Dalam usaha budi daya broiler, pakan merupakan biaya terbesar yang harus dikeluarkan oleh peternak. Selain itu, pakan juga merupakan faktor yang cukup berpengaruh, karena berdampak secara langsung terhadap produktivitas ternak disamping faktor manajemen pemeliharaan. Untuk itu pakan yang sesuai dengan kebutuhan ayam, baik dari segi gizi dan proporsi penting untuk dipenuhi guna mendorong performa ternak yang maksimal.

Sebagai upaya untuk mencapai produksi yang maksimal, broiler harus diberi pakan dengan kandungan gizi yang sesuai dengan kebutuhannya. Pemberian pakan yang kurang atau berlebih berdampak secara langsung terhadap performa ternak

Hal senada disampaikan oleh Muhammad Adyataruna Salam, selaku Research and Development Farmsco Feed Indonesia. Dirinya menjelaskan bahwa pemenuhan kebutuhan nutrisi pada pemeliharaan unggas sangatlah penting, terlebih apabila berbicara terkait broiler yang secara genetik telah diatur sedemikian rupa oleh breeder sehingga pertumbuhan dan produksinya sangat cepat.
“Analogi kasarnya broiler itu ibarat supercar, seperti ferrari atau lamborghini yang mempunyai potensi kecepatan besar, namun tidak akan tercapai apabila tidak didukung dengan asupan bahan bakar yang benar. Begitu pun pada broiler, performa potensi genetik yang baik tidak bisa keluar secara maksimal, apabila kebutuhan nutrisi pakannya tidak terpenuhi,” jelasnya kepada Poultry Indonesia, melalui aplikasi Zoom, Kamis (11/11).
Oleh sebab itu, sebagai upaya untuk mencapai produksi yang maksimal, broiler harus diberi pakan dengan kandungan gizi yang sesuai dengan kebutuhannya. Kelebihan atau kekurangan dalam pemberian gizi dalam pakan akan berpengaruh terhadap broiler tersebut.
Contoh sederhana, faktor pertumbuhan yang paling dasar adalah energi dan protein, apabila dalam pakan kandungan protein dan energinya kurang, pasti dapat menghambat tingkat pertumbuhan broiler. Sedangkan apabila diberikan dalam jumlah lebih, juga akan memberikan dampak yang kurang bagus untuk ayam. Protein kasar yang berlebih dapat menyebabkan emisi amonia dalam kotoran lebih tinggi, sehingga akan lebih berbau, dan memungkinkan untuk perkembangan bakteri serta mencemari lingkungan. Selain itu sifat panas pada amonia dapat membuat kasus memar pada kaki dan dada ayam.
Baca juga : Manajemen Pemanenan dan Penanganan Telur Ayam
Adya melanjutkan bahwa tren pengembangan pakan saat ini mengarah kepada low protein diet, dimana pakan diusahakan mengandung protein kasar lebih rendah dari yang biasa digunakan. “Justru perkembangannya di pakan, langsung mengarah pada pemenuhan kebutuhan asam amino, bukan lagi berdasarkan protein kasarnya,” terangnya. 
Disisi lain,  pemberian energi yang berlebih dalam pakan, juga berdampak kurang baik pada ayam. Pasalnya energi merupakan faktor pembatas konsumsi pada ayam, apabila energi dalam pakan terlalu banyak, maka konsumsi pakan ayam akan lebih sedikit. Pada kondisi ini, apabila nutrisi lain belum terpenuhi, maka dapat mengganggu pertumbuhan pada ayam.
Manajemen pemberian pakan
Idealnya, pemberian pakan pada pemeliharaan broiler didasarkan pada standar kebutuhan nutrisi setiap fase kehidupannya. Terdapat beberapa fase dalam program pemberian pakan yang umum dikenal oleh peternak, yakni prestarter, starter dan finisher. Dalam kasus ini Adya melihat bahwa dengan bobot panen ayam hidup di Indonesia yang berkisar kurang lebih 2 kg, maka idealnya bisa menggunakan 3 feeding system. Namun realita di lapangan banyak yang menerapkan dua fase pemberian pakan bahkan  satu fase pemberian pakan.
“Dengan berbagai alasan, seperti kepraktisan, ketersediaan, tantangan stok dan biaya, peternak banyak menggunakan dual feeding system atau bahkan single feeding system. Sebenarnya untuk dua fase, misal prestarter kemudian dilanjut dengan starter atau finisher hingga panen tidak masalah. Namun kalau satu fase kurang disarankan, terlebih dengan menggunakan pakan starter untuk DOC dengan paruh yang masih kecil, maka kurang cocok,” jelasnya. Selain itu, program pemberian pakan ini biasanya juga didasarkan oleh target bobot badan ketika panen yang secara otomatis berkorelasi dengan lama waktu pemeliharaan.
Lebih lanjut, Adya menyoroti bahwa pada fase awal pertumbuhan atau biasa dikenal dengan prestarter, penting untuk memperkenalkan pakan kepada ayam. Pemberian pakan tersebut harus dilakukan segera dan perlu menghindari menunda memberi pakan pada DOC. Untuk memudahkan pengenalan pakan kepada anak ayam, sebaiknya ditambahkan juga tempat pakan tambahan yang biasanya dengan kertas yang ditempatkan di antara tempat pakan utama dengan tempat minum.
Hindari peletakan tempat pakan tambahan di bawah alat pemanas, karena suhunya akan panas dan bisa membuat ayam enggan untuk menghampiri pakan tersebut. Selain untuk memudahkan ayam mengetahui pakan, tempat pakan tambahan dari kertas ini juga untuk menghindarkan luka pada kaki DOC yang disebabkan oleh sekam.
Baca juga : Maksimalkan Potensi Bahan Pakan dengan Formulasi yang Tepat
Kemudian, juga harus diperhatikan bentuk dan ukuran pakan yang akan diberikan pada setiap fasenya. Hal ini berdasarkan dengan kemampuan ayam untuk makan dan menelan sehingga dapat mengurangi waktu makan dan energi yang digunakan. Pemberian pakan yang kurang sesuai akan berdampak negatif pada konsumsi ayam pedaging.
Pada fase prestarter sebaiknya digunakan pakan mesh atau fine crumble. Kemudian pada fase starter digunakan pakan crumble atau mini pellet dan pada fase finisher digunakan pakan pellet dengan ukuran yang sesuai.
Selain itu, peralihan pakan pada setiap fase juga harus diperhatikan. Hal ini dikarenakan ayam akan mendapatkan pakan yang berbeda dalam hal bentuk serta kandungan nutrisi nya. Untuk itu, selama proses peralihan pakan, ayam memerlukan waktu adaptasi sehingga tidak terjadi penurunan feed intake yang dapat mengganggu pertumbuhan.
“Beberapa kali masih dijumpai peternak langsung mengganti 100 % pakan dan itu menyebabkan penurunan feed intake. Untuk itu juga perlu diperhatikan metode pergantian pakan agar pertumbuhan tidak terganggu. Pergantian pakan dapat dilakukan selama 4 hari. Semisal kita hendak mengganti pakan prestarter ke starter, maka perbandingan pakan prestarter dengan starter pada hari pertama peralihan yaitu 75% : 25%, hari kedua 50% : 50%, hari ketiga 25% : 75% dan selanjutnya pakan starter sudah bisa diberikan 100% pada hari keempat dan seterusnya,” terang Adya.
Ia melanjutkan bahwa dalam proses peralihan ini juga harus diperhatikan terkait jenis dan posisi tempat pakan. Menurutnya, tempat pakan harus diatur dan disesuaikan secara berkala untuk memastikan ayam dapat menjangkau pakan dengan mudah tanpa harus bersusah payah memanjat atau duduk terlebih dahulu. Ketinggian yang tepat untuk tempat pakan adalah sedikit di bawah leher ayam dihitung dari permukaan pakan di dalam tempat pakan.
Baca juga : Interaksi Koksidiosis Enteritis Nekrotikans
Di sisi lain, Adya mengaku bahwa di lapangan juga masih dijumpai peternak yang menghemat pakan, maka dengan harapan dapat membuat FCR-nya bagus. Contoh kasus, seharusnya kebutuhan ayam 50 gram, peternak hanya memberi pakan  40  gram. Hal ini bisa saja berlaku, namun apabila dalam penghematan pakan tersebut, tidak memperhatikan kebutuhan dari ayam, maka pertumbuhan atau produksinya juga rendah, sehingga membuat masa pemeliharaan lebih panjang.
Dirinya berharap bahwa para peternak dapat lebih memperhatikan kebutuhan pakan ternaknya, serta lebih memperbarui tingkat pemeliharaan pada peternakannya. “Karena saat ini kita memelihara ayam broiler modern yang updated secara genetiknya, maka ada baiknya SDM dan peternaknya pun juga bisa ditingkatkan, sehingga ketika potensi genetik ayam semakin bagus, kita pun juga bisa mengontrol dan mengoptimalkannya,” pungkas Adya.