POULTRYINDONESIA, Jakarta – Peternakan kambing dan domba dalam beberapa tahun mengalami kenaikan permintaan. Hal itu bersamaan dengan adanya kenaikan jumlah penduduk dan perkembangan dinamika pasar secara global. Tidak jarang, produk kambing dan domba memiliki peluang untuk dilakukannya ekspor.
Baca juga : Komoditas Perunggasan Masih Berpotensi untuk Tumbuh
Himpunan Peternak Domba-Kambing Indonesia (HPDKI) bersama dengan Kamar Dagang Indonesia (KADIN) menyelenggarakan webinar yang bertajuk “Inclusive Close Loop, Upaya Menaikkelaskan Peternak Domba Kambing” pada hari Kamis (10/03/2022) secara daring melalui platform ZOOM.
Yopi Safari, selaku moderator pada acara tersebut menyampaikan bahwa diperlukan program khusus yang terintegrasi sehinggad apat mengoptimalkan peternak kambing dan domba lokal untuk menghadapi persaingan secara global.
Menurut Musdhalifah Machmud, Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kemenko Bidang Perekonomian RI menjelaskan bahwa populasi domba dan kambing di Indonesia didominasi 60% di wilayah Jawa Barat. Hal itu diperkuat dengan pernyataan  Makmun, Sekretaris Jenderal Ditjen PKH yang menyampaikan bahwa adanya populasi domba kambing yang mengalami kenaikan jumlah, menjadikan peluang untuk ikut andil dalam pasar secara global.
“Populasi domba dan kambing di Indonesia didominasi 60% di wilayah jawa barat, hal tersebut membuka kesempatan untuk ikut andil dalam pasar secara global,” ujar Makmun.
Makmun menambahkan bahwa adanya kenaikan populasi merupakan hal yang sangat menguntungkan apabila dikelola dengan baik. Menurutnya diperlukan adanya sinergi yang merata baik dari sektor pemerintah maupun asosiasi.
“Diperlukan adanya sosialisasi dan pendampingan yang merata kepada para peternak untuk ikut menghasilkan produk kambing dan domba yang berkualitas” tambahnya.
Yudi Guntara Noor merespon pernyataan tersebut dengan pernyataan bahwa pada dasarnya peternakan kambing dan domba masih didominasi 90% dalam situasi sambilan. Menurutnya, dengan kondisi sambilan tersebut peternak tidak akan mengoptimalkan sistem manajemen pemeliharaan untuk menghasilkan produk yang berkualitas. Hal itu dikarenakan kondisi peternak saat ini kebanyakan masih dalam keadaan sambilan.
“Diperlukan dorongan yang kuat kepada masyarakat untuk menjadikan peternakan domba dan kambing sebagai pekerjaan pokok, bukan hanya sambilan,” ucapnya.
Masih dalam acara yang sama, Nancy Adistyasari, selaku perwakilan dari Direktur Bank BJB mengaku bahwa bank BJB telah membantu banyaknya peternakan kambing dan domba yang tersebut di Indonesia dengan bantuan pinjaman finansial untuk kebutuhan pengembangan peternakan. Menurutnya, bank BJB melakukan analisis yang mendalam sebelum memfasilitas peternak lokal melalui off-taker yang menaungi peternakan tersebut sehingga terdapat kepastian perputaran modal dengan jelas. Hal itu disusul dengan pernyataan Miftah, selaku perwakilan dari OJK yang turut membantu keuangan peternak melalui sektor pinjaman bukan bank.
“Analisis keuangan merupakan hal penting yang harus dilakukan bagi peternak untuk memastikan perputaran modal dapat terarah dengan baik,” ujar Nancy.
Selanjutnya menurut Agus selaku praktisi peternak domba dan kambing, juga menjelaskan bahwa dinamika harga di lapangan yang dapat berubah dengan cepat seiring perjalanan waktu sehingga membuat peternak lebih memilih untuk menjadikan komoditas kambing dan domba hanya sebatas sambilan.