponen terbesar dalam proses budi daya ayam ras. Tentu pakan yang berkualitas akan menghasilkan respons performa ayam yang baik. Namun, selain pakan yang berkualitas, tingkat kecernaan pakan yang optimal juga harus diperhatikan oleh para peternak. Penulis melihat, terlalu banyaknya jumlah mikroorganisme jahat yang ada di dalam saluran pencernaan seringkali menjadi penyebab kurang optimalnya kemampuan ayam dalam mengabsorbsi nutrien pakan.
Tanaman herbal lokal mempunyai potensi besar untuk dikembangkan sebagai feed additive pada pakan ayam. Hal ini diharapkan dapat menjadi alternatif subtitusi dari AGP yang penggunaannya telah dilarang.
Dalam upaya mengantisipasi hal tersebut, biasanya peternak akan memberikan feed additives (imbuhan pakan) dalam pakannya. Feed additive merupakan suatu bahan yang ditambahkan dalam jumlah sedikit yang bertujuan untuk meningkatkan nilai kandungan zat nutrien agar dapat memenuhi kebutuhan tertentu pada ayam. Selain itu feed additive juga dapat digunakan untuk memacu pertumbuhan, dalam hal ini membantu dalam meningkatkan produktivitas ternak, tergantung maksud dan jenis bahan tambahan yang diberikan.
Selama ini, salah satu feed additive yang sering digunakan berasal dari bahan non organic seperti AGP (Antibiotic Growth Promoter). Akan tetapi, penggunaan AGP telah lama dilarang di dalam dunia peternakan. Penambahan feed additive dalam bentuk AGP tersebut kurang terjamin aspek keamanannya karena dapat menimbulkan residu yang apabila dikonsumsi dapat membahayakan kesehatan serta dikhawatirkan dapat menimbulkan resistensi antibiotik bagi manusia.
Merespons fenomena tersebut, telah banyak penelitian terkait feed additive berbahan dasar tanaman herbal lokal atau fitobiotik untuk menggantikan peran AGP. Salah satu inovasi terkait dengan feed additive tanaman herbal lokal tersebut adalah dengan penambahan ekstrak tanaman sambiloto. Sambiloto yang memiliki nama latin Andrographis paniculata nees merupakan salah satu jenis tanaman obat yang sering digunakan untuk bahan baku obat tradisional.
Sambiloto memiliki kandungan antibakteri yang dapat menghambat perkembangan bakteri, seperti halnya E. coli. Berdasarkan publikasi ilmiah yang ditulis oleh Hertamawati dkk (2019) menyatakan bahwa pemberian tepung daun sambiloto pada pakan ayam ras pedaging dengan level 0,6% dapat menghambat pertambahan jumlah bakteri, sehingga mampu meningkatkan performa produksinya.
Selain itu dalam penelitian yang dilakukan oleh Rachmawati dan Hamid (2006), menyebutkan bahwa ekstrak daun sambiloto efektif dapat menekan kandungan residu aflatoksin dalam hati itik. Bahan pakan yang telah tercemar oleh kapang akan berkurang kualitasnya dan apabila dikonsumsi oleh ayam dapat membahayakan kesehatan sehingga dapat menurunkan produktivitasnya.
Penulis berpendapat bahwa feed additive dari tanaman herbal lokal bukan hanya dari ekstrak daun sambiloto saja. Bahan herbal lain seperti ekstrak temulawak, temu kunci, kunyit, dan bawang putih dapat digunakan sebagai feed additive dengan tujuan kegunaan masing-masing yang sesuai dengan kandungannya. Inovasi feed additive dari tanaman herbal ini perlu dikembangkan dan dikenalkan kepada peternak karena kebermanfaatannya yang baik dalam meningkatkan produktivitas ternak dan dapat mencegah berkembangannya penyakit. *Mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Maret 2021 dengan judul “Pemanfaatan Tanaman Sambiloto sebagai Imbuhan Pakan”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153
Menyukai ini:
Suka Memuat...