POULTRYINDONESIA, Jakarta – Kesejahteraan hewan (kesrawan) menjadi isu yang semakin kuat disorot oleh banyak negara di berbagai belahan dunia, tak terkecuali Indonesia. Hal tersebut menuntut seluruh pemangku kepentingan di sub sektor peternakan, untuk tidak hanya fokus pada produksi ternaknya semata, namun juga perlu memerhatikan aspek kesrawan dalam usahanya. Seiring berjalannya waktu, isu ini telah diterapkan pada peternakan layer, dimana peternak di berbagai belahan benua, termasuk Asia mulai menggunakan sistem pemeliharaan tanpa sangkar dalam budidayanya.
Baca juga : Fapet UGM Kembangkan Pusat Pelatihan Ayam Petelur Sistem Kandang Umbaran
Berangkat dari hal tersebut, ILDEX Indonesia 2021 bekerja sama dengan Global Food Partners menyelenggarakan webinar bertema “Supporting Cage-Free Egg Producers in Indonesia”. Dalam acara yang digelar secara daring melalui aplikasi Zoom, Kamis (25/11) ini banyak dibicarakan terkait model dari pemeliharaan ayam petelur tanpa sangkar, model pembiayaan serta tren perkembangan pemeliharaan ayam petelur tanpa sangkar.
Hannah Lum, Scientific Officer Global Food Partners menjelaskan bahwa sistem bebas sangkar yang dirancang dan dikelola dengan baik memungkinkan ayam untuk melakukan perilaku alami mereka termasuk berjalan, bertengger, mandi debu, mencari makan, dan bertelur di sarang. Dalam penerapannya terdapat beberapa tipe kandang dalam sistem pemeliharaan ayam bebas sangkar yaitu floor based, aviary systems dan free range.
“Dalam sistem budi daya floor based mempunyai ciri khas hanya memiliki satu tingkat lantai, seperti rumah satu tingkat. Kemudian untuk aviary systems disediakan beberapa tingkat di dalam kandang untuk ditempati oleh ayam. Aviary systems biasanya digunakan untuk produksi skala besar dan merupakan pilihan bagi peternak yang ingin beralih dari kandang baterai ke model kandang bebas sangkar. Dalam pemeliharaan sistem ini penggunaan lahan bisa dimaksimalkan karena memanfaatkan ruang vertikal. Terakhir pada sistem free range, pemeliharaan dilakukan secara umbaran,” jelasnya.
Dalam pemaparannya Hannah juga menggambarkan terkait hasil penelitian yang telah dilakukan oleh pihaknya kepada 224 produsen telur di Indonesia, Thailand, Malaysia, China, Jepang dan Filipina. Berdasarkan hasil penelitiannya, tercatat 30 persen produsen telur di Indonesia menilai bahwa pemeliharaan ayam dengan sistem bebas sangkar tidak layak untuk diaplikasikan, 50 persen menjawab mungkin, serta 10 persen menilai layak untuk diaplikasikan.
“Dari hasil penelitian alasan utama produsen ingin berpindah ke pemeliharaan bebas sangkar untuk meningkatkan kesrawan, menargetkan pasar spesifik dan penghematan biaya,” tutur Hannah.